• Critical Thinking: Bagaimana Kita Memulainya?

    Memiliki kesempatan belajar keluar negeri bukan hal yang bias didapatkan semua orang, apalagi didukung dan dibiayai penuh oleh negara. Bagisaya, beasiswa LPDP adalah berkah, peluang emas sekaligus amanah yang mesti saya laksanakan sebaik-baiknya. Melalui tulisan ini, Saya ingin berbagi cerita tentang hal-hal yang menarik perhatian saya selama belajar di salah satu perguruan tinggi di Australia. Berikut adalah pendapat dan hasil observasi kecil-kecilan selama saya menjalani kuliah selama semester satu ini. Topik  yang akan dibahas adalah tentang critical thinking atau berpikir kritis.

    Secara sederhana critical thinking bisa dipahami sebagai sebuah kemampuan menganalisa dan mengevaluasi suatu informasi. Lalu mengapa saya ingin mengangkat topic ini?.

    “Selama saya belajar di sini, hal yang paling saya rasakan berbeda adalah tuntutan dari para instruktur (dosen, tutor, asisten) agar selalu berpikir kritis dalam menyelesaikan tugas dan ujian”

    Hal ini terasa baru, karena selama di Indonesia sebagian besar saya dikenalkan pada soal-soal dikte benar salah dan hafalan, bukan tugas-tugas bersifat open-ended. Jujur, proses berpikir kritis ini memberikan tekanan lebih besar kepada saya. Karena untuk menyampaikan pendekatan yang baik, selain harus terus berpikir secara mendalam juga perlu banyak masukan informasi yang akhirnya menuntut saya harus lebih banyak membaca.

    Appreciation: sederhana namun menggairahkan

    Sebuah pengalaman menarik yang saya temui adalah tentang bagaimana perlakuan para tenaga pendidik di sini kepada mahasiswanya. Prinsipnya sederhana, semua orang senang dengan sanjungan, hadiah atau sesuatu yang gratis. Ucapan apresiasi adalah hal sederhana tapi punya dampak yang besar untuk menyenangkan hati danmenggairahkan aktivitas kita kembali. Begitupun dalam membangun critical thinking, sebuah apresiasi dapat mendongkrak kepercayaan diri sehingga lebih berani berpikir lebih jauh lalu mengungkapkan ide dan pendapat yang lebih berkualitas. Salah satu hasil obeservasi saya yang menarik adalah selama saya duduk di kelas, saat mahasiswa menjawab atau menyampaikan idenya tidak pernah sekalipun saya mendengar instruktur menyanggah atau menjawab “No”, “Not that”, apalagi “That is not right” atau“You are wrong”. Yang saya dengar adalah justru sebaliknya sang instruktur selalu mencari celah positif atas ide dan jawaban mahasiswanya, seperti“Good point, but.”, “Yes, that is from that perspective, but.”, “Correct, but more precisely is” etc.

    Saya yakin itu adalah bentuk apresiasi sang dosen pada mahasiswanya karena saya tahu jawaban mahasiswa tersebut jauh dari kata tepat. Lantas saya heran sebenarnya apa yang dilihat dari pendapat tersebut? Setelah berbincang dengan beberapa tutor dan teman ternyata poin utama yang mereka terapkan adalah bagaimana caranya untuk selalu meng-encourage mahasiswa dalam berpikir kritis, menyampaikan pendapat dan bertanya tanpa niat menguji, mematahkan atau menjatuhkan. Dan begitulah bagaimana hal sederhana seperti apresiasi menjadikan proses belajar mengajar terasa lebih nyaman.

    Respect: Koridor dalam berpikir kritis

    Percaya diri menyampaikan ide atau pendapat tidak sepenuhnya menjamin kita telah berpikir kritis. Mungkin kita ingat sewaktu SMA dulu ada teman yang terkenal ‘Asbun’ atau Asal Bunyi, dia dengan mudah menyampaikan ide dan pendapat meskipun tidak tepat, tidak relevan dan hanya modal percaya diri saja. Atau mereka yang diasosiasikan sebagai seseorang yang ‘kritis’ Karena mampu menjatuhkan pendapat orang lain, mampu membuat orang diam terpaku, atau membuat orang lain malu atas pendapat yang dipatahkan. Dalam perihal debat, hal ini bias dipertimbangkan tapi dalam konteks belajar mengajar, ‘kritis’ tersebut tidaklah benar. Proses inti dari berpikir kritis adalah berpikir atau memproses informasi bukan berpendapat, kemudian outputnya bisa dalam bentuk tulisan, pendapat atau kombinasi lainnya. Lalu apa kaitannya dengan rasa hormat? ‘Si Asbun’, ‘Si penguji’, ‘Si penjatuh’ adalah contoh kritis tanpa rasa hormat. Dalam konteks edukasi, saya yakin berpikir kritis dan rasa hormat adalah kombinasi yang membantu seseorang menjadi pribadi baik dengan pemikiran yang konstruktif.

    Rasa hormat dan berpikir kritis sejak dini.

    Menurut pendapat saya, kombinasi dari rasa hormat dan berpikir kritis akan menjadi fondasi yang baik bagi seseorang jika diajarkan sejak dini. Beberapa waktu lalu saya mengunjungi perpustakaan umum di salah satu sudut kota Brisbane, di sana saya memperhatikan perpustakaan bagian anak-anak usia dini. Ada seorang pemandu yang dengan sabar membaca cerita untuk anak-anak ini, menjawab setiap pertanyaan mereka yang beragam, dan selalu dengan lembut mengapresiasi pendapat mereka. Ini adalah salah satu contoh praktik sederhana dalam membangun berpikir kritis dan rasa hormat pada anak-anak. Di Indonesia sendiri telah banyak penelitian tentang berpikir kritis sebagai metode efektif dalam proses belajar mengajar, namun masih banyak juga tantangan dalam penerapannya. Dan inilah yang menjadi tugas kita bersama sebagai orang tua, anggota keluarga, dan guru untuk meng-encourage anak berpikir kritis dan hormat atas hasil pemikiran dirinya dan orang lain. Di lingkungan rumah, sudah sejauh mana kita mengajarkan ini pada anak dan saudara kita? Di lingkungan sekolah, sudah sejauh mana para guru mengayomi muridnya berpikir kritis dan hormat satu sama lain? Sejauh mana kita tinggalkan proses dikte, ‘asbun’, judging yang mematikan rasa hormat dan pemikiran kritis para generasi muda?

    Pendekatan yang tepat dan konsisten

    Konsep memang selalu lebih menarik untuk didiskusikan, tak heran banyak pejabat dan para konseptor lebih senang berdebat tentang sebuah konsep disbanding evaluasi efektifitas dari hasil implementasinya. Padahal, seluruh proses mulai dari desain, analisis, implementasi dan evaluasi dari sebuah konsep harus berjalan secara seimbang. Konsep berpikir kritis dalam pendidikan Indonesia sudah banyak dibahas, namun implementasi dan evaluasinya terutama untuk sekolah dasar dan menengah masih belum optimal. Belajar berpikir kritis secara sederhana dapat dimulai dengan pendekatan yang tepat dan berkesinambungan. Sebagai contoh penyesuaian minor perilaku orang tua/guru terhadap anak/muridnya adalah hal yang paling dasar yang bias dilakukan, tentunya dengan proses  yang konsisten.

    Observasi saya lainnya yang sediki trelevan dengan bahasan ini adalah tentang inisiatif universitas melalui perpustakaannya yang memfasilitasi workshop rutin tentang critical thinking, reading dan maupun writing untuk para mahasiswanya. Proses ini adalah contoh pendekatan yang tepat dari universitas untuk mendukung mahasiswanya agar bias survive dari tingginya tuntutan setiap matakuliahnya. Dan ini dilakukan secara terus menerus dengan evaluasidan maintenance  yang sigap, sebuah situasi yang membuat bangsa kita iri bukan?

    Dari observasi-observasi tersebut kemudian saya bisa simpulkan bahwa kebiasaan berpikir kritis ini memiliki dampak positif  yang luas dan sistemik yang mampu terus membawa perbaikan. Ini bisa dimulai dari membimbing generasi muda untuk selalu berani berpikir. Menyampaikan pendapat dan menghormati satu sama lain. Semoga sedikit opini ini membuat kita cemburu dan menggugah kita untuk mengimplementasikannya di Indonesia, dimulai dari yang terdekat yang bias kita lakukan.

     

    Writer : Budi Permana

    Statistics | Molecular Biology | Computer Science

    Master of Bioinformatics

    The University of Queensland, Australia

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: