• From Jordan to Jivakalpa

    FROM JORDAN TO JIVAKALPA

    Hi, I am Fenti ^^

    Kamis, 15/10/2015, tepat pukul 09:30 waktu Amman, awal aku menginjakan kaki di negara yang konon memiliki banyak sejarah tentang peradaban Islam. Well, aku bersyukur bisa melanjutkan magisterku masih di Negara Timur Tengah meski berubah dari tujuan awal. Di bandara atau lebih tepatnya di bagian imigrasi Jordan, aku sempat terlantar setengah jam karena ada sedikit masalah dengan passport yang ternyata tidak sampai setahun bakal habis masa, sedangkan aku akan melanjutkan kuliah yang dalam perkiraan dua tahun selesai. “Untung saja bukan dikira teroris,” pikirku iseng. Hehehe. Sebenarnya deg-degan juga, untung saja ada wifi disana jadi aku bisa langsung kontak kakak HPMI yang kebetulan sudah ada di bandara untuk menjemput bahwa pasporku sedang diperiksa dan aku masih tertahan untuk beberapa waktu. Syukur paspor tidak begitu lama ditahannya, jadi aku bisa cepat melihat bagaimana negara yang akan aku tinggali dalam 2 tahun ke depan.

    Dan apa yang aku lihat? Bangunan yang serba coklat tak berwarna, bukit dimana-mana, jalan yang naik turun ibarat lirik “mendaki gunung lewati lembah. Hehehe” Just kidding. Dan yang lebih bikin kaget, ongkos dari bandara ke tempat yang sudah disepakati untuk kusinggahi sementara, itu sebesar 20 JD sama dengan 400ribu padahal jaraknya cuma 20-30 menit. Tapi ya sudahlah, toh itu pakai uang kakak awardee LPDP yang menjemput aku di bandara. Hehehe.

    4FYFjTBq

    Setiba di rumah Kak Ria, disana sudah ada calon tetangga dan temen serumah yang sudah menunggu. Disana pula aku sedikit berkenalan dan makan-makan sampe sholat dzuhur lalu kita langsung go ke kosanku yang konon masih berantakan, sepaket dengan lemari yang belum di pasang, ranjang dan kasur yang juga masih berserakan. Tapi lagi-lagi aku bersyukur, teman serumah dan kakak-kakak awardee lainnya membiarkan aku istirahat karena capeknya perjalanan tadi. So, bangun dari tidur pemandangan yang kulihat adalah rumah telah rapi. Hehehe. Makasih semua 🙂

    Soal kuliah, aku sebenarnya sudah terlambat dua minggu dari mulainya tahun akademik dikarenakan beberapa acara di Indonesia yang tidak bisa ditinggal (read: PK 43 Jivakalpa. Benih Kehidupan, Jaya Khatulistiwa). Cieee yang belum move on :D. Tapi jujur saja, memang belum bisa move on. Sekarang rasanya kalau ingat teman di PK berasa sedih lagi T_T

    Oke lanjut.

    Hari minggu, awal kegiatan disini (jum’at dan sabtu adalah hari libur), aku dah semangat mau kuliah eh lagi-lagi ada masalah. Ternyata ijazah S1 ku belum dilegalisir kementerian Jordan dan akhirnya belum bisa registrasi ulang dan mengambil mata kuliah. Jadilah aku menunggu lagi dan hari itu tidak jadi masuk kelas. Ya sudahlah mau diapakan lagi. Lagi-lagi aku bersyukur temanku juga satu jurusan jadi bisa tanya ke dia tentang mata kuliah. Esoknya hari senin, ijazah S1 sudah di tangan. Bersama teman dan kakak kordinator awardee (yang dinobatkan secara aklamasi :D) kita ke kampus untuk urusan registrasi dan segala tetek bengeknya. Dan Alhamdulillah hari ini aku dah bisa masuk kelas dan langsung dapat tugas (mantap bangeeet :D)

    Tapi tunggu dulu, perjalanan registrasi ini pun ada ceritanya, disini perjalanan yang wah banget, lagi-lagi aku harus jalan kaki sebab tempat yang lumayan jauh juga perjalanan yang menghabiskan banyak air minum. Aku harus mencari tempat registrasi dimana, bendahara dimana, dan dekan fakultas juga dimana. Bolak balik yang sangat lumayan, jalan yang naik turun dan gedung yang jarang (lumayan maklum, kampus ini ada di atas bukit dan rata-rata di Jordan juga kebanyakan bukit batu). So nikmati dan sabar saja. Hehehe.

    Kuliah, untuk bahasa aku tidak terlalu kaget karena sudah 4 tahun kuliah di Timur Tengah tepatnya di Mesir walau jelas ada sedikit yang berbeda dari bahasanya. Hal yang membuat aku sedikit kaget adalah tugasnya. Di tempat kuliah dulu, mahasiswa tidak mendapatkan tugas dan hanya mengikuti kurikulum yang ada. Ikut ujian dan lulus. Dan di Jordan tugas adalah pengalaman yang baru banget. Harus belajar dari awal tentang penulisan karya ilmiyah. Sedang dari segi kehidupan juga kaget, soalnya setiap kali ingin belanja, uangnya pasti dihitungin dulu lalu di convert ke rupiah dan ujung-ujuangnya tidak jadi belanja. Wkwkkw. Tapi sekarang Alhamdulillah sudah nyante sedikit, kalau tidak begitu ya tidak akan belanja disini.

    Demikianlah cerita saya. Hehehe. Overall, di tempat yang jauh dari Indonesia ini, aku meminta doa teman-teman semuanya. Mudah-mudahan semua urusan dilancarkan dan perkuliahanku selesai tepat waktu. Thanks. 🙂

     

    Writer: Fenti Febriani

    Student of WISE University, Master program Hadith and Its Science.

    Comments

    comments

2 Responsesso far.

  1. Aris says:

    Cerita yang menarik. Semoga sukses kulihanya fenti.

    Benih kehidupan, Jaya katulistiwa

  2. kisah menarik dari Timur Tengah.. jarang denger cerita-cerita kaya gini.

    sukses kuliahnya mba Fenti.. smg kami bs segera nyusul segera belajar, di manapun itu berada. 🙂

Leave a Reply

%d bloggers like this: