• Manis-Asam-Asin Rasanya

    Menjadi muslim di negara asing kadang-kadang memang manis-asem-asin-rame rasanya. Terbiasa menjadi mayoritas di negeri sendiri membuat banyak hal di negeri orang terasa lebih menantang. Menjaga sholat lima waktu, misalnya. Jadwal kuliah yang seringkali “menabrak” jadwal sholat, ditambah musim yang berubah-ubah (saat winter, waktu dzuhur dan ashar masing-masing hanya 2 jam saja!), membuat kita terkadang harus pintar-pintar mencuri waktu.

    Dalam satu sesi kelas berdurasi tiga jam misalnya, umumnya dosen akan memberikan dua kali break sekitar sepuluh menit. Biasanya break pertama saya manfaatkan untuk berwudhu, kemudian masuk kelas lagi selama satu jam, baru kemudian mencari tempat untuk sholat di break kedua. Ini saya lakukan karena tempat sholat umumnya berada di basement yang cukup jauh dari kelas, sehingga sepuluh menit tidak akan cukup untuk menyelesaikan semua “urusan”.

    Masalahnya, tidak semua gedung di kampus menyediakan prayer room. Ada satu gedung yang saya tahu memiliki mushola yang cukup luas di basementnya, lengkap dengan tempat wudhu. Satu gedung lainnya punya common prayer room, tanpa tempat wudhu, dan bisa digunakan untuk beribadah bagi pemeluk agama apapun. Di luar kedua gedung itu, dibutuhkan “kreativitas” lebih untuk menemukan tempat sholat.


    Suatu hari di waktu menjelang ashar, saya sedang berada di gedung tanpa prayer room. Setelah berwudhu seadanya di wastafel toilet (bagian kaki cuma bisa di-lap, karena wastafel versi bule terlalu tinggi buat saya angkat-angkat kaki 🙁 ), saya pun berkeliling mencari tempat yang cukup layak untuk sholat dzuhur. Setelah beberapa saat kebingungan, saya akhirnya memutuskan untuk mendatangi petugas bagian informasi gedung.

    Saya: “Excuse me, is there a prayer room in this building?”
    Petugas: “Unfortunately, no.”
    S: “Is there any place that I can use to pray?”
    P: “How much time do you need?”
    S: “Maybe just about five to ten minutes.”
    P: “You can use the kitchen, just close the door and I will make sure no one comes in while you are praying.”
    S: “Thank you very much!”

    Bersyukur dengan kebaikan hati sang petugas, saya pun menuju ke “kitchen” yang terletak tidak jauh dari situ. “Kitchen” yang dimaksud cukup bersih, tidak seperti bayangan saya ketika mendengar kata dapur, mungkin karena dapur yang satu ini sekedar digunakan untuk menyeduh kopi dan memanaskan makanan di microwave. Meskipun demikian, lantainya terlihat cukup kotor, membuat saya seketika itu juga menyesal tidak membawa alat apapun untuk alas sholat, termasuk jaket yang saat itu tertinggal di kelas.

    Harus kreatif! Pikir saya waktu itu, sambil melihat sekeliling mencari benda apapun yang bisa dimanfaatkan. Syukurlah, di sudut ruangan teronggok beberapa lembar koran. Dengan agak terburu-buru mengingat waktu dzuhur yang sudah hampir habis, saya membentangkan lembaran-lembaran koran tersebut di lantai dapur.

    Dan shock berat dengan apa yang saya lihat di sana.

    Koran itu, ternyata bukan koran biasa…..

    Koran yang akan saya pakai untuk sajadah itu, ternyata koran “dewasa”!

    Seketika itu juga rasanya saya ingin terbang pulang ke Indonesia buat ketemu sama karpet-karpet sajadah gambar ka’bah di setiap masjid dan mushola :”) Sayangnya waktu yang semakin mepet membuat saya tidak sempat speechless lama-lama. Alhamdulillah, di antara berlembar-lembar koran dengan gambar-gambar yang tidak bisa saya deskripsikan di sini, masih ada beberapa lembar yang cukup “lumayan”. Pada akhirnya, di siang hari itu saya sholat bersajadah koran dewasa yang dibolak-balik sebisanya, sambil bolak-balik menenangkan diri sendiri, “Bismillah, nggak papa, nggak papa, darurat…….”


    Pagi ini (6 Januari 2017), beberapa bulan setelah insiden di atas, saya dikejutkan dengan sebuah paket dari kota sebelah. Dikirimkan oleh seorang teman, setelah obrolan kami sebelumnya tentang suka-duka beribadah di Inggris. Paket itu berisi sajadah portable: Hadiah yang akan mencegah insiden sajadah dewasa terjadi lagi di kemudian hari.

    Satu hal yang saya sadari dari sini adalah, asem-asinnya hidup sebagai muslim di tanah rantau, kadang bisa menjelma manis bersama saudara seperjuangan

     

    Fadilla Noor Rahma

    Manchester University

    Comments

    comments

    Post Tagged with , ,

Leave a Reply

%d bloggers like this: