• Niteni, Nirokke, Nambahi, Nemokke”: Pelajaran dari Sebatang

    Orang bijak berkata, perjalanannya itu sendiri sepenting tujuannya. Ini saya resapi dalam perjalanan saya ke Dukuh Sebatang, Hargotirto, Kulonprogo Yogyakarta, dalam pengabdian Menyapa Indonesia yang merupakan rangkaian karya kami penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi refleksi saya atas perjalanan ke Sebatang.

    Saya berangkat dari Surabaya tanggal 30 Oktober 2015 pukul sembilan malam, kemudian singgah di rumah orangtua saya di Bojonegoro, pukul 11 malam. Saya tidur singkat selama sekitar sejam, lalu dini hari itu juga, saya melanjutkan perjalanan dengan mobil, ke Yogyakarta. Saya tiba di Yogya tanggal 31 Oktober 2015 sekitar pukul setengah delapan pagi, namun saya baru bisa berangkat ke Sebatang sekitar pukul dua belas karena pagi harinya melewatkan waktu bersama keponakan-keponakan saya.
    Saya tahu, dari cerita teman-teman awardee yang sudah lebih dulu ke Sebatang, bahwa daerah Sebatang dan sekitarnya ialah daerah kapur (karst). Sependek yang saya tahu, dari pengalaman melakukan riset beberapa tahun yang lalu di daerah Gunung Kidul, daerah karst umumnya tidak subur, susah ditanami, dan langka air. Kehidupan masyarakatnya menuntut daya juang, di tengah-tengah alam yang keras, unforgiving, tandus. Maka itulah ekspektasi saya tentang Sebatang.

    Perjalanan pertama ke Sebatang terasa sangat jauh. Saya keliru memperkirakan jarak dan waktu. Perkiraan saya, waktu tempuh sejam—atau maksimal satu setengah jam—cukup. Namun perjalanan pertama tersebut, yang saya tempuh dengan mobil, makan waktu hampir tiga jam. Di sini saya belajar (untuk kesekian kalinya), saya harus hati-hati dalam memperkirakan waktu, karena ada kecenderungan melakukan overestimasi.

    Untung, saya sudah dapat ancer-ancer (petunjuk arah) dari teman awardee, Laela Mukaromah. Berbekal petunjuknya, saya bisa menemukan beberapa landmark yang cukup membantu, seperti jembatan Kulonprogo dan pasar Sentolo. Namun toh, saya kebablasan di Pasar Sentolo. Saya tidak melihat tikungan ke kanan yang melewati rel kereta api, yang menuju ke “jalan kapur” yang tembus langsung ke arah Waduk Sermo, dekat Sebatang. Saya malah memacu kendaraan terus, ke arah Purworejo. Saya baru sadar saya salah arah ketika merasa kok gak ada tikungan yang disebutkan Laela?

    Di sinilah salah satu keajaiban terjadi. Ketika saya mampir bertanya ke sebuah toko barang kesenian, ternyata ada seorang tamu di situ yang mengatakan bahwa rumahnya di Wates, dan ia hendak pulang ke rumahnya. Ia mengatakan akan menunjukkan jalan untuk saya. Maka saya mengarahkan kendaraan saya mengikuti sepeda motor laki-laki tersebut. Wah, ternyata ia “mengembalikan” saya ke jalan yang benar. Saya menemukan tikungan yang tepat, yang akhirnya membawa saya ke Klepu. Toh, perjalanan masih jauh. Saya masih harus mencari tikungan ke arah Hargotirto. Jalanan mulai sempit, curam, menanjak naik-turun. Tiga kali saya kebablasan melewati tikungan menanjak ke arah Hargotirto. Dalam kondisi jalan sempit, menikung, dan curam, tidak mudah memutar balik mobil! Sungguh suatu petualangan yang berkesan.

    Saya tidak menemukan “jalan kapur” yang disebutkan teman saya. (Ternyata karena saya mengambil arah yang berlawanan. Namun saya akan bertemu jalan kapur yang tidak terlupakan itu, esok harinya). Saya akhirnya tiba di perempatan Waduk Sermo. Dan inilah momen yang luarbiasa. Ketika saya menyusuri jalan beraspal naik ke arah Hargotirto, saya disambut pemandangan yang surreal. Kiri-kanan saya ialah bukit karst yang berwarna merah…akibat daun gugur dari pohon-pohon di hutan di kiri dan kanan saya. Saya tidak bisa menggambarkan keindahan itu dengan kalimat. Saya hanya teringat bahwa saya pernah melihat postcard dari suatu daerah di Amerika, yang menggambarkan indahnya suasana musim gugur, dan apa yang saya lihat di hadapan saya itu, mirip suasana musim gugur yang digambarkan dalam postcard itu, dan bahkan lebih indah lagi.

    Legalah hati saya ketika akhirnya saya melihat petunjuk jalan “Hargotirto”. Jalanan semakin sempit dan curam, namun bagi saya, itu petualangan. Saya hanya berpikir: jangan sampai saya lewat sini malam-malam, karena tidak ada lampu, pasti ngeri! (Saya tidak tahu bahwa malam itu saya akan segera merasakannya!)

    Akhirnya saya menemukan rumah yang merupakan basecamp kegiatan tim PK-43 Menyapa Indonesia. Rumah tiga lantai bercat ungu ini merupakan milik Pak Sugiman, seorang warga setempat. Pak Sugiman pernah bekerja di Korea, dan rumah ini merupakan salah satu hasil kerja beliau. Menariknya, dalam kamar mandi beliau, saya menemukan ada bathtub. Untuk sebuah tempat yang minim air seperti Sebatang, fenomena ini cukup menarik.
    Saya menghabiskan setengah jam pertama di Sebatang dengan nongkrong di warung terdekat, menikmati semangkok Indomie goreng dan teh hangat yang nikmat. Nongkrong di warung ialah kegiatan yang dulu sering saya lakukan saat kuliah di Jogja, dan sekarang menjadi kenangan indah bagi saya yang sekarang tinggal di kota metropolitan seperti Surabaya.

    Setelah makan di warung, saya bergabung dengan teman-teman awardee yang sedang berkumpul di gedung PAUD Sebatang. Ternyata Jonathan Saputra—ketua angkatan kami—hendak bertamu ke Rumah Pak Samijan, kepala dukuh Sebatang. Ia berencana pergi bersama Burhanuddin Azis (koordinator divisi budaya) dan Dien Rahmawati (koordinator divisi pendidikan). Saya spontan menawarkan diri ikut. Bukan apa-apa; saya pernah tinggal di desa ketika kanak-kanak, dan saya menyadari ada kerinduan untuk beramah-tamah dengan warga. Saya agak kehilangan “sentuhan sosial” itu di kota besar, seperti Surabaya. Saya ingat, dulu ketika kecil—dan hingga kuliah—saya sangat menikmati acara-acara kumpul-kumpul di rumah warga, entah untuk kenduri, arisan, maupun doa bersama. Saya sangat menikmati suasana kebersamaan duduk lesehan beralasakan tikar, makan kacang rebus, minum teh. Sungguh itu pengalaman yang sangat berkesan. Maka saya ingin bertemu Pak Dukuh karena ingin membangkitkan lagi kenangan itu.

    “Kamu bisa naik motor?” tanya Jonathan. Wah, saya sudah naik motor sejak SMP, pikir saya. Bahkan dulu ketika SMA saya pernah ikut balapan motor. Saya merasa percaya diri dengan track seperti apapun! (Tapi ternyata keliru).

    Saya memboncengkan Jonathan ke rumah Pak Samijan, kepala Dukuh Sebatang. Beberapa detik pertama motor melaju, saya hampir nyemplung ke jurang bersama Jonathan! Motor yang saya naiki melintasi hamparan pasir yang licin, dan saya hampir kehilangan kendali. Untung tidak sampai jatuh, tapi menakutkan juga! Terus terang, ini pelajaran berharga. Saya merasa sudah mahir mengendarai sepeda motor, namun jalan di Sebatang merupakan tantangan. Saya terlalu tinggi menilai kemampuan saya sendiri! Alam mengajari saya dengan caranya yang langsung dan terus-terang. Perjalanan ke rumah Pak Samijan terasa menegangkan. Jalan sangat sempit, curam, berkerikil, berbatu, berkelok-kelok. Saya memegang kendali motor kuat-kuat karena guncangan sangat terasa, dan risiko selip tinggi. Dan jurang menganga di sebelah saya, tanpa ada pagar pembatas!

    20151101_113048

     

    “Selamat datang di Sebatang!” Azis berseru dari atas sana, dengan motornya. (Ia memboncengkan Dien). Saya takjub ia masih bisa berteriak nyaring begitu dalam kondisi jalan yang sulit seperti ini. Tentu saja, ia sudah menguasai medan. Bahkan ia pernah pergi ke rumah warga yang medannya lebih sulit lagi dibandingkan jalan ini.
    Akhirnya (dengan hembusan nafas lega) kami tiba juga di rumah Pak Samijan, Kepala Dukuh Sebatang. Seperti rumah orang Jawa tradisional pada umumnya, rumah tersebut tidak berpagar, dan pintunya terbuka. Kami disambut dengan keramah-tamahan khas Jawa Tengah: senyuman, sapaan, minuman teh hangat, dan kudapan. Dengan mengenakan sarung dan hem kotak-kotak coklat, Kepala Dukuh menerima kami dengan ramah.

    Saya menanyakan kepada Pak Dukuh, sebuah pertanyaan yang muncul di benak saya ketika mengamati kondisi rumah yang berjauhan dan kondisi jalanan yang relatif mencekam itu: Bagaimana dengan surat-menyurat di Sebatang? Siapa yang mengantarkan?

    Sambil tersenyum, Pak Samijan menjawab bahwa ia sendiri yang mengambil surat-surat untuk warganya di kantor pos di “bawah” (maksudnya di Hargotirto), dan ia sendiri yang mendistribusikannya untuk warganya.

    Saya terkesima. Bagi saya, urusan surat-menyurat merupakan urusan yang “tahu beres”. Beliau ini hampir setiap hari menempuh jalah berkilo-kilometer melewati rute yang mengerikan tadi untuk mengambil surat!

    Saya bertanya lagi: Apa ada risiko longsor? Dan beliau menjawab dengan lugas: Memang ada, apalagi dalam musim hujan. Jawaban tersebut dikemukakan tanpa ada kegetiran, kemarahan, kebencian, ketakutan, dan keputusasaan. Seolah-olah beliau mengatakan, ya risikonya pasti ada, terus kenapa? Ya dijalani saja.

    Saya menyesap teh hangat saya dalam-dalam, meresapi pencerahan yang saya dapatkan di situ. Selama bekerja di Surabaya, saya terbiasa dengan suasana kota besar. Saya memang pernah menjadi “anak desa”—tapi sudah dulu, lama sekali. Saya sudah lupa rasanya hidup dalam perjuangan di desa. Segala fasilitas yang saya nikmati sekarang, ibarat taken for granted. Tidak benar-benar saya syukuri. Saya lupa rasanya mengendarai motor melewati jalan yang berkerikil. Saya lupa rasanya hidup minim air, minim listrik, seperti di Sebatang. Saya mengeluh karena hawa panas, karena AC mati, karena air PDAM kurang lancar, karena sinyal telepon lemah, karena jaringan internet lambat. Welcome to Sebatang! Di sini, saya melihat warga melaksanakan rutinitas hariannya dengan tenang, bahkan—yang tampak di mata saya—dengan senyum di bibir, yang tidak dibuat-buat. Senyum seperti itu hanya muncul dari hati yang ikhlas. Saya berpikir, bagaimana ikhlas bisa muncul dalam suasana yang serba kurang? Lalu saya tersadar, ah, bagaimana saya bisa lupa? Bukankah kebahagiaan itu tercipta karena kita mampu bersyukur! Menginginkan sesuatu yang tidak dimiliki itu boleh-boleh saja, namun, seperti kata Sang Buddha, keinginan yang menjadi obsesi itulah yang memenjarakan dan menyengsarakan kita, karena menimbulkan jerat bahwa kita hanya bahagia apabila syarat-syarat tertentu dipenuhi. Nah, di Sebatang, selama periode yang singkat, saya tidak merasakan ‘intrik dan ambisi kota besar’ yang kadang-kadang menyesakkan itu. Saya melihat hidup yang mengalir dengan ritme santai. Saya melihat orang-orang yang tersenyum di tengah kesulitan hidup. Memang alam di Sebatang keras dan tandus. Namun ternyata alam yang keras tidak harus menjadikan penduduknya keras! Guru terbesar di Sebatang memang alam itu sendiri, yang menghapuskan segala kejumawaan manusia. Alam tidak menggurui, tidak menghakimi—alam hanya menunjukkan siapa diri kita. Saya sudah menyadari itu ketika motor saya hampir terperosok ke jurang karena terlalu percaya diri dengan kemampuan mengendalikan sepeda motor.

    Seusai beramah-tamah dengan Pak Samijan, kami pulang, menyusuri jalan yang sama lagi. Saya masih merenungi pengalaman ini: Para warga desa ini melewati jalan seperti ini setiap hari. Bahkan, masih ada warga yang tinggal di tempat yang lebih tinggi, lebih curam, dan lebih terpencil lagi dibandingkan rumah Pak Samijan. Bagi saya, mereka ini orang-orang hebat.

    Ketika kami akhirnya kembali ke PAUD, saya menawarkan diri lagi untuk memboncengkan, kali ini, teman saya Laela Mukaromah ke rumah Pak Rubino, seorang seniman setempat. Bersama dengan Azis & Dien, kami mengendarai motor ke rumah beliau. Rute jalan ke Pak Rubino tidak sesulit rute ke rumah Pak Dukuh, tapi juga tetap menegangkan. Banyaknya kerikil di jalan, dan rute yang sempit membuat saya harus ekstra hati-hati. Tangan saya terasa pegal karena mencengkeram gagang setang erat-erat. Saya tertawa menyadari bahwa saya seperti orang baru belajar naik motor. Ah, alam memang salah satu guru yang luar biasa.

    Sama seperti di rumah Pak Dukuh, kami juga mendapat sambutan hangat di rumah Pak Rubino. Sama seperti rumah-rumah Jawa tradisional, rumah tersebut—meski sudah tergolong modern, dengan lantai keramik—tetap tidak berpagar dan pintunya terbuka. Pak Rubino sangat ramah, apalagi setelah mengetahui bahwa saya dulu kuliah di Jogja, dan pernah punya pengalaman meneliti jathilan. Kami baru bertemu pertama kali hari itu, tapi saya merasa langsung akrab dengan bapak yang ramah ini.

    Saya agak menyesali bahwa kemampuan saya berbahasa Jawa halus sudah luntur setelah beberapa tahun saya jarang menggunakannya, semenjak saya bekerja di Surabaya. Dulu, ketika masih kuliah di Jogja, hampir setiap hari bahasa Jawa halus (Jawa kromo) saya gunakan ketika berinteraksi dengan warga. Saya sempat merasa agak “belepotan” ketika bercakap-cakap dengan Pak Rubino. Tapi untungnya beliau mengerti karena mengetahui bahwa saya sudah beberapa tahun tinggal di Jawa Timur.

    Setelah usai beramah-tamah dengan Pak Rubino, kami berempat (Azis, Dien, Laela, dan saya) kembali ke gedung PAUD, dan akhirnya ke basecamp di rumah bercat ungu milik Pak Sugiman. Saya bercengkerama bersama teman-teman awardee hingga lewat jam tujuh malam, dan kemudian saya pamit pulang. (Saya menginap di rumah saudara di Jogja).

    Perjalanan pulang ke Jogja terasa menegangkan juga, karena rute yang tadinya indah dan terang-benderang, sekarang sepi dan gelap gulita. Saya tidak takut hantu atau makhluk gaib sejenisnya, tapi saya khawatir kalau berjumpa begal. Tapi saya pikir, ya sudahlah. Hidup di tangan Tuhan. Saya tiba di rumah sekitar satu setengah jam kemudian. Baru setelah tiba di rumah, kelelahan badan ini sangat terasa. Benar juga, hampir semalaman saya tidak tidur. Ketika tiba di rumah, saya sempat bermain sebentar bersama keponakan-keponakan saya, namun tak lama sesudahnya, saya terlelap, dengan mimpi menyusuri tebing karst yang merah akibat daun-daun gugur.

    Paginya, sekitar jam tujuh, saya kembali ke Sebatang, kali ini dengan sepeda motor. Saya ingin mencoba rute yang ditawarkan Laela kemarin. Kali ini, persis di pertigaan pasar Sentolo, saya berbelok ke kanan, melewati rel kereta api. Saya mengikuti jalan beraspal yang lebar dan panjang itu, hingga akhirnya menemukan jalan kapur yang kemarin diceritakan teman saya.

    Ternyata yang dimaksud Laela dengan “jalan kapur”, benar-benar jalan berkapur 😀 Sarat kerikil, dan debu kapur. Wah aku salah motor nih, pikir saya, ketika merasakan motor matic kecil yang saya naiki bergoncang-goncang hebat melintasi jalan tersebut. Tapi saya tertawa karena sekarang saya sudah bisa menikmatinya. Toh, tangan saya tetap terasa pegal karena memegang setang motor erat-erat.

    Ketika tiba di perempatan Waduk Sermo, saya kembali bertemu pemandangan indah bak postcard yang saya jumpai hari sebelumnya: bukit karst yang merah akibat daun gugur, pohon-pohon di kiri-kanan saya, jalan yang berkelok-kelok. Merah dimana-mana. Daun gugur. Indah, indah sekali. Seandainya mata saya kamera, saya ingin mengabadikan pemandangan tersebut di setiap kedipan mata saya. Saat itu saya membawa kamera SLR milik saya sendiri, namun saya memilih menyimpannya dulu karena akan digunakan untuk dokumentasi dalam acara lokakarya jathilan hari itu.

    Saya tiba di Sebatang pukul 9.15. Saya langsung bergabung dengan teman-teman awardee di rumah Pak Tukiyo, yang digunakan sebagai tempat lokakarya. Wow, suasana yang saya rindukan. Ada tikar, teh, tempe dan tahu goreng hangat, dan keramahan khas Jawa Tengah! Saya diminta mas Azis menjadi notulen, dan dengan senang hati saya terima.

    Materi yang diberikan sangatlah menarik. Pemateri pertama, Ibu Istiwi Supariyanti, mengomentari pola lantai jathilan kreasi baru yang menurut beliau terlalu standar, yakni dua jajar. (Pola lantai adalah pola posisi penari saat pentas). Beliau juga mengomentari gerakan tangan para penari, yang menurut beliau kurang bertenaga. Beliau menayangkan sebuah video pentas jathilan Angguk Putri, yang menampilkan variasi pola lantai yang rancak dan kreatif. Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, ada 27 pola lantai yang ditampilkan para penari dalam video tersebut!

    Saya memiliki apresiasi khusus kepada seniman. Ibu saya—di samping pendidikannya sebagai dokter gigi—ialah seorang penari Jawa klasik, dan ayah saya—di samping profesinya sebagai dokter—ialah pelukis. Kunjungan ke Sebatang terasa memercik api yang dulu pernah berkobar masa kanak-kanak itu. Meminjam istilah Ernest Renan, souvenirs d’enfance—kenang-kenangan masa kanak-kanak—mengharubiru saat saya menyaksikan tari-tarian Angguk Putri yang ditayangkan Ibu Istiwi.

    Pemateri kedua dalam lokakarya, Bapak Sudjarwanto, mengomentari perlunya penari mengingat bahwa “ruh” jathilan ialah keprajuritan. Sejatinya, jathilan ialah tari perang, dan para penari harus membayangkan diri mereka sebagai prajurit. Pak Djarwanto berkata, perlakukan pedang (maksudnya, pedang mainan yang dibawa saat menari) seperti pedang sungguhan. Jangan dimain-mainkan seperti kipas. Saat kamu menari, ujar Pak Djarwanto, kamu ialah prajurit yang menunggang kuda dan menyandang pedang. Bagi saya, inilah totalitas seorang seniman yang meresapi sungguh perannya. Inilah seni!

    Ketika melihat tayangan video pentas Turangga Muda, saya menyadari bahwa gerakan para penari tersebut ialah gerakan dasar dalam bela diri. Saya kurang paham istilahnya dalam tradisi pencak silat, namun dalam seni bela diri Jepang yang saya ketahui, foot and body movement semacam itu dinamakan tai sabaki. Tampaknya, jathilan merupakan salah satu cara nenek moyang mewariskan tradisi bela diri melalui tarian. Memang, banyak unsur dalam kebudayaan Jawa yang merupakan simbol yang menyimpan makna tertentu.

    sen17

    Pemateri kedua, Bapak Djarwanto, menyampaikan materi yang penting. Beliau menyatakan, ada empat unsur di kesenian, yakni niteni (mengamati), nirokke (menirukan), nambahi (menambahkan), dan nemokke (menemukan). Yang paling ideal, tentunya empat proses ini dilalui semua. Namun sayangnya, banyak pelaku seni berhenti pada level nirokke (menirukan). Padahal pelaku masih bisa nambahi (misalnya, menambahkan gendang selain drum sebagai iringan). Dalam refleksi saya, prinsip ini tidak terbatas hanya pada kesenian saja. Bukankah mengamati, menirukan, menambahkan, dan menemukan merupakan esensi kewirausahaan? Pelaku bisnis mengamati suatu usaha sudah berjalan baik, menirunya, menambahkan kreativitas sendiri, dan akhirnya menemukan celah keunikan yang tidak dimiliki kompetitornya. Bukankah banyak bisnis berkembang dengan pola yang serupa?

    Terkait musik dalam jathilan kreasi baru, Pak Djarwanto memberikan kritikan untuk mengurangi (atau minimal menyeimbangkan) porsi drum dengan alat musik tradisional. Saya menangkap kesan bahwa Pak Djarwanto ini ialah seniman yang ingin mempertahankan jathilan dalam bentuk aslinya. Kalaupun ada variasi tambahan, menurut beliau, semangat asli jathilan (misalnya, unsur keprajuritan) harus tetap ada. Beliau berulang-ulang menekankan pentingnya instrumen tradisional, seperti gendang dan bende, dalam iringan jathilan. Memang ada benarnya. Harus diakui, secara visual, instrumen drum modern terlihat agak out of place dalam pentas jathilan. Bagi saya sendiri, bunyi suara gebukan drum terdengar kurang menyatu dengan suara tetabuhan gendang, gong, kulintang. Apalagi manakala gebukan drumnya dimodifikasi menyerupai ritme drum modern. Terus-terang, terasa kurang nyaman di telinga. Namun, seperti kata Pak Djarwanto, dalam seni, tidak ada benar-salah. Yang ada ialah selera. Terkait hal ini, Pak Sudjarwanto menggarisbawahi prinsip yang penting dalam dunia seni pertunjukan. “Prinsip pertunjukan itu kan memang untuk penonton”, ujar beliau. Memang benar. Seniman boleh punya idealisme, tapi dalam era sekarang, bijaklah pula apabila seniman mencoba untuk—meminjam istilah Pak Sudjarwanto—“menghadap ke penonton”. Mencari tahu apa yang dikehendaki penonton.
    Prinsip ini masuk akal bila ditinjau dalam konteks sehari-hari. Banyak perusahaan besar dan kecil gulung tikar karena terus mempertahankan pola lama yang kurang responsif terhadap perubahan tuntutan pasar. Barnes and Noble, raksasa chain book shop, sempat terancam dengan era buku digital, namun kemudian menyesuaikan dengan selera pasar dan meluncurkan e-reader Nook. Sebaliknya, Borders—raksasa chain book shop yang lain—tetap mempertahankan konsep lamanya. (Anda yang pernah ke Singapura, kemungkinan pernah mampir ke cabang Borders di situ). Akhirnya Borders bangkrut karena tidak berevolusi sesuai perubahan tuntutan generasi. Ah, nasihat Pak Sudjarwanto mengembalikan saya ke kesadaran bahwa perubahan itu suatu keniscayaan. Memiliki pikiran yang fleksibel—tanpa meninggalkan nilai-nilai yang hakiki—merupakan salah satu sumbangsih terbesar yang bisa diberikan intelektual muda pada zaman sekarang. Sungguh, kunjungan ke Sebatang membantu saya menyadari kembali hal tersebut.

    Sesi diskusi dan tanya-jawab diakhiri sekitar pukul dua belas. Makan siang pun disajikan, dengan menu opor ayam yang sedap. Sambal khas Jawa yang manis-pedas menemani makan siang yang nikmat dengan nasi hangat itu. Seusai santap siap, lokakarya dilanjutkan dengan praktik. Kedua pemateri turun tangan langsung—tak jarang ikut menari di lapangan—bersama para penari muda Hargotirto. Kebetulan, pada saat lokakarya itu, semua penari ialah perempuan yang rata-rata masih remaja.

    Talenta muda dan pengalaman para senior berpadu, saat para penari muda tersebut melakukan pentas sederhana (tanpa kostum dan make-up), dengan dipandu langsung oleh para narasumber. Hanya dalam waktu sekitar sejam, para penari yang masih muda-muda ini sudah bisa menyesuaikan dengan materi baru dari narasumber. Memang, power masih perlu diasah, dan gerakan tangan masih bisa diberi daya yang lebih kuat lagi. Namun terlihat jelas perubahan pola lantai, musik, dan secara umum, mutu penampilan para penari muda tersebut. Saya bisa mengatakan, lokakarya ini telah memantik perubahan yang positif.

    Lokakarya berakhir sekitar pukul dua siang. Kami semua berkemas-kemas, berpamitan dengan Pak Tukiyo selaku tuan rumah, dan dengan para seniman. (Tidak lupa berfoto dulu tentunya). Beberapa teman dari Bandung dan Jakarta harus pulang sore hari itu juga dengan kereta, sehingga sisa waktu yang ada kami gunakan untuk beramah-tamah antarkami sendiri. Saya sendiri harus kembali ke Surabaya karena Senin paginya, saya sudah kembali berkarya di Surabaya.

    Saya tidak sedih dengan perpisahan itu. Memang berat, tapi tidak menyedihkan, karena saya tahu, saya akan kembali. Dan untuk apa disedihkan? Saya menyadari kami semua berkarya, mengabdi, dalam keterbatasan kami. Maka pertemuan seperti ini, suatu sinergi yang kuat, layak disyukuri. Sembari pulang melewati bukit karst merah yang cantik, dengan pohon-pohon yang indah layaknya postcard, saya merenungi pelajaran-pelajaran yang saya peroleh di Sebatang, yang akan saya bawa kembali ke tempat saya berkarya dan mengabdi.

    Penulis : Michael Seno R.

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: