• Kegigihan dalam Keterbatasan Mengejar Cita

    -Anak-anak itu sederhana, Terima kasih Edi udah memberikan makna “kesederhanaan”-

    Hujan gerimis menyambut kedatanganku di kota Pelajar, Yogyakarta. Sekitar pukul 08.00 WIB, rombongan tim MI dan teman-teman dari Jakarta, Jawa Timur dan Bandung berangkat menuju desa Sebatang. Banyak hal yang dinanti dan menanti.

    Salah satu alasanku datang ke Sebatang adalah ingin bertemu dengan seorang anak laki-laki yang bernama Edi. Sejak bulan Oktober lalu, aku mendaftar menjadi “Kakak” bagi anak-anak Sebatang. Bukan karena alasan ingin eksis atau apapun, tapi hanya karena asas pengalaman. Saat aku seusia mereka, aku pernah tinggal di sebuah desa kecil dan begitu senangnya ketika ada kakak-kakak KKN yang datang dan berbagi ilmu dengan kami. Ketika itu, aku mulai banyak bermimpi ketika mendengar cerita dan kisah kakak-kakak KKN waktu itu. Maka dari itu, aku ingin menjadi “kakak” bagi anak-anak di sana. Sederhana, karena anak-anak tidak pernah berpikir  kompleks seperti orang dewasa.

    Ini adalah kali pertamanya aku datang ke Sebatang. Sebelumnya, teman-teman yang lain sudah datang dan telah bertemu dengan masyarakat Sebatang. Hari itu, kami berangkat menuju ke Sebatang kurang lebih menempuh waktu satu jam lima belas menit. Selama perjalanan, banyak cerita dari Mas Weda, Mas Johan, Millah tentang cerita-cerita kocak selama di Sebatang (dari insiden nyasar Mas Budi sampai cerita nabrak motor hahha)

    Siang itu, Mba Lail dan Andre dengan sabar mengantarkan aku, Sayu, Marsya,  dan Millah kerumah adik-adik kami. Karena jarak yang cukup jauh, maka kami memutuskan untuk naik motor. Dan akhirnya, aku mendapatkan kehormatan untuk naik motor punya Ela, bersama salah seorang yang beruntung yang aku boncengin yaitu Millah, gadis Jawa yang kuliah di Bandung J (agaklebayyaahehhe) . Walaupun sempat nyasar dan sempat meminta Millah untuk turun pas tanjakan, tapi itu semua terbayar ketika bisa bertemu dengan keluarga dan adik-adik kita.

    Jalanan setapak dan licin adalah jalanan yang dilewati Edi setiap hari menuju ke sekolahnya. Setiba di rumah Edi, sayang sekali Edi sedang bermain dan tidak ada di rumah. Tapi, Alhamdulillah bisa ngobrol dengan Bapak Ibu Edi. Ibu Edi yang sedang membuat gula merah dari Nira di dapur dan Bapak Edi yang sedang santai setelah mengambil raport Edi dan kakaknya. Mbak Lail yang sudah begitu akrab dengan orang tua Edi, memperkenalkan aku kepada orang tua Edi. Obrolan ringan seputar kegiatan keluarga Edi dan prestasi Edi membuatku trenyuh dan juga bangga.

    Keluarga Edi sangat mementingkan pendidikan untuk anak-anaknya, bagaimanapun kondisi perekonomian keluarga, Bapak Ibu ingin Edi dan kakanya (Mas Sigit) dapat melanjutkan sekolahnya hingga kuliah nanti. Dalam hati, aku aminkan setiap harap dan mimpi keluarga ini. Terlihat sekali dari mata Bapak Ibu yang berbinar-binar ketika menceritakan Edi, begitu bangganya menjadi orang tua Edi. Edi anak cerdas di sekolahnya, Edi sang juara kelas, Edi anak penurut dan selalu membantu kedua orang tuanya. Salah satu cerita yang kuingat ketika Bapak menceritakan bahwa Edi sangat pintar memanjat pohon Nira. Aku hanya berdoa semoga Edi dapat mengangkat derajat kedua orang tuanya kelak. Aammiinn.

    Minggu Pagi yang Ceria

    Pagi itu, terdengar suara senda gurau delapan anak yang sudah siap di depan rumah tempat menginap kami. Mereka semangat sekali dan membuat kami makin semangat untuk berjalan-jalan dengan mereka. Pantai Goa Cemara, sebuah tempat wisata di daerah Bantul. Selama perjalanan, aku duduk di samping Edi, kita bercerita banyak hal dari lagu kesukaan hingga makanan favorit. Jujur, aku jarang berinteraksi dengan anak-anak kecuali dengan keponakan, tapi pertama kali bertemu Edi, terasa begitu mudah untuk berinteraksi dengan bocah laki-laki ini.

    Edi, anak yang sangat pendiam jika bertemu dengan orang baru. Hal berbeda, ketika Edi berkumpul dengan Rimba, Syafiq, dan Ridho. Kami menyebutnya geng F4 ala boy band Taiwan J. Edi si pendiam pun sirna ketika mereka sudah bercengkrama. Ya begitulah anak-anak.

    Dari cerita beberapa teman dan kakak asuh Edi yang lain (Mas Sandro), Edi memiliki tingkat kepercayaan diri yang kurang, walaupun dia cukup cerdas di kelasnya. Tapi, ketika di out bond Edi sangat menikmati semua permainan dan tidak terlihat minder ataupun kurang percaya diri.

    edi1

    Dari permainan Finding Nemo, Dragon Ball dan Menara Sedotan, aku dan Edi belum beruntung, kami selalu bekerja sama dan terkadang Edi yang mengatur strategi, walaupun kami tidak menang, Edi terlihat sangat bersemangat mengikuti setiap permainan. Hingga di games terakhir yaitu Crocodile XXXX (maaf ya, kakaknya Edi lupa nama gamesnya hehe), Edi keluar sebagai Juara dong. Bangga senang terharu, padahal bukan anak sendiri hehehe.. Mungkin itu yang dirasakan oleh orang tua Edi ataupun orang tua kita, ketika melihat anak-anaknya berhasil atau sukses. Yaa, meskipun kurang dari 24 jam aku dan Edi bertemu, kita bias menjadi teman ngobrol dan tim yang baik.

    Rasa lelah tidak sebanding dengan senyum dan tawa adik-adik kita. Senengnya double combo. Sering denger cerita dari teman-teman yang udah datang ke Sebatang, katanya kalau  udah ke Sebatang bakal kepengen balik lagi. Indeed!

    Di Sebatang, ada adik kita yang menanti kita, yaitedi2u Edi.

    Walaupun Mas Sandro gak datang, dia menitipkan sebuah jersey  salah satu klub Liga Inggris. Edi seneng banget lho Kak Sandro. Langsung dipakai sama Edi ketika selesai dari out bond. “Terima kasih Kak”-Edi-

     

    FYI, Edi habis ulang tahun lho Kakak. Edi udah 10 tahun sekarang.

    Harapan untuk Edi, semoga Edi menjadi anak yang selalu sayang orang tua, rendah hati, dan makin pinter ya. (ditunggu juara-juara berikutnya Edi!)  Tetap Semangat teruskan sekolahnya, apapun yang terjadi, Edi harus terus sekolah ya.

     

    Penulis : Ristika Putri

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: