• Kolaborasi: Warisan Airtanah Untuk Masa Depan Indonesia

     

    Pendahuluan

    Airtanah merupakan salah satu sumber daya air yang memiliki peranan yang penting dalam pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Saat ini, pemanfaatan airtanah sangatlah dominan baik untuk kebutuhan industrial, pertanian, maupun domestik. Buruknya pengelolaan sumber daya air di beberapa daerah Indonesia menyebabkan tercemarnya sumber daya air baik air permukaan maupun airtanah sehingga perlu adanya pengelolaan airtanah yang tepat dan berkelanjutan.

    Selain itu, airtanah juga merupakan sumber daya terbarukan dengan catatan dimana butuh penanganan spesial dibandingkan dengan sumber daya terbarukan lainnya (PAAI dan GWWG, 2016) serta terdapat hak asasi manusia di setiap tetesnya. Dalam menjawab tantangan tersebut, peran saya sebagai awardee LPDP dan engineer hidrogeologi ialah berperan aktif dalam memastikan kualitas dan kuantitas airtanah yang ada saat ini minimal sama atau bahkan lebih baik di tahun yang akan datang, demi tersedianya airtanah yang berkelanjutan dalam menyonsong 100 tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Pembahasan

    Warisan airtanah untuk masa depan berkaitan dengan pengelolaan air tanah. Kontribusi nyata yang dapat dilakukan oleh seorang awardee LPDP dan engineer hidrogeologi seperti saya tentunya tak lepas dari dua aspek utama yaitu aspek teknikal dan non-teknikal. Aspek teknikal merupakan aspek teknis engineering airtanah yaitu dengan berperan dalam kegiatan keprofesian, untuk menunjang kegiatan perencanaan dan pengelolaan airtanah yang tepat dan berkelanjutan sesuai dengan kebijakan dan usulan yang ada, satu diantara beberapa usulan yang penting untuk ditindaklanjuti yaitu sumbangan pemikiran Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia (PAAI) dan Ground Water Working Grup (GWWG) dalam hal kebijakan pengelolaan airtanah yaitu: konservasi airtanah, pendayagunaan airtanah, dan pengendalian daya rusak airtanah (PAAI dan GWWG, 2016). Aspek non-teknikal berkaitan dengan sisi lain non-teknis yaitu: hukum, sosial, budaya, dan ekonomi seperti gerakan hemat penggunaan air, gerakan menabung airtanah, dan kegiatan lainnya baik secara individu maupun komunal. Kedua aspek yang ada tersebut saling berkorelasi sehingga dibutuhkan kolaborasi antar pemangku kepentingan dan disiplin ilmu pengetahuan untuk memastikan semua hal yang telah diusulkan dan direncanakan berjalan dengan semestinya.

    Potensi sumber daya air di Indonesia sangatlah besar, potensi tersebut berasal dari air permukaan berupa sungai, danau, embung, waduk, dan lainya serta airtanah yang berasal dari cekungan airtanah, sungai bawah tanah karst dan zona akuifer lainnya. Potensi sumber daya air tersebut disajikan dalam Gambar 1. di bawah ini.

    Gambar 1. Potensi sumber daya air di Indonesia (Puslitbang SDA, 2012, Modifikasi PAAI dan GWWG, 2016).

    Berdasar pada Gambar 1., dapat kita lihat bahwa betapa besarnya potensi sumber daya air di Indonesia, baik air permukaan maupun airtanah. Terdapat 3.906.500 x 106 m3/tahun air yang tersedia di Indonesia. Dari jumlah air yang tersedia tersebut, 25,3% telah digunakan untuk berbagai kebutuhan manusia dan 74,7% masih belum digunakan untuk setiap tahunnya. Air yang telah digunakan sebagian besar, 80,5%, digunakan untuk kebutuhan irigasi pertanian dan sisanya 15,8% untuk kebutuhan industri dan 3,7% untuk kebutuhan rumah tangga. Jumlah air yang tersedia tersebut perlu dijaga kualitas dan kuantitasnya secara berkelanjutan dengan menerapkan kaidah-kaidah keilmuan airtanah dam keilmuan lainnya.

    Persentase air tersedia yang telah digunakan untuk kebutuhan rumah tangga memanglah kecil namun tingkat kepentingannya ialah primer, seperti untuk kebutuhan sumber air minum penduduk, dimana dalam skala perbandingan dapat dilihat pada Gambar 2. berikut ini.

    Gambar 2. Perbandingan penggunaan air permukaan dan airtanah di Indonesia (Badan Geologi ESDM, 2013, Modifikasi PAAI dan GWWG, 2016).

    Berdasar Gambar 2., dapat diintepretasi bahwa penggunaan air yang dominan untuk kebutuhan sumber air minum penduduk di Indonesia ialah penggunaan airtanah, kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan pemenuhan kebutuhan air untuk industri dimana penggunaan airtanahnya juga tergolong besar. Eksploitasi airtanah yang berlebihan dapat menyebabkan berkurangnya jumlah airtanah yang tersedia. Berdasar data yang disajikan di atas, sudah selayaknya saya dan individu Indonesia lainnya terlibat dalam upaya pengelolaan airtanah yang keberlanjutan di Indonesia.

    Peran aktif seorang awardee LPDP maunpun engineer hidrogeologi seperti saya ialah aktif dalam kegiatan profesi Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia (PAAI) yang mana tujuannya ialah berperan dalam keberlanjutan airtanah baik dengan seminar, workshop, kongres, presentasi paper, dan pertemuan ilmiah tahunan airtanah, edukasi tulisan seperti: blogging via arishms.com, esai “Sayembara Essay LPDP 2017” dan buku “Hidrogeologi Pertanian” (red: proses penerbitan) dan berkolaborasi dengan gerakan-gerakan sosial kemasyarakatan yang berkaitan dengan ketersediaan sumber daya air berkelanjutan seperti membantu sosialisasi “Water for Indonesia” untuk penyediaan air bersih bagi masyarakat Garut.

    Dalam buku Quo Vadis “Airtanah untuk Tanah Air Indonesia” terdapat beberapa sumbangan pemikiran terkait pengelolaan airtanah di Indonesia yaitu dibentuknya lembaga pengelola sumber daya air, penguatan perusahaan negara pengelola airtanah, dan peninjauan ulang nilai airtanah (PAAI & GWWG, 2016). Sumbangan pemikiran baik tersebut menjadi tidak bernilai jika nihil realisasi sehingga perlu aksi dan koreksi dalam setiap usulan, pemikiran, dan kebijakan yang ada. Kolaborasi antar pemangku kepentingan seperti masyarakat, pemerintah, pengusaha, akademisi, peneliti, organisasi profesi bidang airtanah serta kolaborasi antar disiplin keilmuan sangatlah penting sehingga setiap peran kecil dari awardee LPDP dan engineer hidrogeologi seperti saya dapat terakumulasi dan menjadi solusi nyata bagi setiap permasalahan airtanah di Indonesia, demi keberlanjutan airtanah Indonesia yang baik di masa depan.

    Simpulan

    Kolaborasi antar pemangku kepentingan baik masyarakat, pemerintah, pengusaha, akademisi, peneliti maupun oragnisasi profesi bidang airtanah serta peran lintas keilmuan sangat penting untuk menjaga keberlanjutan airtanah yang baik di masa depan. Semoga tulisan ini menjadi instrumen cerdas dalam memajukan bangsa dan negara Indonesia

    Ucapan Terima Kasih

    Program Studi Magister Teknik Airtanah Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia (PAAI) atas inpirasinya kepada penulis baik melalui pembelajaran kuliah, seminar, forum diskusi, presentasi, jaringan profesional dan lainnya. Semoga semakin terdepan dalam memberikan solusi bidang airtanah di Indonesia baik saat ini maupun di masa yang akan datang.

    Kepustakaaan

    Rinaldi, A. 2017. Pengembangan Hidrogeologi Pertanian untuk Peningkatan Produksi Hasil Panen. Indonesia. Unpublished.

    Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia dan Ground Water Working Group. 2016. Quo Vadis “Air Tanah Untuk Indonesia”. Indonesia. Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia.

    Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

    Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004.

     

    Penulis : Aris Rinaldi

    Magister Teknik Air Tanah, Institut Teknologi Bandung

    Email: aris.itb@gmail.com

     

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: