• Bersepeda

    “Kamu naik sepeda itu,” perintah temanku dengan singkat.

    “Apa? Aku harus bersepeda detik ini juga, Aku diboncengin aja dulu.” Jawabku sedikit ragu.

    “Gak bisa, sepeda aku gak ada boncengannya. Pokoknya kalau mau ikut makan harus bawa sepeda sendiri. Jangan membantah lagi lakukan aja.” Pintanya dengan nada yang mulai meninggi.

    “Ting… ting… ting…” bunyi klakson sepeda yang ada di kampung Inggris, Pare. Hanya sepeda-sepeda keluaran terbaru saja yang memilikinya. Saya beruntung bisa mendapatkan sepeda seperti ini karena selain dilengkapi klakson juga dilengkapi gir yang dapat diubah sesuai kebutuhan atau sesuai medan yang dilewati, layaknya sepeda sporty milik para pejabat-pejabat negeri ini yang digunakan di hari minggu pagi.

    Sebagian orang menganggap bersepeda bukanlah hal yang aneh. Iya, itu tidak aneh jika bersepedanya di car free day (CFD) hari minggu pagi, karena itu adalah salah satu cara berolahraga. Atau anak sekolahan usia SD yang menggunakan sepeda ke Sekolah. Meski sebenarnya sudah sangat jarang. Sebagian besar dari mereka diantar jemput dengan kendaraan bermesin (re; mobil dan motor) atau membawa kendaraan pribadi padahal sebagian dari mereka belum berumur 17 tahun, usia yang dianggap layak untuk membawa kendaraan sendiri. Mungkin ini adalah dampak kemajuan perekonomian Indonesia, meningkatnya jumlah pendapatan perkapita yang menyebabkan meningkatnya daya beli kendaraan bermotor dan tidak diimbangi dengan perbaikan fasilitas umum. Ditambah lagi alat transportasi umum yang kian hari kian buruk yang membuat sebagian masyarakat enggan untuk menggunakannya dan lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi. Maka jangan heran jika berkunjung ke kota-kota besar yang ada di Indonesia dan menemukan kemacetan di mana-mana serta polusi udara yang memaksa kita harus selalu menyediakan masker ketika bepergian. Namun bagi saya bersepeda ke mana-mana dan menggunakannya sebagai alat transportasi utama di usia kita yang sudah menginjak kepala dua adalah sesuatu yang diluar dari kebiasaan orang Indonesia pada umumnya.

    Jepang adalah salah satu negara dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang  telah diakui dunia. Namun faktanya Jepang adalah negara kedua setelah Belanda yang membudayakan penggunaan sepeda sebagai alat transportasi. Bahkan jumlahnya lebih banyak dari pada jumlah kendaraan bermotor. Saking seriusnya beberapa sekolah yang ada di Jepang bahkan tidak memperbolehkan siswa-siswinya mempunyai surat izin mengemudi (SIM) sebelum lulus SMA. Siswa-siswi ke sekolah dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi kesenjangan sosial antara si miskin dan si kaya. Untuk meraih mimpi semuanya harus melalui perjuangan dan kerja keras.

    Negara-negara maju di Asia seperti Jepang dan  negara-negara maju di  Eropa lainnya, sebagai produsen teknologi yang semakin canggih justru membudayakan bersepeda. Terlepas dari manfaat bersepeda yang dapat menyehatkan tubuh, masyarakatnya telah memiliki kesadaran bahwa kendaraan bermotor (mobil dan motor) menggunakan bahan bakar yang jumlahnya terbatas dan akan habis seiring berjalannya waktu. Bukan hanya itu, kendaraan bermotor mengakibatkan semakin menipisnya lapisan ozon di atmosfer sehingga menyebabkan global warming.

    Bersepeda (int)

                     Bersepeda (int)

    Lantas ada apa dengan Indonesia ?

    Kembali ke cerita budaya bersepeda di Kampung Inggris, Pare. Bukan tidak mungkin jika masyarakat Indonesia mau mengubah budayanya dalam bertransportasi. Penghuni Kampung Inggris adalah orang-orang Indonesia yang datang dari segala penjuru Nusantara, datang ke kampung ini untuk meningkatkan kemampuannya menggunakan bahasa Internasional. Mereka membawa karakter dari masing-masing wilayahnya, berbaur bersama dan ikut dalam budaya yang ada di kampung ini, termasuk budaya bersepeda. Tua muda, kaya miskin, tak ada yang merasa gengsi untuk bersepeda ke mana-mana. Kampung ini adalah cerminan bahwa masyarakat Indonesia pun bisa membudayakan bersepeda jika didukung oleh lingkungan sekitar dan pemerintah tentunya.

    Selain mengurangi polusi udara dan menjaga kebugaran tubuh, alat transportasi ini juga  murah meriah, dan tidak menggunakan bahan bakar minyak (BBM) sehingga jika terjadi kenaikan BBM, dapat mengurangi kekisruhan yang terjadi di negara ini. Salah satunya, tidak terjadi lagi demo akibat kenaikan BBM yang biasanya berujung anarkis.

    Song : Ran (Sepeda)

    (…….)

    Hey hey kawan bersiaplah

    Waktu kita pun telah tiba

    Mari kita mari kita bersepeda bersepeda

    Mari kita cerahkan hari


    Uw uw asyiknya bila bersepeda

    Uw uw berkeliling kota jakarta

    Uw uw ku kayuh dengan suka cita

    Uw uw ku rasakan indah dunia

    Bila ku pergi bersepeda

    Bersama, riang gembira

    Senangnya hatiku saat bersepeda

    (…….)

     

     

    Penulis : Ary Utary Nur

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: