• A Land Down Under (Part I)

    Opera house and harbour bridge (Sumber: Dok.Pribadi M. Johan Alibasa)

    Tidak terasa satu setengah tahun telah berlalu semenjak saya menginjakkan kaki pertama kali di Sydney, Australia. Sepanjang waktu itu, banyak kejadian positif dan negatif yang telah berlalu. Kejadian positif dari selesainya probation period untuk program doktor saya sampai berhasilnya proses adaptasi di lingkungan baru. Selain itu, banyak hal negatif yang telah terjadi misalnya saya harus mengulang proposal riset karena hasil yang kurang baik di pilot studi saya. Semua kejadian ini tentunya juga dirasakan kurang lebih sama seperti awardee-awardee LPDP yang lain. Oleh karena itu, mungkin kurang tepat bila tulisan ini lebih banyak berisi keluh kesah seputar kehidupan saya. Akan tetapi, saya mohon izin dan maaf apabila ternyata banyak berisi komentar subjektif di tulisan ini.

    Kurang lebih satu setengah bulan yang lalu saya kembali ke Indonesia selama kurang dari dua minggu. Kebetulan pada saat itu ada acara silaturahmi keluarga besar di rumah orangtua saya sehingga saya berkesempatan untuk bertemu dengan keluarga besar dari pihak ibu. Beberapa dari mereka mengetahui kalau saya sedang melanjutkan studi di Sydney dan tentunya mereka memberikan banyak pertanyaan untuk saya selain tentunya pertanyaan “Mana oleh-olehnya?”. Alasan mengapa saya menyinggung soal pertanyaan-pertanyaan tadi adalah karena isi dari tulisan ini kurang lebih adalah jawaban dari saya terhadap pertanyaan tersebut.

    “Bagaimana kondisi di sana?”

    Adanya musim dingin adalah salah satu hal yang paling berbeda antara Indonesia dan Aussie. Bahkan, musim panas di sini pun cukup berbeda dengan Indonesia. Faktor yang menjadi pembeda di sini adalah perbedaan kelembaban udara yang cukup besar. Pada musim panas sekalipun, jarang sekali kulit kita berkeringat apalagi pada saat musim dingin. Jangan heran kalau di sini kita tidak mandi pun sebenarnya tidak masalah karena kita tidak berkeringat sama sekali di musim dingin. Ditambah lagi, kulit kita akan semakin kering dengan kita mandi karena kelembaban kulit karena keringat terangkat oleh sabun mandi kita. Untungnya, di sini  musim dinginnya tidaklah ekstrim sehingga adaptasi suhu tidaklah terlalu signifikan. Hanya saja perlu berhati-hati bila sedang banyak angin karena anginnya sangat dingin.

    Menurut saya, sistem transportasi di Sydney sangatlah teratur. Kondisi infrastruktur transportasi yaitu bis atau kereta tidak lebih baru atau bagus dibanding di Indonesia, tetapi manajemen sistemnya jauh lebih tertata. Selain itu, semua moda transportasi dilengkapi dengan teknologi GPS sehingga saya bisa memonitor kapan jadwal bis selanjutnya dan di mana posisinya sekarang. Hal ini membantu saya dalam merencanakan destinasi perjalanan saya ke suatu tempat. Sistem pembayaran untuk transportasi di sini diatur secara terpusat sehingga satu kartu dapat dipakai untuk berbagai macam jenis transportasi. Satu hal lagi yang menurut saya akan bagus kalau lebih diperketat di Indonesia adalah bus stop system dimana bus atau mungkin angkot nantinya hanya berhenti di tempat pemberhentian tertentu saja seperti TransJakarta. Dengan begitu, kondisi lalu lintas akan lebih teratur dan kemacetan dapat dikurangi karena kendaraan umum tidak berhenti di sembarang tempat terutama dalam jangka waktu yang lama (ngetem). Mungkin ada baiknya juga supir angkot di Indonesia tidak menggunakan sistem setoran lagi tapi dengan gaji yang tetap diikuti dengan monitoring kinerja supir tersebut.

    Beberapa anggota keluarga besar yang seumuran dengan saya sering bercanda karena di Aussie banyak hewan berbahaya seperti ular dan laba-laba. Mungkin itu relevan di beberapa daerah yang dekat gurun atau hutan. Akan tetapi, saya sendiri belum pernah melihat ular secara langsung semenjak saya tinggal di Sydney. Laba-laba yang saya tangkap juga berukuran kecil-kecil. Justru saya melihat bahwa di sini hewan-hewan seperti burung bisa sangat bebas berkeliaran di semua tempat. Salah satu hal yang saya sadari adalah burung-burung di sini tidak takut pada manusia sehingga kita bisa mendekatinya tanpa harus membuat mereka takut. Cerita uniknya adalah berkat Aussie saya baru tahu kalau suara burung gagak itu mirip suara anak kecil 🙂

    Berhubung tulisan ini sudah semakin panjang, ada baiknya tulisan ini saya akhiri sampai di sini dulu dan insya Allah saya lanjutkan di tulisan saya berikutnya. Saya yakin banyak hal yang klise atau banyak orang yang sudah tahu beberapa hal yang saya ceritakan sebelumnya. Akan tetapi, mudah-mudahan ada hal baru yang dapat dipelajari dari sini. Mudah-mudahan juga tulisan ini tidak memberikan kesan seperti orang yang sedang mengeluh, tapi saya lebih ingin menekankan bahwa ada banyak hal yang bisa kita pelajari dengan kita mencoba hidup ke tempat baru di luar negeri.

     

    Penulis: Muhammad Johan Alibasa

    Mahasiswa jurusan Software Engineering, School of Electrical and Information Engineering,  University of Sydney

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: