• How Are You ?

    Mungkin pertanyaan sederhana diatas yang akan kalian sering dengar di jalan ketika berpapasan dengan orang lain di Australia. Biasanya pertanyaan ini akan dijawab dengan jawaban singkat seperti ‘Good thanks’ atau ‘I’m very well thank you, how are you’, kedua jawaban ini tentunya merupakan jawaban yang diutarakan untuk menjaga kesopanan. Tanpa maksud untuk menanyakan keadaan kalian lebih jauh atau ingin mendengar curhatan tentang hubungan asmara kalian yang mulai meresahkan. Cara menyapa yang berbeda dengan di Indonesia ini adalah yang perlu saya biasakan ketika menginjakan kaki di negara kangguru ini. Negara yang berjarak ±3,455 km dari Indonesia.

    Perjalanan yang jauh ini sepantasnya sudah saya siapkan jauh-jauh hari. Namun berat sekali bagi saya untuk mempersiapkan barang bawaan. Daftar barang bawaan saya tidak pernah saya perhatikan, dua koper yang masih berkapasitas 20kg belum saya isi hingga H – 4. Orang tua saya bolak-balik mengingatkan untuk mulai mempersiapkan barang bawaan, namun perkataan mereka tidak pernah saya dengar.

    Saya merupakan anak kedua dari tiga saudara dimana saya memang satu-satunya yang selalu bepergian jauh dan jarang menetap di rumah. Dimulai dari jaman SMA saya di Bali, saya selalu menyibukkan di

    sidney

    Pemandangan dari ± 1500  diatas permukaan laut, Sydney

    ri dengan sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, les tambahan ditambah dengan bepergian dengan teman-teman sekolah saya. Dilajutkan dengan masa perkuliahan yang saya habiskan di Bandung, Jawa Barat. Tempat-tempat baru selalu membuat saya tertarik dan membuat saya meninggalkan rumah dalam waktu yang lama. Namun keputusan saya untuk melanjutkan study di Sydney, Australia ini terasa berbeda. Hal yang saya khawatirkan adalah jaraknya yang tidaklah dekat, yang membuat saya tidak dapat bolak-balik mengunjungi keluarga saya.

    Kembali mengingat di Tahun 2015, tahun yang penuh kejutan dan sekaligus penuh air mata bagi keluarga saya. Dimulai di bulan Maret, bertepatan sehari setelah ulang tahun saya, hasil test IELTS saya diumumkan. Usaha yang saya habiskan selama 2 bulan belajar intensif di Pare, Kediri, Jawa timur terbalas sudah. Rencana manis Tuhan dilanjutkan dengan lancarnya proses penerimaan saya untuk mendapatkan beasiswa LPDP, diawali dengan lulus test administrasi hingga lulus test wawancara yang diumumkan di bulan Juni.

    Namun Tuhan mempunyai rencana lain bagi keluarga saya, di bulan Juni juga merupakan bulan terberat di keluarga saya. Di bulan ini, Ibu saya didiagnosa mengidap kanker. Bulan bulan selanjutnya merupakan mimpi buruk bagi keluarga kami. Sosok Ibu di keluarga kami adalah sebagai salah satu pilar utama di keluarga kami, beliaulah sosok yang serba bisa di kelurga kami. Operasi demi operasi harus Ibu saya jalani, beberapa rangkaian pengobatan juga harus ibu saya jalani. Puluhan pil obat harus Ibu saya konsumsi tiap harinya. Dimana pengobatan dan pil-pil obat ini bukan saja membunuh sel kanker di tubuh ibu saya, namun pelan-pelan juga membunuh sel-sel sehat di tubuh ibu saya. Malam panjang penuh air mata dimana saya dan anggota keluarga saya harus bangun di tengah malam untuk membantu ibu saya ke kamar mandi untuk muntah. Setelah tujuh bulan penuh perjuangan bagi Ibu saya, di bulan Desember akhirnya Ibu saya diperbolehkan untuk menghentikan pengobatan dan sudah diijinkan untuk periksa hanya enam bulan sekali saja. Namun yang keluarga saya sangat paham bahwa sel kanker bisa saja berkembang kembali tanpa kami ketahui. Keadaan Ibu ini yang mungkin membuat saya merasa berat untuk meninggalkan rumah. Sempat terbesit untuk menunda keberangkatan sekolah saya, namun tentu Ibu sayalah orang pertama yang akan menentang keputusan saya.

    Maka, tanggal 13 februari 2016 merupakan hari keberangkatan saya. Di hari itu saya masih sibuk menyiapkan koper bahkan masih banyak barang yang tertinggal dan tidak sempat terbeli. Betapa kurang persiapannya saya ketika itu, ketika saya harus mulai menjadi orang yang lebih dewasa, yang lebih bertanggung jawab mengemban amanah negara untuk menempuh pendidikan di salah satu negara yang mempunyai pendidikan terbaik di dunia. Perjalanan dari rumah ke Bandara diantar oleh keluarga, dan berangkatlah saya seorang diri ke negara impian saya. Tanggal 14 Februari, tepat pukul 7.45am waktu Sydney, Australia saya tiba di kota tempat saya akan menghabiskan dua tahun hidup saya, dua tahun yang harus saya perjuangkan.

    compressed-c4nw

    Opera House dan Sydney Harbour Bridge

     

    Penulis : Made Marsya Surya Handarini

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: