• Mari Bicara Tentang AI

    Dalam dunia teknologi informasi, entah di ranah akademik maupun praktis, kecerdasan buatan, atau artificial intelligence (AI), adalah salah satu topik yang perkembangannya paling pesat. Banyak contohnya. Mobil yang bisa memarkir dirinya sendiri, robot yang bisa memainkan gamelan, drone yang bisa mengikuti seseorang tanpa adanya remote control, drone yang bisa bekerja sama, asisten virtual di smartphone, dan berbagai contoh lainnya. Sejatinya, topik AI ini memiliki banyak cabang, meliputi (tapi tidak terbatas hanya pada) pengolahan gambar, pengolahan suara, game theory, machine learning, nature language processing, human-computer interaction.

    Seiring pesatnya perkembangan hardware beberapa tahun terakhir ini, semakin terbuka peluang perancangan dan pembuatan kecerdasan buatan yang lebih kompleks . Contoh, kecerdasan buatan bisa dibuat dalam sebuah komputer seukuran kartu ATM. Bahkan, pengembangan robot humanoid yang mendekati kemampuan manusia bukanlah hal yang mustahil. Kalaupun bukan sekarang, mungkin dalam jangkauan 5 tahun mendatang, hal-hal tersebut sudah bisa tercipta. Yang jelas, fakta bahwa pengembangan kecerdasan buatan sudah semakn canggih, tidak boleh diabaikan.

    Berkembangnya kecerdasan buatan yang bisa menggantikan peran manusia dalam hal-hal teknis (dan mungkin berbahaya), seperti menjelajahi gurun, membersihkan limbah nuklir, menjelajahi bawah laut, bisa sangat menguntungkan bagi manusia. Toh, risiko yang ada juga cukup menyeramkan.

    Pernah menonton atau membaca kisah fantasi bahwa robot berusaha memusnahkan manusia, karena manusia dianggap merusak bumi? (Seperti cerita-cerita dalam film hollywood, atau manga dari Jepang). Situasi seperti itu mungkin memang terasa absurd bagi sebagian orang saat ini, namun risiko itu ada!

    Atau, marilah kita sederhanakan fantasi kita. Bayangkan apabila robot nantinya menggantikan para buruh di pabrik, menggantikan para petani di sawah, atau menggantikan para nelayan di laut. Mungkin bagi kita, yang tidak pernah bekerja langsung di pabrik, di sawah, atau laut, beranggapan itu ‘kan bukan urusan kita. Atau kita berdalih bahwa itu ‘kan bentuk efisiensi. Tapi bagaimana perasaan kita bila satu buruh, petani, atau nelayan yang digantikan itu adalah teman semasa kecil kita, atau saudara kita, atau bahkan ayah kita?

    Selain itu, ingatkah kita tentang mitos raja Midas, yang berharap ketika menyentuh apapun, benda itu menjadi emas? Terlihat enak memang: Menyentuh apapun bisa jadi emas; bisa dijual mahal, tapi sayang kemampuan tersebut ternyata tidak bisa dikendalikan! Semua makanan yang disentuh Midas berubah menjadi emas, bahkan makanan, minuman, dan anaknya sendiripun berubah menjadi emas ketika disentuh sang raja yang malang itu! Bukannya mendapat kenikmatan, ia malah kehilangan seseorang yang berharga.

    Apa hikmah yang kita bisa ambil dari contoh-contoh di atas?  Kita mungkin berharap bahwa dengan membuat kecerdasan buatan yang kompleks dalam bentuk robot, kita bisa menggantikan pekerjaan teknis yang berulang. Tapi ingat, membuat kecerdasan buatan yang kompleks itu tidak mudah, butuh multidisiplin ilmu. Apalagi membuat kecerdasan buatan yang kompleks sekaligus memiliki kepedulian tentang apa yang penting bagi manusia, bagi kita. Pada akhirnya, pengembangan kecerdasan harusnya mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan yang ingin kita pertahankan. Kalau disederhanakan, janganlah membuat objektif yang multitafsir. Kita tidak ingin membuat sesuatu yang malah menghancurkan diri kita sendiri. ‘kan?

     

    Jogja, 29 Safar 1437H
    Penjelajah Hitam Putihnya Terminal.

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: