• Akhirnya Bertemu Berta

    Namanya Adelia Berta, kami biasa memanggilnya Tata. Gadis kecil, cantik, yang lahir dari seorang ibu muda sebagai anugerah pertama di keluarganya. Tata, seperti adik inspirasi yang lain, merupakan bagian dari dusun indah Sebatang.

    “Marsya iniloh yang namanya Bertha”, dengan malu-malu gadis kecil itu menghampiri saya.

    Hari itu ditanggal 17 Desember 2015 berlokasi di PAUD dukuh Sebatang, Kulon Progo, Saya pertama kali bertemu dengan adik inspirasi saya, Adhelia Bertha Syaharani. Bertha atau yang senang disapa dengan panggilan Tata merupakan adik inspirasi kami. Program kakak inspirasi dan adik inspirasi ini merupakan salah satu program yang digagas oleh pengurus Menyapa Indonesia PK43 Jivakalpa, dimana satu adik inspirasi dari SD Muhammadiyah Menguri akan mendapatkan bimbingan dan motivasi dari dua kakak inspirasi. Nantinya dua kakak inspirasi ini diharapkan dapat memberikan masukan dan semangat kepada adik inspirasinya untuk terus melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

    Kami mulai berkomunikasi dengan Tata di bulan November, namun sayangnya kami hanya bisa berkomunikasi satu arah, yaitu hanya melalui surat yang dikirimkan kakak inspirasi kepada adik inspirasinya. Di dalam surat yang kami kirimkan saya menyertakan photo dan surat motivasi bagi Tata untuk selalu rajin belajar, kami juga mebuat video perkenalan untuk Tata sehingga Tata bisa mempunyai bayangan seperti apa kakak inspirasinya.  Di dalam surat yang kami tulis saya berjanji akan menemuinya di bulan Desember.

    Akhirnya bulan Desember pun tiba dan waktunya menepati janji untuk bertemu dengan Adik inspirasi kami. Kami sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Tata, sesampainya di Kota Yogyakarta kami bertemu dahulu dengan sesama pengurus program Menyapa Indonesia yang berdomisili di Yogyakarta. Di Hari kedua di Yogyakarta, kami sibuk untuk menyampul buku-buku yang kami sudah persiapkan untuk program Jivakalpa Corner, Jivakalpa Corner merupakan pojok bacaan yang disiapkan untuk mendampingi pembelajaran di dukuh sebatang, di Jivakalpa Corner nantinya akan tersedia banyak bahan bacaan yang cocok bagi anak usia dini hingga usia sekolah dasar.

    Keesokan harinya, di pagi hari saya beserta dengan tiga anggota keluarga Jivakalpa berangkat ke sebatang. Perjalanan dari jalan Kaliurang kota Yogyakarta sampai menuju Dukuh Sebatang kira-kira ditempuh selama dua jam perjalanan. Sesampainya di Dukuh Sebatang, kami langsung menuju PAUD untuk meletakkan lemari buku yang akan menjadi rumah untuk buku buku yang sudah kami persiapkan untuk program jivakalpa corner. Setelah selesai dengan proses pindahan rak buku tiba tiba ada seorang anak perempuan yang malu-malu mengintip di pintu, ternyata dia adalah Tata, adik inspirasi kami. Inilah pertama kalinya kami bertemu. Kami mengobrol sembari menunggu guru mengaji Tata datang. Kebetulan sekali hari itu bertepatan dengan jadwal belajar mengaji Tata, jadi kami bisa bertemu dengannya lebih cepat daripada yang dijadwalkan. Dari obrolan singkat itu kami mengetahui bahwa Tata tidaklah begitu menguasai pelajaran Matematika, ketika ditanyai nilai ujian Matematikanya, Tata menjawab, “Saya dapat 25 kak, tapi semua teman teman di kelas juga dapat nilai jelek kok kak”. Walau lemah di pelajaran Matematika, tapi Tata mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang dokter di kemudian harinya. Dengan mempunyai cita-cita menjadi dokter tentu ini bisa menjadi motivasi bagi Tata untuk terus melanjutkan pendidikannya hingga jenjang sarjana dan tentunya bisa kembali ke dukuh sebatang untuk membangun desanya.

    Tanggal 19 Desember adalah hari yang dijadwalkan untuk melakukan home visit, pada kegiatan ini kakak inpirasi berkesempatan untuk langsung berkenalan dengan orang tua dari masing-masing adik inpirasi dan bisa mengetahui lingkungan tempat tinggal dari adik inspirasinya. Perjalanan ke rumah Tata pun dimulai, jalan menuju ke rumah Tata lumayan menantang. Kami harus sedikit mendaki untuk akhirnya bisa bertemu dengan keluarga Tata. Rumahnya yang asri berdiri di dataran atas. Menyendiri tanpa tetangga kanan kiri, depan belakang. Untuk mencapai rumahnya, kita harus berjalan kaki melewati jalan setapak naik sekitar 15 meter. Tidak jauh memang, tapi medan mendaki yang licin dengan kemiringan tajam membuat kami cukup ngos-ngosan

    Pada saat kami sampai di rumah Tata, kami disambut oleh Ibunya Tata beserta adik dari Tata yang baru saja lahir. Tata tinggal bersama kedua orangtuanya, simbah dan adik kecilnya yang baru berusia dua bulan. Dari obrolan singkat dengan mamaknya, kami bisa melihat bahwa Tata mendapat pola pengasuhan yang cukup baik. Mamak, yang mengaku sebagai ibu rumah tangga (belakangan kami tahu beliau seorang guru), memberikan perhatian yang cukup kepada Tata, baik dalam hal akademik maupun pergaulan. Di sisi lain, Tata juga anak yang penurut. Sayangnya Tata sedang tidak ada di rumah saat kami berkunjung ke sana. Sepulang sekolah ayahnya mengajak Tata untuk pergi ke pasar terlebih dahulu untuk keperluan tokonya.

    Foto bersama Ibu Tata

    Foto bersama Ibu Tata

    Secara ekonomi, keluarga Tata bisa dibilang cukup baik dibanding adik inspirasi yang lain. Sekilas, kesan ini dapat dilihat dari rumahnya yang luas serta pakaian yang dikenakannya. Ayah dan simbahnya memiliki toko yang menjadi sumber penghasilan keluarga mereka.

    Kesempatan untuk mengobrol dengan Ibunda Tata kami pergunakan untuk menggali informasi mengenai Tata agar kami bisa lebih mengenal Tata. Kami akhirnya mengetahui bahwa Tata memang sedikit susah untuk fokus dan cenderung melupakan hal-hal yang kurang diminati. Contohnya, ketika Ibunda Tata meminta tolong untuk membelikan sesuatu di warung yang terletak di bawah, beberapa menitnya Tata akan kembali keatas dan menanyakan kembali apa saja yang harus ia beli di warung. Tata juga susah menghapal, ini membuat Tata tidak menggemari pelajaran PKN dan IPS namun Tata sangat menggemari pelajaran Bahasa Arab dan Penjaskes. Dapat dilihat bahwa Tata memperoleh nilai yang tinggi di dua mata pelajaran tersebut. Bila dilihat sekilas Tata memang anak yang lincah jadi tidak heran apabila Tata memperoleh nilai tinggi di pelajaran Penjaskes.

    Ibunda Tata juga bercerita bahwa beliau mempunyai angan untuk menyekolahkan Tata hingga sarjana, saat mendengar itu kami dengan semangat merespon dengan dukungan penuh cita-cita Ibunda Tata. Kami sangat senang mendengar bahwa Ibunda Tata peduli terhadap pendidikan anaknya, karena banyak orang tua di desa Sebatang lebih mengarahkan anak-anaknya untuk secepatnya bekerja. Banyak orang tua yang memutus pendidikan anaknya hanya sampai di pendidikan sekolah dasar dan anak-anak tersebut terpaksa untuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dukungan Ibunda Tata terhadap pendidikan Tata juga ditunjukkan melalui cerita beliau bahwa setiap selepas mahgrib, ibunda Tata akan menemani Tata untuk belajar dan membantu Tata menyelesaikan PR yang didapatnya dari sekolah. Hal ini membuat kami percaya bahwa Tata akan melanjutkan pendidikan hingga ke sarjana dan bisa membantu untuk membangun Dukuh Sebatang ke arah yang lebih baik. Selesai kami bercakap-cakap, kamipun mintai ijin untuk undur diri dengan tidak lupa untuk meminta ijin untuk mengajak Tata mengikuti acara outbond yang sudah kami siapkan sebagai sarana untuk mengakrabkan hubungan antara adik inspirasi dan kakak inspirasinya.

    Tata memiliki banyak peluang untuk menjadi orang hebat. Peraih peringkat 3 di sekolahnya ini memiliki perhatian yang sangat baik terhadap masalah pendidikan. Dia memiliki semangat luar biasa dalam menuntut ilmu. Sayang, lingkungan di sekitarnya kurang memberikan tantangan. Sehingga potensi yang dimilikinya belum bisa berkembang dengan maksimal. Kondisi tersebut juga yang mungkin membuat tata jadi kurang berani. Dia cenderung takut mencoba hal-hal baru dan takut melakukan kesalahan. Hal ini tampak saat acara outbond kemarin. Dia menolak saat kami ajak bermain tepuk seperti yang diinstruksikan pemandu meskipun akhirnya dia mau melakukan setelah dibujuk beberapa kali.

     

    Tata Juara…

     

    Hari itu adalah hari yang dinanti-nantikan bagi adik-adik inspirasi tiba, hari yang diisi dengan agenda kegiatan outbond. Acara outbond kali ini berlokasi di Pantai Goa Cemara. Beberapa macam permainan sudah disiapkan, permainan-permainan yang dipilih adalah permainan yang memerlukan kerjasama antara adik inspirasi dan kakak inspirasi. Di tengah permaian adik-adik inspirasi terlihat sangat bersemangat dan aktif mengikuti setiap permaianan. Tata misalnya saat melakukan permainan melewati tantangan dengan mata tertutup, dia sangat cepat dan yakin dengan tiap langkahnya walau dengan mata tertutup. Berkat kegigihannya, Tata pun menjadi pemenang di permainan ini. Melalui acara outbond ini, kami melihat bahwa Tata mempunyai semangat saing yang tinggi dan menunjukkan semangat luar biasa untuk menjadi pemenang. Sayangnya, Tata gagal di permainan-permainan selanjutnya. Dari ekspresinya terlihat sekali kekecewaan di hatinya. Tata memiliki jiwa bersaing yang sangat baik, hanya saja dia nampak tidak siap menghadapi kekalahan.

    tata juara

    Tata menjuarai salah satu permainan outbond

    Setelah menyelesaikan semua permainan yang sudah disiapkan, acaranya dilanjutkan dengan bermain air di pantai, namun sayangnya di Pantai Goa Cemara tidak diperkenankan untuk berenang dikarenakan ombaknya yang keras dan dalam. Namun Tata dan teman-temannya terlihat sangat bahagia bisa bermain pasir dan merasakan deburan ombak di kakinya.

    Outbond inipun diakhiri dengan perpisahan antara adik dan kakak inspirasinya karena adik-adik inspirasi akan pulang kembali ke Sebatang dan kakak-kakak inspirasinya akan balik kembali ke Yogyakarta. Terlihat Tata sedih saat akan berpisah. Kami dan Tata berjanji akan saling mengirimkan surat dan akan sering menelpon Tata untuk menanyakan kabarnya, kami juga berjanji akan kembali ke Yogyakarta dan berkunjung ke Sebatang lagi secepatnya. Tata tidak banyak bicara saat akan berpisah, namun sepanjang jalan menuju bus kami berangkulan dan akhirnya bertukar pelukan sebelum akhirnya Tata harus berangkat kembali ke Sebatang.

    Ibarat tumbuhan, Tata adalah benih unggul dengan potensi yang luar biasa. Dia hanya butuh pendampingan, perhatian, dan arahan agar benih tersebut benar-benar tumbuh dengan subur. Dia juga harus merasakan berbagai pengalaman baik dan buruk untuk membentuk kekuatan karakternya, adalah tugas kita untuk membantunya melihat dunia luar. Dunia yang penuh tantangan dan hambatan. Dengan demikian dia akan tumbuh sebagai sosok yang berani dan siap menghadapi persaingan dunia untuk memajukan tanah kelahirannya, Sebatang.

     

    Penulis : Marsya Sunra Handarini Nurbudhi dan Nashrul Millah

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: