• Berawal dan Berakhir dengan Puisi

    Novel Hujan Bulan Juni (int)

    Novel Hujan Bulan Juni (int)

    Sarwono tetap tidak ingin tinggal di mana pun kecuali di negeri yang menyenangkan karena selalu geger ini. Ia masih harus menuntaskan keinginan untuk blusukan dari pulau ke pulau agar bisa menghayati hal-hal pelik yang tidak bisa diuraikan, apa lagi ditata, tanpa didasari keikhlasan untuk memahami dan menerimanya. Meskipun Pingkan sudah berusaha membujuknya untuk menikah di Kyoto—sembari mendampingi Pingkan meneruskan studi—agar perbedaan suku dan agama di antara mereka tidak dipermasalahkan. Namun nyatanya, setelah sekian lama terjebak dalam perasaan yang sama, belum tajam benar keyakinan dan keberanian Sarwono untuk menikahi gadis keturunan Pelenkahu, adik sahabatnya itu.

    Tenang dan Romantis

    Sepanjang menelusuri novel ini, kita seperti tengah membaca tulisan semi puisi. Hujan Bulan Juni yang sudah lebih dahulu populer sebagai puisi ibarat tulang rusuk yang sangat  mendominasi. Sapardi, seorang penyair romantis, tak bisa menyembunyikan puisi dari novelnya. Tidak hanya tokoh Sarwono yang memang seorang penyair, tetapi konflik pembuka dan penutup dalam novel ini pun adalah puisi. Baginya, puisi tidak sekedar untaian beberapa baris dengan diksi yang indah. Dia percaya pada teori yang menjelaskan bahwa inti kehidupan itu komunikasi dan komunikasi itu inti kehidupan. Dan bahwa puisi itu komunikasi, dan bahwa komunikasi itu shaman. Dan bahwa shaman itu medium. Dan oleh karenanya puisi itu medium.

    Maka, ketika puisinya Hujan Bulan Juni terbit di surat kabar dan ditertawakan oleh tukang becak karena dianggap tak masuk akal, mengingat menurut teori bulan Juni termasuk bulan kemarau, tetapi nyatanya pada hari itu juga tiba-tiba hujan turun, Sarwono semakin yakin pada kekuatan puisi. Apa yang tertulis dalam puisi Sarwono terjadi. Ia pun percaya, seandainya dukun zadul memang benar memiliki kekuatan, maka puisi yang ditulisnya itu jelas melampaui kekuatan segenap dukun yang ada.

    Pemuda yang menggilai musik jazz itu juga punya pemikiran sendiri tentang cinta. Ia yakin bahwa Pingkan adalah takdir dan bukan sekadar nasib. Takdir tidak bisa diubah, katanya selalu kepada dirinya sendiri. Nasib tergantung kepada usaha manusia. Ia merasa tidak pernah berusaha tetapi dianugerahi oleh Sing Ngecet Lombok, begitu orang Jawa menyebut Tuhan. Yang dialaminya selama ini dari hubungannya dengan Pingkan ditafsirkannya sebagai amanat yang jatuh begitu saja dari langit ketika pertama kali ia melihat gadis itu.

    Bagi Sarwono yang asli keturunan Jawa, Pingkan yang merupakan bagian dari Pelenkahu dianggap Wong Sabrang. Dalam pewayangan ksatria sabrang mempunyai punakawan Togog dan mBilung, bukan Semar sekeluarga. Mereka liyan-meliyankan tetapi pada kenyataannya semuanya termasuk trah Punakawan—seandainya ada istilah itu. Di kelir wayang kulit, mereka olok-mengolok tanpa pernah bertengkar. Berbeda dengan Bendoro  mereka yang selalu bertanding setiap ada kesempatan bertemu. Meskipun sama-sama Punakawan, kedudukan Semar dan Togog dalam tata cara berpikir orang Jawa jelas berbeda. Dan bagi kebanyakan orang Jawa, yang disebut ‘Jawa’ itu berlapis-lapis. Semakin jauh dari keraton, semakin surut pamornya.

    Tetapi Sarwono tidak ingin kisruh. Bagaimanapun ia yakin bisa memberikan jawaban melalui puisi yang ditulisnya—meskipun jawaban itu berupa pertanyaan. Ia tidak ingin tergesa-gesa melakukan blokade atau semacamnya. Oleh karena itu, sejak kepergian Pingkan dan diam-diam Sarwono jatuh sakit, ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia harus berusaha sebaik-baiknya melupakan Pingkan, tetapi tidak untuk melepaskannya. Lalu, ia hanya menitipkan sebuah sajak pendek untuk gadis yang ia cintai itu. Tiga Sajak Kecil; …kita tak akan pernah bertemu: aku dalam dirimu/tiadakah pilihan kecuali di situ?

    Kali ini tidak ada hujan, tetapi dalam narasi yang membawa Sarwono dan Pingkan pada perpisahan, agaknya rentang waktu itu adalah Juni pula. Maka hujan kali ini adalah hujan yang turun dari kelopak mata dan hati Pingkan ketika melihat tubuh lelaki yang ia cintai terbaring lemas, dalam keadaan kritis. Sementara Sarwono sudah memilih diam dan hanya bicara melalui puisi, menutup seluruh polemik tentang dirinya, tentang Hujan Bulan Juni.

    Polemik Sarwono dan Pingkan, oleh Sapardi, ditulis dengan sangat realis dan tidak emosional sehingga membuat pembaca hanyut dalam runut peristiwa dengan mengesampingkan amsal konflik di antara keduanya yang sebenarnya sangat sensitif jika dibicarakan karena menyangkut etnis. Seperti yang kita ketahui bersama, konflik etnisitas di Indonesia adalah salah satu masalah krusial. Namun Hujan Bulan Juni, menyoroti sisi lain di balik konflik tersebut, yakni tentang hubungan asmara dua manusia yang terlahir dalam etnis yang berbeda. Konflik yang diangkat menunjukkan bahwa Sapardi menaruh  perhatian besar pada polemik yang seringkali dianggap lemah oleh sebagian besar orang, padahal rumit.

    Kendati demikian, konflik yang dibangun dalam novel Hujan Bulan Juni melalui tokoh Sarwono dengan kekhasan karakteristik tersebut pada beberapa sisi justru berpeluang melunakkan gairah pembaca yang memikul ekspektasi tinggi pada kisah Hujan Bulan Juni. Sebagai puisi, Hujan Bulan Juni berhasil menyedot perhatian khalayak dengan keromantisan yang khas. Namun ketika puisi dijadikan ‘raja’ dalam cerita, agaknya membutuhkan sokongan karakter lain untuk memperkuat dilematis cerita sehingga tidak berlalu begitu saja.

    Bagaimana pun, Sapardi telah memilih puisi dan seterusnya mengedepankan sikap tenang, pasrah dalam menjalani berbagai persoalan hidup, melalui tokoh Sarwono. Pilihan yang kemudian menumbuhkan pertanyaan di benak pembaca, “Apakah perbedaan akhirnya memang tak bisa disatukan? Apakah penyair memang tak punya jawaban di luar tulisan?”

    Novel Hujan Bulan Juni (int)

    Novel Hujan Bulan Juni (int)

    Identitas Buku

    Judul        : Hujan Bulan Juni

    Penulis      : Sapardi Djoko Damono

    Penerbit    : PT Gramedia Pustaka Utama

    Terbit        : Juni 2015

    Tebal        : 135 halaman

     

    Penulis : Sartika Sari

    Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Sastra Universitas Padjadjaran

     

    *

    Tulisan ini diterbitkan di koran Kompas, Buku. Edisi Minggu, 29 November 2015

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: