• About British PhD

    Mengenal British PhD dan bagaimana melewati tahun pertama PhD di London

    Doctor of Philosophy (PhD) merupakan salah satu bentuk program doktoral yang diperuntukkan bagi orang-orang (biasanya ilmuan/akademisi) yang ingin mengembangkan karir dan skill untuk melakukan penelitian original secara mandiri. Selain PhD, terdapat juga beberapa varian lain dari program doktoral yang disebut program professional doctorates, misalnya Doctor of Public Health (DrPH), Doctor of Education (EdD), Doctor of Engineering (EngD) dan lain-lain. Khusus utuk PhD, terdapat beberapa beberapa perbedaan yang signifikan dalam sistem PhD di United Kingdom (UK) dibandingkan PhD di Amerika, Australia, dan negara Eropa lainnya. Oleh Karena itu, sebelum memutuskan untuk mendaftar program PhD (khususnya di UK), penting bagi Anda untuk mengetahui perbedaan-perbedaan tersebut agar Anda tidak salah dalam menentukan pilihan.

    Dalam tulisan kali ini, saya akan memberikan gambaran singkat tentang beberapa perbedaan utama program PhD di UK dibandingkan dengan di negara lainny. Selain itu, akan saya bagikan pula sedikit cerita dan tips bagaiman saya menjalani tahun pertama saya sebagai mahasiswa PhD di UK.

    Perbedaan PhD di UK dibandingkan PhD di Amerika, Australia dan negara Eropa lainnya

    1. Tidak ada kuliah/kelas dalam program PhD di UK: Berbeda dengan PhD di Amerika Serikat, Australia dan negara Eropa lainnya, tidak ada persyaratan untuk mengambil mata kuliah tertentu dalam program PhD di UK. Walaupun demikian, mahasiswa PhD diijinkan untuk mengambil beberapa mata kuliah (tanpa kredit poin) yang dirasa perlu untuk mengembangkan skill dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek PhD-nya. Sistem ini sangat cocok bagi saya yang memang tidak begitu suka dengan perkuliahan di dalam kelas. Saya lebih menikmati untuk berinteraksi dengan masyarakat, melakukan penelitian lapangan, utak-atik data dengan Stata (software statistik favorit saya) dan sesekali melakukan analisa sampel di laboratorium. Bagi sebagian orang yang lebih menyukai kuliah dalam kelas, PhD di Amerika atau Australia mungkin menjadi pilihan yang lebih pas untuk anda – mayoritas PhD di sana merupakan kombinasi coursework dan research.
    1. Mekanisme MPhil/PhD: Berbeda dengan program PhD di Amerika, Australia atau di negara Eropa lainnya, mayoritas PhD di UK mensyaratkan mahasiswa PhD untuk terdaftar dalam program MPhil (Master of Philosophy) terlebih dahulu sebelum mereka resmi terdaftar sebagai mahasiswa PhD. Setiap universitas di UK memiliki ketentuan berbeda terkait berapa lama waktu minimum yang dibutuhkan oleh mahasiswa untuk bisa melakukan proses “Upgrading” – sebuah proses di mana mahasiwa akan diminta untuk mengumpulkan laporan ilmiah yang berisi hasil penelitian atau review dan rencana untuk penelitian selanjutnya. Pada umumnya, mayoritas universitas menetapkan proses upgrading dilakukan pada tahun pertama program. Mahasiswa akan resmi terdaftar sebagai PhD student jika berhasil menulis laporan dan rencana penelitian (sekitar 10.000 kata), mempresentasikan dalam seminar terbuka dan mempertahankan tulisan dan presentasinya dalam ujian tertutup yang dihadiri oleh supervisor, 2 orang penguji dan satu orang ketua penguji. Proses ini biasanya berlangsung sekitar 3 sampai 4 jam. Jika seseorang mahasiswa dinyatakan tidak layak melanjutkan program PhD, tim penguji akan mempertimbangkan kelayakan mahasiswa tersebut untuk mendapatkan gelar MPhil.
    1. Tesis dan Viva: Oleh Karena PhD di UK adalah 100% by research tanpa ada persyaratan untuk menyelesaikan mata kuliah tertentu maka satu-satunya poin penentu kelulusan adalah tesis PhD yang ditulis maksimal 100.000 kata. Tesis normalnya dikumpulkan di tahun ke-3 atau ke-4 dari program PhD untuk kemudian dipresentasikan dan diuji oleh minimal 2 orang penguji (1 penguji internal dan 1 eksternal). Di UK, presentasi dan ujian ini disebut dengan istilah “Viva”. Hasil akhir penilaian kelulusan PhD di UK hanya ada dua, yaitu lulus atau gagal. Meskipun penilaian hanya didasarkan pada presentasi dan ujian tesis secara oral, kandidat PhD tidak dinilai berdasarkan “ekspresi” Bahasa Inggrisnya, namun berdasarkan kemampuan kandidat dalam mempresentasikannya dengan bahasa yang dimengerti dan kepemahamannya terhadap tesis yang ia tulis. Sistem ini agak mirip dengan sistem di Eropa dan Amerika, di mana PhD student juga disyaratkan untuk mengumpulkan tesis dan melakukan ujian tesis secara oral sebagai bagian dari syarat kelulusan. Berbeda dengan di Australia, sebagai salah satu syarat kelulusan, PhD student diharuskan mengumpulkan tesis untuk kemudian dinilai oleh penguji eksternal, tanpa ada ujian secara oral.

    Sedikit cerita dan tips melewati tahun pertama PhD di UK.

    Saat ini saya sedang memasuki tahun ke-2 program PhD di salah satu universitas di London, UK. Alhamdulillah saat ini saya sudah berhasil melewati tahapan upgrading dengan hasil yang sangat memuaskan bagi diri saya pribadi. Berikut saya bagikan sedikit cerita dan tips berdasarkan pengalaman pribadi dalam menempuh tahun pertama saya sebagai mahasiswa di UK.

    1. Identifikasi dan atasi kelemahanmu: Sebagai non-native English, tentunya saya pribadi sadar bahwa salah satu kelamahan saya adalah keterbatasan berbahasa Inggris, terutama dalam hal menulis ilmiah. Untuk itu, saya berusaha lebih keras untuk meningkatkan kemampuan menulis saya dengan membaca artikel dan buku yang diterbitkan oleh supervisor dan anggota research group saya. Membaca tesis dan laporan dari mahasiswa-mahasiswa PhD bimbingan supervisor saya juga sangat membantu untuk memahami gaya bahasa yang “klop” dan disukai oleh supervisor saya. Trik lain yang membantu saya meningkatkan kemampuan saya adalah dengan berinisiatif memulai literature review dan menulis rencana penelitian seawal mungkin. Dua bulan memulai studi, saya sudah menyelesaikan literature review dan mengirimkannya ke supervisor (walaupun pada akhirnya tidak dibaca sama sekali oleh supervisor saya karena dianggap masih terlalu awal untuk mulai menulis :D). Secara jujur saya sampaikan ke supervisor bahwa saya bukan native English dan tidak punya banyak pengalaman dalam menulis karya ilmiah dalam Bahasa Inggris. Saya mungkin akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menulis, dibandingkan mahasiswa yang lain. Jadi, saya meminta pengertian beliau agar saya bisa memulai menulis lebih awal dan juga memulai semua proses training (termasuk lab training yang sebelumnya juga belum pernah saya lakukan) lebih awal agar saya punya cukup waktu untuk menghasilkan karya yang maksimal. Alhamdulillah usaha yang saya lakukan berbuah manis, akhirnya saya berhasil lulus upgrading tanpa ada revisi plus mendapatkan bonus sanjungan dari penguji, supervisor dan rekan sesama mahasiswa.
    1. Adaptasi telinga dengan British English: Jika Anda suka mendengar lagu Adele atau Coldplay, mungkin aksen British English sudah cukup familiar bagi telinga Anda. Namun jika mayoritas film yang Anda tonton adalah film Hollywood dan lagu-lagu yang Anda dengarkan adalah lagu-lagu dari Amerika, maka bersiap-siaplah untuk beradaptasi dengan aksen tokoh2 dalam film Harry Potter atau Sherlock Holmes. Sebagai masyarakat Indonesia yang lebih banyak terpapar dengan American English, saya pribadi masih sering salah tangkap apabila mengobrol dengan rekan-rekan grup saya yang mayoritas merupakan British. Alhamdulillah, dua orang supervisors saya adalah Londoners yang aksennya sangat enak didengar dan mudah mengerti. Lain halnya dengan seorang scientific officer (namanya Tom) yang memberikan saya lab training, bicaranya sangat cepat sehingga seringkali saya hanya berpura-pura mengerti dan merespons obrolannya dengan senyuman (malu juga kalu sering-sering bilang “could you please say it again Tom?” hahaaa..). So, bagi Anda yang berniat untuk melanjutkan studi di UK, mulai sekarang, perbanyaklah menonton film-film dan mendengarkan lagu yang “berbau” British. Salah satu strategi lain yang saya lakukan sebelum pertama kali saya melakukan wawancara dengan supervisor dan koordinator di departemen saya adalah dengan mencari rekaman video presentasi kuliah atau konferensi mereka. Dengan menonton dan mendengarkan presentasi mereka, alhamdulillah saya bisa memahami karakter vokal dan aksen mereka sehingga saya tidak kagok ketika harus melakukan wawancara dengan mereka. Sedikit banyak, strategi ini telah membantu saya untuk lulus wawancara ketika mendaftar PhD tahun lalu.
    1. Kosongkan gelasmu, namun jangan diisi dengan racun: Murnikan niat untuk menuntut ilmu, mulai belajar dari nol dan jauhkan diri dari budaya barat yang bisa merancukan studimu. Pertama, jangan fanatik dengan pengetahuan yang telah kita dapatkan dari pendidikan sebelumnya dan tetap terbuka untuk menerima kebenaran-kebenaran baru yang mungkin bertentangan dengan konsep ilmu yang sebelumnya kita yakini. Saya pribadi menemukan beberapa konsep dalam Epidemiologi dan Biostatistik yang ternyata selama ini telah banyak dipahami dengan keliru oleh mayoritas orang yang mempelajarinya di Indonesia. Tentunya saya menjadi yakin menerima kebenaran tersebut setelah mengklarifikasi langsung kepada para pakar yang selama ini menulis “kitab-kitab” yang menjadi rujukan dunia dalam bidang tersebut. Kedua, jangan terlalu polos dan terlarut dengan budaya barat yang ditawarkan di UK. Berdasarkan pengalaman tahun pertama studi saya di London, walaupun saya pribadi tidak terlalu bergaul dengan rekan sesama mahasiwa, post-doctoral staff maupun para dosen senior yang tergabung dalam grup saya, tetap saja saya tidak secara otomatis terlepas dari pengaruh budaya mereka. Biasanya, setiap hari Jumat sore, ada saja diantara rekan-rekan saya yang mengundang anggota grup untuk menikmati bir di pub-pub yang mudah ditemukan di sudut-sudut jalan di kota London. Belum lagi jika ada yang ulang tahun, setiap yang ulang tahun pasti akan mengundang untuk nongkrong makan dan minum di pub. Bisa Anda bayangkan, di dalam grup saya ada sekitar 20-an orang – artinya minimal akan ada 20 undangan acara minum-minuman keras di dalam setahun. Ditambah lagi jika ada anggota grup yang baru kembali dari penelitian di luar UK, mereka biasanya akan kembali ke kantor dengan membawa rum, wine atau minuman keras lainnya dan undangan minum pun akan disebar menjelang sore harinya. Untungnya, orang-orang di sini sangat toleran dengan privasi orang lain. Alhamdulillah, mereka sangat paham jika saya tidak bisa bergabung dengan acara minum-minum mereka. Bahkan, supervisor saya pun tidak masalah untuk mengundur waktu meeting jika waktunya bertepatan dengan jadwal shalat, terutama shalat Jumat. Tips dari saya adalah berkata dan berperilaku jujur dan terbuka, Insya Allah mereka akan menghargai privasi kita.
    1. Hilangkan rasa sungkan dan jangan takut mengingatkan suprevisor: Poin terakhir termasuk poin yang saya pribadi masih sulit untuk melakukannya. Memiliki supervisor ternama dengan segudang project merupakan berkah sekaligus tantangan tersendiri bagi saya. Berkah karena beliau adalah leading professor yang sangat disegani dalam bidang keilmuannya sehingga sangat sulit untuk bisa menjadi mahasiswa bimbingan beliau. Tantangan karena beliau adalah salah satu professor dengan anggota research group terbesar di universitas kami sehingga beliau hanya punya waktu kurang lebih 4 bulan (dalam setahun) berada di kampus dikarenakan banyaknya project yang beliau pimpin. Dampaknya, saya harus benar-benar mandiri dan hanya bisa bertatap muka 1 sampai 2 kali dalam sebulan. Saya seringkali hanya mengandalkan email dan Skype untuk berkonsultasi dengan beliau. Di tengah kesibukan beliau, beberapa kali saya tidak mendapatkan respons cepat ketika dibutuhkan. Pada situasi seperti inilah rasa sungkan kita sebagai orang Indonesia yang tidak terbiasa untuk memberikan deadline kepada atasan untuk memberikan feedback dan mengingatkan beliau apabila beliau lupa atau belum sempat membalas email atau Skype kita. Terkait hal ini, saya pribadi masih terus belajar untuk membiasakan diri dengan budaya kerja teratur dan tegas yang memang menjadi hal yang sangat biasa di lingkungan kerja orang barat.

    Sekian dulu yang dapat saya ceritakan dan bagikan untuk kesempatan kali ini. Mohon doakan agar studi saya berjalan dengan lancar agar saya bisa terus berbagi pengalaman dan tips dalam menjalani the British PhD di London School of Hygiene & Tropical Medicine – University of London.

    Berikut saya lampirkan link bagi yang ingin mencari informasi mengenai pilihan studi di LSHTM dan beberapa universitas lain yang termasuk dalam University of London (UCL, King’s College London, LSE, SOAS, Queen Mary, dll).

    LSHTM: http://www.lshtm.ac.uk/study/research/index.html

    University of London: http://www.london.ac.uk/colleges_institutes.html

    Salam sukses untuk teman-teman semua!

    Henry Surendra

    PhD student, London School of Hygiene & Tropical Medicine – University of London

    http://www.lshtm.ac.uk/aboutus/people/saridah.henry-surendra

    https://id.linkedin.com/in/henry-surendra-5633588a

    Rujukan program PhD di UK dan LSHTM:

    http://www.qaa.ac.uk/en/Publications/Documents/Framework-Higher-Education-Qualifications-08.pdf

    http://www.lshtm.ac.uk/edu/qualityassurance/phd_progspec.pdf

    Comments

    comments

2 Responsesso far.

  1. Adhi says:

    Assalamu’alaikum, Pak Henry.

    Saya Adhi dan ingin S2 di Inggris dengan fokus penelitian di ilmu sosial.

    Saya mau tanya.
    Untuk saya yang nanti juga ingin melanjutkan ke PhD, lebih baik ambil MRes atau MPhil?

  2. Ary Utary Nur says:

    Wa’alaikum salam…

    Pak Adhi silahkan menghubungi mas Hendry langsung aja ya… via fb beliau. Nama akun FBnya “Henry Surendra”

Leave a Reply

%d bloggers like this: