• Dibalik postingan “Here I am, Finally UK!”

    20160102_123327

    Foto taken at Brighton Grove, Fenham, Newcastle Upon Tyne

    Bagi saya, tahun baru adalah malam seperti biasa. Tidak ada yang istimewa. Saya bukan tipe orang yang suka perayaan, kembang api, dan keramaian. Jadi, saya memilih untuk tinggal di rumah dan menonton (menemani mama menonton) acara dangdut kesukaan mama. Tapi tahun baru kali ini cukup berbeda. 31 Desember 2015 adalah hari di mana saya melangkah ke mimpi dan hidup saya yang baru. Hari di mana semua perjuangan yang telah saya lakukan, semua penantian yang panjang, dan semua pertanyaan “kamu kapan kuliah” “kapan berangkat” “kamu sekarang sibuk apa sih” sudah terjawab.

    Siapa yang menyangka bahwa 2015 memberi banyak, banyak kejutan untuk saya. Kejutan itu dimulai ketika saya memberanikan diri untuk mewujudkan mimpi saya, melanjutkan pendidikan di luar negeri. Ketika saya masih kecil, saya selalu berangan-angan untuk bisa tinggal di luar negeri. Mimpi yang sangat mustahil, pikir saya. Saya malu untuk mengatakannya, tapi tetap saja saya bermimpi tinggal di luar negeri dan menikmati melankolis musim dingin dan salju. Then, I did it!. Saya mendapatkan beasiswa LPDP untuk belajar di Newcastle University, UK!. Saya sangat senang. Tapi, ceritanya tidak semudah timeline yang saya tempel di dinding kamar saya yaitu Mimpi – Daftar LPDP – Lulus – dan bilang “Here I am, Finally UK!” sambil mem-post nya di akun Instagram saya. Tidak, tidak semudah itu. Ada banyak sekali tantangan dibalik pencapaian saya sekarang.

    Tantangan Pertama adalah IELTS Test. IELTS adalah sesuatu yang baru untuk saya. Bagi saya, seorang gadis yang memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang biasa-biasa saja, IELTS Test adalah hal yang sangat berat, sama beratnya dengan pura-pura minta tolong gebetan “eh ini gimana sih cara kerjanya, ga ngerti”. Saya sempat menyerah karena setiap kali pre-test, skor saya jauh dari required score. Setelah selesai kursus selama dua bulan, saya pun menunda untuk mengikuti IELTS Test karena masih kurang percaya diri. Dan itu berarti saya harus menunda proses aplikasi LPDP. Tapi, good thing takes time, right?. Kemudian, saya belajar mandiri di rumah setiap hari. Essay, vocabulary, grammar, listening test dan writing test adalah menu saya setiap hari. Akhirnya selama tiga bulan belajar sendiri, saya memberanikan diri untuk mengikuti IELTS Test. Syukur Alhamdulillah, hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Saya mencapai skor untuk mendaftar LPDP dan LOA dari Universitas. Alhamdulillah proses seleksi LPDP pun lancar dan Saya lulus menjadi salah satu penerima beasiswa LPDP. Saya Bersyukur.

    Tantangan selanjutnya adalah Medical Check Up (MCU). Tahun 2013, Saya pernah melakukan MCU dan hasilnya adalah saya TB Carrier. Saya trauma jika ini terjadi lagi pada saat MCU untuk pengurusan Visa Inggris. Pengurusan Visa Inggris sangat sangat ketat. Banyak dokumen yang harus dipersiapkan jauh-jauh hari, salah satunya adalah Sertifikat Bebas TB. Saya memutuskan untuk melakukan medical check up terlebih dahulu sebelum melakukan TB Screening di Rumah Sakit yang ditentukan oleh Kedutaan Inggris. Hasil dari MCU yang saya lakukan di Makassar adalah positif carrier. Sehingga saya harus menjalani pemeriksaan selama tiga bulan. Mengingat waktu itu masih banyak waktu untuk mengurus Visa, saya mengikuti prosedur untuk melakukan pemeriksaan setiap bulan. Berkali-kali saya menjalani TB Screening dan serangkaian pemeriksaan lainnya. Dan tiba saatnya saya harus melakukan pemeriksaan ke Rumah Sakit yang ditunjuk oleh kedutaan Inggris. Sayangnya, mereka tidak menerima hasil Screening dan pemeriksaan lainnya yang saya lakukan di Makassar. Sehingga saya harus Screening (lagi!). Saya sangat khawatir karena saya sudah tahu hasilnya akan positif seperti hasil MCU dari Makassar, dan itu berarti saya harus melakukan serangkaian pemeriksaan ulang dan memakan waktu berbulan-bulan. Padahal jadwal kuliah saya adalah tiga bulan lagi. Tidak akan cukup untuk melengkapi semua dokumen untuk visa. Saya sedih. Sempat berpikir untuk mengganti Universitas, tapi tetap saja prosedurnya akan sama. Akhirnya saya tetap melakukan pemeriksaan ulang. Namun yang terjadi ternyata di luar dugaan. Hasil TB Screeningnya adalah negatif!. Saya deg-degan.

    Meskipun saya sudah melakukan serangkaian check up yang membuktikan kalau saya sehat, itu tidak menjamin bahwa saya berangkat Januari ini. Karena saya belum memiliki LOA dari Newcastle. ini juga membuat saya khawatir dan harap-harap cemas. Saya sempat berencana setelah PK saya bisa tinggal di Jakarta untuk mengurus dokumen yang diperlukan untuk Visa application. Apa boleh buat, saya harus kembali ke Makassar karena saya belum memiliki LOA. Hal lain yang membuat saya ingin kembali ke Makassar, dan ini tantangan yang paling besar yang menentukan jadi tidaknya saya ke Newcastle, karena mama sakit. Sebelum saya ke Jakarta untuk mengikuti Persiapan Keberangkatan LPDP, mama sudah dirawat di rumah sakit. Tetapi, mama sempat sembuh dan kembali ke rumah. Beberapa hari kemudian mama kembali sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Kembalinya dari Jakarta, saya tidak pernah pulang ke rumah walau hanya sekedar menyimpan koper. Saya, mama, bapak, dan adik melalui hari-hari di rumah sakit. Saya harap-harap cemas.

    Sambil merawat mama, saya menunggu kabar dari Newcastle. Suatu pagi, saya membuka email di teras kamar rawat mama. Wow, email dari Newcastle yang menyatakan bahwa saya diterima sebagai kandidat MPhil di Universitas tersebut. Saya langsung memeluk mama dan menyampaikan kalau saya lulus!. Mama bahagia, saya bahagia. Belum selesai dengan kebahagiaan pagi itu, dokter datang dan memanggil saya untuk bicara tentang keadaan mama. Kata-kata dokter, hasil diagnosis penyakit mama, hasil screening mama, semuanya yang dikatakan dokter hari itu membuat semua mimpi dan perjuangan saya tidak ada artinya lagi. Hari itu mama didiagnosis kanker payudara stadium akhir dan sudah menyebar ke seluruh tubuh. Hari itu, mendapat LOA tidak lagi sebahagia setengah jam yang lalu, Inggris tidak lagi seindah yang saya bayangkan, Salju tidak lagi semenyenangkan yang seharusnya. Saya hancur.

    Mama, yang saat itu sudah sangat kesakitan, masih menanyakan bagaimana persiapan saya. Kenapa saya lemah sedangkan mama kuat. Akhirnya saya tetap mengurus kelengkapan dokumen saya. Beberapa kali revisi Letter of Sponsorship dari LPDP, menanyakan pengurusan visa ke teman-teman, semuanya saya lakukan sambil merawat mama di rumah sakit dengan penuh harap bahwa mama akan sembuh. Setelah sebulan di rumah sakit, setelah berkas saya akhirnya lengkap dan tinggal mengikuti wawancara visa, mama meninggal. Kata terakhir yang mama katakan kepada saya adalah kekuatan terakhir saya untuk benar-benar memutuskan saya bisa mengejar cita-cita saya “pergi nak! buktikan kamu bisa”. Losing my mom is the most heart breaking moment in my life. Tetapi saya harus terus mengejar cita-cita saya dan membanggakan mama. Tiga hari kemudian saya mewujudkan keinginan terakhir mama, terbang ke Jakarta untuk mengurus Visa.

    Mengurus visa tidak semudah yang saya bayangkan. Dengan dokumen yang saya pikir sudah lengkap, nyatanya saya harus melakukan beberapa kali revisi yang membuat saya tinggal lebih lama di Jakarta. Saya, yang seharusnya ada di samping bapak, harus melengkapi semua persiapan saya sebelum berangkat. Setelah dua minggu di Jakarta, Visa Application saya akhirnya selesai dan tinggal menunggu hasilnya. Waktu itu hati saya benar-benar merasakan semua rasa harap-harap cemas, deg-degan, khawatir, duka, sedih, tapi tidak dengan bahagia. Bayangkan, saya hanya punya waktu dua minggu lagi bersama keluarga sebelum saya berangkat ke Newcastle. It should be the most exciting moment in my life, waiting for leaving to UK and looking forward what winter looks like, in fact, it is the most saddest moment in my life.

    Foto taken at Brighton Grove, fenham, Newcastle Upon Tyne

    Foto taken at Brighton Grove, Fenham, Newcastle Upon Tyne

    Benar Tuhan adalah Maha Membolak-balikkan hati. Benar Tahun 2015 adalah tahun penuh kejutan. Akhir tahun 2015, setelah semua kejutan hidup yang saya dapatkan, saya berangkat ke inggris. Hari itu saya melalui perjalanan yang sangat panjang, merayakan tahun baru di tiga negara yang berbeda, menuju negeri impian saya untuk melanjutkan pendidikan. And here I am, Finally UK!  surrounded with british accent every day every where.

    20160102_123353

    Foto taken at Brighton Grove, Fenham, Newcastle Upon Tyne

     

    Newcastle Upon Tyne, 19th January 2016

    Penulis : Resty Asmauryanah Armis

     

     

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: