• Namanya Ridho

    Namanya Ridho, seorang anak laki-laki kelas 4 SD di Dukuh Sebatang. Pertama kali saya mengetahuinya saat Desember 2015, tepat setahun lalu, pada kegiatan outbound dengan para Adik dan Kakak Inspirasi (salah satu program sosial di Menyapa Indonesia PK-43, Sapa Sebatang). Ya, sekedar tahu, karena tidak dengan spesial saya ngobrol atau berbincang dengannya pada saat kegiatan. Ridho dipasangkan dengan Melisa, salah satu awardee PK-43 juga, dan terlihat bonding mereka yang karib. Saat itu kupikir, “Ah, Ridho ini anak yang biasa-biasa saja toh.”

    Namanya Ridho, bertemu kembali di tahun 2016 ini selama beberapa kali saya di Dukuh Sebatang untuk membantu kegiatan Menyapa Indonesia PK-43 disana. Juni dan Juli, kegiatan yang dilaksanakan tak membuat eksistensinya menarik perhatianku di kala itu. Ya, polahnya biasa saja, tak seceria Rimba atau tak sebesar postur Syafiq, temannya yang juga terlibat program Adik dan Kakak Inspirasi. Buruk memang. Karena, tak menarik perhatianku adik-adik yang biasa saja kelakuannya seperti Ridho ini. “Ridho? Yang mana ya anaknya… Aku lupa!”, ujarku saat para teman menceritakan tentangnya.

    Namanya Ridho, mulai mengajak bercanda terlebih dahulu saat kemudian Oktober saya kembali berada disana. Mungkin, karena hanya saya dan Laili yang datang kesana di tanggal itu membuat dia “terpaksa” membercandakan saya, bukan Juple atau teman-teman lain yang lebih intens pergi ke Sebatang. Sepintas lalu, namun berlanjut di keesokan harinya saat pelatihan Bahasa Inggris. Adik ini yang mulai menyapa terlebih dahulu, memberi guyonan-guyonan dalam Bahasa Jawa (yang kebanyakan tak kupahami artinya), dan interaksi-interaksi lainnya. “Kukira anak ini pendiam, rupanya senang bercanda-canda juga Ridho ini,” pikirku kala itu.

    Namanya Ridho, interaksinya sudah semakin karib dengan kami pada saat saya datang lagi di akhir tahun ini, membuat saya banyak mengamati adik satu ini. Ridho jelas punya talenta seni yang baik. Saat menari Jathilan, dia dengan sendirinya muncul sebagai  teladan tari bagi para temannya. Saat teman-temannya yang diajari bermusik gendang, dan lain-lain, dia lebih dahulu hapal bahkan menginstruksikan teman sebayanya. Dia juga semangat dalam belajar Bahasa Inggris, sampai dia yang (hampir selalu) menghampiri markas kami di Pak Rubino untuk mengambil kunci ruangan PAUD. “Ah wajar saja, mungkin dia sering melihat pertunjukkan Jathilan disini makanya dia jago. Dan, mungkin terbiasa karena banyak temannya makanya semangat ikut pelatihan Bahasa”, benakku kemudian.

    Namanya Ridho, akhirnya datang waktuku untuk mengunjungi rumahnya. Pemikiranku tentang lingkungan keluarga yang nyaman salah, karena rupanya orangtuanya berpisah semenjak dia masih kecil. Pemikiranku tentang dia yang sifat aslinya ceria salah, karena Mbak (yang sebenarnya Tantenya Ridho) yang berada setiap hari bersamanya bercerita masa lalu Ridho yang lebih sering diam dan penyendiri. Pemikiranku tentang kebiasaannya di lingkungan Jathilan salah, ya memang Ayahnya pelatih namun dirinya sendiri hampir tak pernah menonton, pertanda talenta alami yang ia miliki. Pemikiranku tentangnya hampir semua salah, karena rupanya sudah banyak hal yang sudah dan sedang dialaminya, di umurnya yang masih anak kelas 4 SD ini.

    img-20161218-wa0003Namanya Ridho, sukses membuat saya berpikir kembali tentang untuk apa kami berkegiatan sosial di Dukuh Sebatang ini. Pengembangan Masyarakat, itu kata kunci yang lama hilang. Mungkin, bagi sebagian khalayak ramai berpendapat, “Ngapain sih capek-capek, wong gak signifikan juga kok yang dilakukan”. Tapi signifikan, saat yang dihadapi manusia, bukanlah ukuran kuantitas, melainkan ukuran kualitas. Masih kuingat cerita penutup Mbaknya Ridho bahwa baru saja Ridho menang kompetisi egrang tingkat Kabupaten. Raut bangga tak terperi ada di wajah si Mbak, mengingat keponakanan, yang sudah seperti adiknya sendiri mau berubah, dari yang tidak bergairah sekolah hingga sekarang mau mengikuti suatu kompetisi yang diingininya secara mandiri. Perubahan satu anak seperti Ridho, yang disaksikan dengan mata kepala Mbaknya sendiri, membuat saya dan teman-teman bisa tersenyum. Ya, semoga Tuhan terus mengawal bakti kami disana, sampai Dukuh Sebatang mandiri setibanya kami harus pergi nanti.

     

    Jonathan Saputra,

    Institut Teknologi Bandung

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: