• Gadis Kecil itu Bernama Tari

    19 Desember 2015, langit Sebatang  tak begitu cerah, masih tersisa bekas guyuran hujan semalam. Setelah menghabiskan beberapa waktu di PAUD desa Sebatang, sekitar pukul 10.15 WIB, saya dan beberapa rekan dan panitia kakak adik inspirasi bergerak menuju SD Muhammadiyah Menguri yang saat itu bertepatan dengan hari penerimaan hasil belajar siswa semester genap. Tempat ini nyata asing bagi saya, ribuan kilometer jaraknya dari tempat saya bermukim di Sulawesi Tenggara.

    Pagi itu, saya bertemu dengan sesosok gadis berhijab cokelat, tingginya kira-kira sebahu saya, murid kelas 4 SD Muhammadiyah Menguri, Dwi Astari. Dengan sedikit teriak saya menyapa “Hi, Dwi, saya Linda, kakak kamu”. Segera ku rangkul bahunya, dan bersama berjalan menuju ruang kelas yang rupanya disiapkan sebagai tempat welcoming food bagi kami.

    Setelah beberapa saat, kami terjebak dalam percakapan ringan sambil menikmati asinan di cuaca yang cukup tenang. Sekedar perkenalan, gadis itu mengaku  “saya kalo sudah besar, kalo gak jadi dokter, jadi guru”. Tari, begitu sapaan akrabnya, sebenarnya menyukai pelajaran Bahasa Indonesia, nilai ujian semester terakhir juga membuktikan bahwa dia menyukai bahasa Indonesia. Tari, adalah bungsu dari 2 bersaudara sekaligus sebagai putri tunggal dalam keluarganya. Setelah beberapa saat bersapa, saya dan teman-teman kakak inspirasi lainnnya melakukan kunjungan langsung ke rumah masing-masing adik kami.

    Perjalanan home visit saya ditemani oleh mas Aziz dan Tari bersama menuju rumah Tari dengan mengendarai motor bebek. Medan yang ditempuh sangatlah “tangguh.” Tak tanggung-tanggung, beberapa kali saya harus berjalan kaki karena motor bebek tersebut tidak mampu mendaki jalan setapak yang menjadi semakin licin dan berlumut karena guyuran hujan semalam. Berliku-liku mendaki gunung di jalan yang lebarnya kurang lebih satu meter dengan sudut kemiringan sekitar 45 derajat. Di sekeliling hanya ada hutan dan jurang. Sesekali satu dua rumah tampak. Tak ada angkot apalagi commuter line. Yang ada hanya suara kumbang dan burung. Inilah perjuangan yang harus ditempuh Tari setiap harinya demi menuntut ilmu untuk cita-cita yang telah dia gantungkan. Selama hampir 4 tahun, setiap harinya, setidaknya satu jam harus dihabiskan oleh Tari berjalan kaki di tengah panas terik ataupun hujan badai untuk dapat ke SD Muhammadiyah Menguri. Sungguh perjalanan yang menantang adrenalin.

    Sesampainya saya di rumah Tari, saya disambut hangat oleh ibu dan bapak Tari. Segeralah saya melangkahkan kaki ke sebuah rumah petak yang cukup memprihatinkan. Tak ada couch yang nyaman, atau sekedar ubin yang menjadi alas kecuali tanah. Sekilas mata saya mengarah ke sekiling dan akhirnya saya hanya mendapatkan sebuah jam dinding rusak yang terpajang di dinding rumah. Disparitas nyata yang mungkin tidak dialami oleh sebagian besar teman-teman. Beruntunglah kita yang diberi kelengkapan fasilitas untuk bersekolah.

    Foto bersama kakak dan adik inspirasi di depan rumah kediaman Tari ketika melakukan home visit

    Foto bersama kakak dan adik inspirasi di depan rumah kediaman Tari ketika melakukan home visit

    Sehari-harinya, selain bersekolah Tari juga menyempatkan diri untukmembantu ibunya untuk bersih-bersih rumah dan mencari kayu bakar di hutan belakang rumah. Aktivitas ini mungkin jarang kita temukan sebagai kegiatan anak usia SD pada umumnya di sekeliling kita. Dimana, usia ini adalah usia kebanyakan anak untuk bersenda dengan teman, belajar, dan bermain. Saya nyatanya belajar banyak dari adik saya ini, dia wanita yang tangguh dan memiliki harapan yang besar untuk menjadi seorang dokter atau guru di kemudian harinya. Semoga harapan itu dapat terwujud kelak.  Aamiin ya Robbal Aalaamiin

     

    Penulis : Linda Ayu Riska Putri

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: