• Menjadi Seorang Guru

    Sudah tiba waktunya mengisi Rubrik Umum! Rada bingung juga aku, mencari tulisan apa yang bisa kumuat. Selama beberapa jam terakhir, aku membaca-baca ulang koleksi artikel di laptop, yang pernah kutulis sejak beberapa tahun terakhir. Aku menemukan beberapa tulisan dari zaman kuliah, dari zaman alay, hingga beberapa laporan hasil penelitian yang belum diterbitkan. Hmmm, yang mana yang bisa kumasukkan di Rubrik Umum?

    Akhirnya, kutemukan sebuah tulisan yang membuatku tercenung cukup lama. Tulisan ini membuatku merefleksikan apa yang benar-benar kuinginkan dalam hidup.

    Tulisan yang kumaksud ialah naskah yang dulu kukirim sebagai persyaratan mendaftar beasiswa LPDP. Dalam naskah ini, aku menulis tentang pilihanku menjadi seorang guru.

    Ketika membacanya, aku tersadar kembali bahwa menjadi seorang guru ialah impianku. Memang jalan ini tidak mudah, tetapi bagiku, jalan inilah yang paling memuaskan dan memberikan ketenteraman batin dari sekian jalan yang pernah kucoba dan kupilih.

    Inilah artikelku yang dulu kutulis untuk persyaratan mendaftar beasiswa LPDP. Artikel ini kudedikasikan untuk Pak Kasiyanto, guru SD-ku, salah satu guru “terbesar” dalam hidupku.


    PERANKU BAGI INDONESIA
    Oleh: Michael Seno Rahardanto, M. A.

     

    Sejak kecil, saya ingin menjadi guru. Bagi saya, profesi ini luhur karena memiliki dampak langsung dan  jangka panjang dalam hidup manusia. Minat menjadi guru muncul karena kekaguman saya pada Pak Kasiyanto, guru sekolah dasar saya, yang membimbing saya meraih Juara 2 Lomba Bidang Studi Ilmu Pengetahuan Alam Tingkat Nasional, pada tahun 1993. Saya sungguh terbantu oleh dorongan dan bimbingannya. Pak Kasiyanto dikenal guru yang disiplin, namun bertangan dingin. Banyak anak didik beliau yang berhasil mencapai sukses pada masa depan. Beliaulah agen perubahan yang sejati. Sekarang, Pak Kasiyanto telah tiada, namun dedikasi dan karakter beliau masih tertanam kuat di benak saya.

    Setelah mencapai derajat sarjana pada tahun 2008, saya bekerja menjadi editor dan penerjemah buku teks perguruan tinggi di penerbit Erlangga, Jakarta. Profesi tersebut memunculkan kembali kerinduan yang kuat terhadap dunia akademis, yang mendorong saya melanjutkan kuliah pascasarjana di Universitas Gadjah Mada, almamater saya. Setelah lulus pascasarjana (puji Tuhan dengan predikat lulusan terbaik) pada tahun 2012, saya mulai merintis cita-cita yang saya inginkan sejak SD, yakni menjadi seorang guru.

    Saya pun akhirnya menjadi guru—dosen—di Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Profesi ini saya hayati sebagai panggilan yang memungkinkan saya menjadi agen perubahan, bagi Indonesia. Tridharma perguruan tinggi (mengajar,  meneliti, mengabdi masyarakat) merupakan sarana yang saya pilih untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Melalui mengajar, saya bisa membantu anak-anak didik yang saya mampu menjadi manusia yang lebih baik. Setiap wawasan yang saya kembangkan, setiap benih sikap saling menghormati yang saya tanamkan, setiap kecintaan kepada ilmu pengetahuan yang saya suburkan, akan dibawa para murid saya ke tempat manapun mereka pergi dan berkarya. Melalui penelitian, saya bisa menyumbangkan wawasan-wawasan untuk memperkaya khasanah keilmuan bangsa. Melalui pengabdian masyarakat, saya menerapkan  hasil-hasil penelitian menjadi karya nyata untuk meningkatkan kualitas hidup orang lain. Saya percaya, saya bisa menyumbangkan hal-hal baik untuk Indonesia melalui penerapan tridharma secara konsisten.

    Proses perkuliahan yang saya lakukan tidak melulu berupa ceramah, namun melibatkan berbagai aktivitas yang menarik bagi mahasiswa. Sebagai contoh, saya—dibantu beberapa mahasiswa dari fakultas teknik—membuat alat cerdas cermat, lengkap dengan lampu dan bel. Saya menggunakan alat tersebut dalam perkuliahan, entah untuk memperkenalkan materi baru, pengayaan materi, maupun untuk review materi satu semester. Para mahasiswa menyukainya. Terlebih lagi, mereka mampu menyerap ilmu dengan baik melalui penggunaan metode semacam itu.

    Selain itu, saya terkadang membawakan materi menggunakan boneka tangan. Saya mengubah-ubah suara saya, menirukan suara hewan, membawakan materi sambil mendongeng. Saya meminta para mahasiswa, dalam kelompok, merancang dongeng boneka mereka sendiri, yang mereka bisa pentaskan kepada khalayak. Ternyata sekelompok mahasiswa menjadi jatuh cinta dengan dunia dongeng. Mereka membentuk kelompok mendongeng, berlatih secara mandiri, dan akhirnya mendongeng untuk anak-anak dalam acara Hari Anak Nasional di sebuah kampung di Surabaya. Semangat menjadi agen perubahan sudah mereka bawa dan tanamkan satu sama lain secara mandiri.

    Semenjak saya menjadi dosen, saya mengemban beberapa tugas struktural. Saat ini saya mengemban tanggung jawab sebagai dosen pendamping kemahasiswaan fakultas dan dosen pendamping Lembaga Pers Mahasiswa Universitas. Saya juga mengemban tanggung jawab sebagai pemimpin redaksi jurnal fakultas, anggota tim gugus jaminan mutu fakultas, dan anggota tim layanan informasi universitas. Saya bersyukur bahwa dalam posisi-posisi ini, saya memiliki kesempatan membuat perubahan. Contohnya, dalam posisi sebagai dosen pendamping kemahasiswaan, saya membantu para mahasiswa merumuskan tema LKMM (Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa) tahun 2015, yaitu “Be An Agent of Change!” Saya menjelaskan pada para mahasiswa, LKMM bukan sekedar program. Melalui keterlibatan sebagai panitia LKMM, mereka bisa melatih adik-adik angkatannya menjadi agen-agen perubahan. Tindakannya bisa sesederhana membuat poster, kaos, leaflet, atau brosur yang berisi pesan-pesan positif, misalnya pesan mengajak generasi muda untuk menghindari narkoba. Dengan cara seperti itu, mereka sudah terlibat sebagai agen perubahan, untuk membantu mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

    Saya teringat Bunda Teresa dari Kalkuta pernah berkomentar bahwa ‘kita belum tentu bisa melakukan hal-hal besar, tapi kita pasti bisa melakukan hal-hal kecil dengan semangat yang besar’. Saya belum tentu bisa melakukan hal-hal besar, namun saya bisa melakukan tugas-tugas harian saya dengan semangat yang besar. Inilah peran saya bagi Indonesia: Menjadi agen perubahan melalui tridharma perguruan tinggi yang berlandaskan kedisiplinan pribadi untuk secara konsisten mengasah karakter yang jujur, peduli pada lingkungan, dedikasi terhadap tugas, dan antusias dalam berkarya. Ketika saya merenungkan komitmen ini, saya bisa membayangkan Pak Kasiyanto tersenyum dan menepuk pundak saya, seperti dulu.


     

    Penutup:

    Untuk rekan-rekanku yang juga berkarya dan mengabdi sebagai guru,

    Semoga kalian menemukan indahnya menjadi guru. Mungkin profesi ini dipandang tidak glamor, tidak bergelimang materi. Memang, profesi guru bukan ditujukan untuk orang yang “ingin cepat kaya”. (Walau faktanya, guru yang rajin dan beprestasi juga bisa menuai banyak sekali rezeki!). Yang penting, kawan-kawanku, lewat profesi ini, kita menyentuh langsung hidup manusia, lewat kata-kata, lewat tindak-tanduk, dan lewat doa-doa kita. Pengaruh yang kita berikan ke anak-anak didik kita bisa dibawanya bertahun-tahun, bahkan diwariskannya ke anak-anaknya sendiri, kelak. Pengaruh seorang guru bisa berlanjut hingga ke keabadian!

    Selamat berkarya dan mengabdi. Kiranya Tuhan memberkati usaha & niat baik kita. Amin.

     

     

    Surabaya, 22 November 2015

    Persiapan tugas pelayanan pendidikan ke Kupang, Maumere, Lela, dan Ende.

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: