• Diplomasi Ala (Awardee) LPDP

    Indonesia adalah bangsa yang terus belajar, berkembang dan terus berbenah diri, para founding fathers yakin banget kalo bangsa ini memiliki potensi untuk menjadi bangsa yang besar. Indonesia saat ini memiliki 64 persen populasi dalam rentang usia produktif pada 2020-2030 atau yang sering disebut dengan bonus demografi, maka peningkatan kapasitas dan produktifitas para generasi muda harus dikelola dengan baik agar dapat menjadi kekuatan yang dapat membangkitkan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun banyak juga yang bilang klo bonus demografi itu ibarat pedang bermata dua yang bisa menjadi berkah atau musibah. Tantangan inilah yang perlu dibuktikan oleh generasi muda Indonesia saat ini.

    LPDP lahir tahun 2012 dari buah pemikiran visioner dalam upaya mengantisipasi bonus demografi Indonesia dan juga memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk menuntut ilmu seluruh penjuru dunia, suatu kesempatan yang mungkin tidak dimiliki oleh generasi sebelumnya. Tujuan LPDP dibentuk sebagai pengembangan kualitas SDM di berbagai bidang salah satunya melalui beasiswa. Sebelum kita mengenal beasiswa LPDP mungkin kita mengenal AUSAID, Fullbright, Chevening, Erasmus Mundus, Swedish Institute, Stuned dan beasiswa lain berdasarkan negara tujuan. Kalaupun ada beasiswa dari pemerintah biasanya dari Dikti namun lebih diutamakan untuk para pengajar. Jadi hal pertama yang perlu digarisbawahi adalah kesempatan makin besar untuk meraih beasiswa dengan adanya beasiswa LPDP and by far i think the most generous scholarship i ever know from the government of Republic Indonesia. Gak bisa dicompare sama beasiswa dari perusahaan or multinasional company pasti beda playing field, tapi LPDP memberikan kesempatan yang luas seluas-luasnya buat para generasi muda untuk menuntut ilmu dengan langit batasannya selama memiliki kemampuan dan persyaratan seusai dengan standar kriteria yang sudah ditetapkan tentunya.

    Beberapa kalangan banyak yang bilang kalo dapet beasiswa LPDP itu gampang, kenyataannya banyak juga yang 2 kali interview gak dapet-dapet atau malah gak dipanggil sama sekali, semuanya kembali ke usaha dan doa dari masing-masing individu dan mungkin kita gak pernah tau jerih payah seseorang untuk dapetin beasiswa LPDP itu bagaimana beratnya, namun yakinlah semua usaha yang dilakukan dengan tulus, ikhlas, determinasi dan doa akan menghasilkan yang terbaik buat kita.

    Perlu kita sadari bersama juga klo beasiswa merupakan produk diplomasi, diplomasi antar provinsi maupun diplomasi antar negara. Contoh gampangnya yang belum pernah tinggal di Jakarta, Bandung, Jogja maupun kota-kota lainnya di Indonesia memiliki pengalaman baru, budaya baru dan belajar mandiri serta menghargai keberagaman  yang menjadikan Indonesia saat ini. Begitu juga dengan rekan-rekan awardee yang belajar ke luar negeri melihat dunia lebih dari sekedar yang diketahuinya dan belajar beradaptasi dengan lingkungan yang benar-benar berbeda.

    Setiap pelajar yang belajar ke luar negeri merupakan duta bagi negaranya, duta untuk mengenalkan lebih negaranya dan duta untuk mengenal negara lain kemudian kembali membawa Ilmu serta nilai-nilai positif yang diperoleh selama menempuh masa studinya. Sebagai duta maka sudah seharusnya sikap, perilaku dan nilai-nilai bangsa harus selalu kita pegang teguh dan kita jaga agar Indonesia juga memiliki citra yang baik di negara penerima kita. Karena setiap tingkah laku yang kita lakukan secara tidak langsung mencerminkan citra bangsa Indonesia. Tentunya kita ingin agar nama bangsa kita tetap harum di negeri orang dengan menghindari hal-hal yang negatif dan kontraproduktif dengan tujuan kita belajar ke negeri orang. Merupakan kewajiban setiap awardee untuk membawa nama baik Indonesia, pemberi beasiswa, keluarga dan diri sendiri sehingga ketika kembali nanti kita dapat berdiri tegak dan bangga atas jerih payah yang kita lakukan.

    Mungkin kita akan mendapatkan pendidikan akademik yang bagus di dalam kampus dalam mengembangkan Intelektualitas kita namun membangun karakter sama pentingnya dengan pendidikan itu sendiri. Membangun karakter dapat dilakukan dengan beradaptasi dengan lingkungan dan budaya positif negara setempat, menghargai perbedaan dan keberagaman, berinteraksi dengan pelajar dari negara lain serta turut melakukan kontribusi  di lingkungan sekitar kita sekecil apapun itu. Jadi janganlah sungkan, jangan lewatkan moment-moment berhargamu di dalam dan di luar kampus enjoy and explore the path we have choose to live and grateful for it.

     

    Writer : Marlodieka Wibawa

    Student of Lund University

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: