• Bali dan Sebatang

     

    • Ketinggalan Pesawat

     

    Ketika itu…

    Kawan – kawan disana, di suatu desa yang terdengar hangat meski saya hanya bisa medengar dan membayangkan dari kejauhan. Sebatang, begitulah namanya. Suatu desa di kota Yogyakarta, tepatnya di Kapupaten Kulonprogo. Kawan – kawan khususnya yang ada di Jogja berkesempatan untuk datang langsung ke sana dan mendedikasikan diri untuk Sebatang mulai dari suatu program yang direncanakan sampai dengan pelaksanaan program yang kami sebut Menyapa Indonesia (MI). Kawan – kawan lain yang di luarJogja pun demikian. Mereka berlomba – lomba untuk mendapatkan kesempatan datang ke Sebatang. Berlomba – lomba dengan apa? Dengan waktu dan berbagai kesibukan yang mereka miliki.

    Berbagai program di bidang pendidikan dan budaya disusun sedemikian rupa untuk Sebatang. Saya yang memiliki akses yang cukup jauh dari Sebatang sementara hanya bisa memaksimalkan peran saya dalam hal-hal yang tidak turun dan bergerak langsung ke Sebatang. Melihat kawan – kawan dan keluarga yang tanpa lelah berjuang untuk Sebatang, dan janji akan kehangatan Desa Sebatang, membuat saya sangat ingin berada di tempat itu. Kadang saya hanya bisa terdiam haru membaca berbagai pengalaman kawan – kawan yang sudah kesana. Rasa tidak berdaya kadang muncul, kesal karena belum bisa berbuat apa – apa. Terkadang saya juga jadi merasa tak berguna, hanya bisa berdoa semoga segala kegiatan kawan – kawan disana diberikan kelancaran dan berkah bagi semua.

    Dalam hati saya bertekad sebelum tahun 2015 ini berakhir saya akan menginjakan kaki di Desa Sebatang, berjumpa dengan kawan – kawan dan keluarga disana, menggerakan kaki dan tangan saya disana untuk Sebatang. Saya mendaftarkan diri sebagai salah satu kakak dalam program Kakak Adik Inspirasi. Hal ini juga menambah semangat saya untuk segera ada disana dan bertemu langsung dengan adik inspirasi saya yang bernama Dwi Riyanti.

    Akhirnya kesempatan itu datang, saya akhirnya merencanakan perjalanan menuju Desa Sebatang. Meskipun saya harus melewati berbagai hal yang menurut saya cukup menguras energy hati dan pikiran saya. Tapi keramahan dan kehangatan serta kawan – kawan disana sangat menggoda saya untuk secepatnya berada di Sebatang. Program Kakak Adik Inspirasi juga kebetulan mengadakan kegiatan besar disana jadi saya sangat ingin hadir langsung dan bertemu dengan adik inspirasi di Sebatang.

    Satu hari sebelum saya berangkat, tepatnya 2,5 jam sebelum saya berangkat, saya masih bergelut dengan pekerjaan yang secepatnya harus saya selesaikan sebelum saya pergi. Alhasil saya baru memejamkan mata pada pukul 02.30 WITA pesawat saya take off pukul 05.50 WITA jarak dari rumah ke bandara di tempuh dalam waktu 45 menit, dan akhirnya saya ketinggalan pesawat. Rasanya ingin marah, sedih dan yaa campur aduk. Setelah berpikir dan menenangkan diri beberapa menit di pojokan bandara, saya akhirnya memutuskan untuk membeli tiket pada hari itu juga, karena saya secepatnya ingin ada di sana di Sebatang dan bertemu dengan kawan beserta keluarga besar Jivakalpa. Kurang lebih 3 jam menunggu, akhirnya pesawat Lion Air tujuan Yogyakarta take off pukul 10.25 WITA.

    Setiba di Yogyakarta, saya disambut dengan sangat hangat oleh seorang kawan Angkringan Berhati Nyaman, sebut saja namanya Mas Weda Kusama. Pada sore hari itu juga saya langsung menuju Desa Sebatang. Dan luar biasa, setibanya disana hanya kedamaian, kehangatan dan keramahan yang saya rasakan. Sesaat cuma bisa terdiam dan bergumam dalam hati “Aku ada disini, di Desa Sebatang”.

    Program Kakak Adik Inspirasi merupakan salah satu program di bidang pendidikan yang mempertumakan kakak dari berbagai daerah dengan seorang adik di Desa Sebatang. Saya pribadi mendapat begitu banyak pelajaran dari program ini, banyak mendapat pengalaman dan nilai – nilai kehidupan yang hampir memudar. Adik inspirasi saya sangat menginspirasi, perjuangannya untuk belajar membuat saya haru dan malu. Dwi harus menempuh sekian kilometer untuk berjalan, perjalanan itu ditempuh dengan menggerakan kedua kakinya selangkah demi selangkah. Medan yang curam, jarak yang jauh dan kondisi jalan yang ekstrim tidak pernah mematahkan semangat Dwi untuk dating ke sekolah. Kenapa saya malu?  Dwi seorang gadis yang duduk di kelas 4 SD tidak pernah mengeluh dengan rutinitas yang dia harus hadapi, sedangkan saya yang hanya tinggal duduk manis di depan computer untuk mengerjakan pekerjaan terkadang mengeluh bahkan sering. Disana saya merasa tertampar dan tersadar bahwa sebagala sesuatu yang dihadapi dengan ikhlas akan memberikan kekuatan untuk kita dalam melewatinya (TerimkasihDwi).

    93197

    Selfie barsama salah satu adik inspirasi di Sebatang Dwi Riyanti

    Keramahan warga disana juga membuat saya betah, makanan  yang bergizi, enak dan mengenyangkan membuat lidah saya manja untuk terus mengunyah. Bermain bersama adik – adik inspirasi, bersendagurau dengan kawan – kawan dan keluarga inspirasi menjadi suntikan semangat bagi saya untuk selalu berusaha menjadi seorang Kurni versi terbaik. Suatu saat akan ada kesempatan lagi untuk hadir disana, semoga keramahan, kehangatan, kebersamaan dan kehangatan itu masih tetap terjaga untuk Menyapa Indonesia – Sapa Sebatang – Jivakalpa.

     

    Penulis : Ni Made Kurniati

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: