• Hackathon Merdeka 2.0 : Mencari Solusi Masalah Kependudukan Dengan Code

    Perkenalkan nama saya Gamal Abdul Nasser.  Teman-teman seangkatan sering memanggil saya GAN.  Pada tanggal 24-25 Oktober 2015, saya bersama mitra saya, Aldy Ahsandin (non-awardee, mantan co-founder sebuah game studio) mengikuti sebuah acara bertajuk Hackathon Merdeka 2.0. Acara ini ialah lomba pembuatan aplikasi IT dengan tema “Menyelesaikan Masalah Kependudukan” (dengan tambahan tema khusus yang baru muncul ketika acara, yaitu masalah asap). Uniknya, semua aplikasi harus dirampungkan dalam kurun waktu 24 jam.  Toh, sebagian peserta menyiasatinya dengan membawa prototipe, jadi mereka tinggal melakukan sedikit penambahan atau kustomisasi.

    Ajang semacam ini setidaknya sudah pernah diadakan  3 kali (tidak termasuk GameJam yang memiliki mekanisme berbeda). Ajang pertama dilaksanakan tahun lalu, November 2014,  di SABUGA ITB, Bandung. Penyelenggaranya Telkom, dengan tajuk BestApps.id, tanpa tema khusus, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan IndigoIncubator (saya akan membahasnya di tulisan lain).

    Ajang kedua diinisiasi oleh komunitas Code4Nation berkerjasama dengan Telkom, pada Agustus 2015, dan diberi nama Hackathon Merdeka. Kompetisi ini terkesan prestisius karena dilaksanakan di lingkup Istana Kepresidenan, dengan tema “Menyelesaikan Masalah Pangan”.

    Ajang ketiga ialah Hackathon Merdeka 2.0, yang saya ikuti. Berbeda dengan episode pertama, Hackathon kali ini dilaksanakan secara serentak di berbagai daerah, mulai dari Banda Aceh hingga Jayapura, dan bahkan melibatkan komunitas IT Indonesia yang di Sydney. Saya sendiri mengikutinya di Jogja, tempat saya bermukim saat ini.

    Oke, itu tadi pembahasan hackathon secara umum, dan sejarah singkatnya. Lalu aplikasi apa yang saya buat bersama mitra saya? Secara teknis, ide pembuatan aplikasi kami baru fix pada hari-H acara. (Ini namanya kreatif bung!) Aplikasi itu kami namakan e-RT, dibaca erte. Fungsinya, mencatat keluhan permasalahan di tingkat Rukun Tetangga alias RT. Kenapa RT? Sebab, RT adalah wilayah administratif terkecil dalam masyarakat. Lazimnya, berbagai permasalahan akan diketahui oleh ketua RT. (Warga biasanya akan melaporkan peristiwa-peristiwa luar biasa ke ketua RT-nya).  Pelaporan yang berdasarkan daerah terkecil ini juga bisa ditarik datanya hingga tingkat atas, untuk pemetaan lokasi masalah-masalah penting, atau untuk alert system terhadap kasus-kasus darurat (kebakaran, banjir, kriminalitas). Sistem pelaporan aplikasi ini akan dibangun dengan menggunakan sms gateway agar mudah digunakan oleh masyarakat. Sistem ini dipilih karena penetrasi internet di wilayah terpencil sangat susah dan/atau sangat mahal (khususnya di wilayah Indonesia Timur). Kami yakin, aplikasi ini memberi sumbangsih besar untuk pembangunan daerah tertinggal. Kalau teman-teman ingin tahu lebih lanjut, langsung tonton videonya aja 😀

    Dalam kompetisi ini, tim kami (yang kami namai Absurd) belum menang. Meski demikian, tetap ada banyak hal yang kami dapatkan dalam ajang prestisius ini. Pertama, kami dapat koneksi, karena yang datang tidak hanya developer, tapi juga akademisi, PNS, pejabat. Kedua, makan gratis :D.

    Nah, saya rasa cukup ini dulu teman-teman, kalau ada yang mau share ide bisnis ataupun aplikasi untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada, silakan email ke gamalanpro[at]gmail[dot]com.

     

    Terima Kasih.
    Mantan Kuli Coding.
    Jogja, UGM, Magister Ilmu Komputer, 22 Muharram 1437.

     

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: