• Sayu dan Syafiq Akhirnya Bertemu

    19 Desember 2015, akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan adik inspirasi saya Syafiq Khairil Mala, yang biasanya dipanggil Syafiq, untuk pertama kalinya. Saat ini, Syafiq duduk di bangku kelas 4 SD Muhammadiyah Menguri. Syafiq mengaku senang bersekolah di SD Muhammadiyah Menguri dan berteman dekat dengan Edi, Rimba, dan Ridho. Mereka adalah ‘geng’ yang sering bermain bersama.

    Syafiq memiliki cita-cita menjadi pemain sepak bola karena ia suka dengan olahraga tersebut (dan olahraga apapun pada umumnya). Pada saat penerimaan raport, ia mendapatkan rangking 5 di kelas. Horeee, lumayan lah, rangking 5 dari 8… Kesukaan Syafiq terhadap olahraga terlihat pada nilai raportnya. Nilai tertinggi yang ia peroleh adalah di pelajaran Penjaskes, sedangkan nilai pelajaran lainnya tidak terlalu tinggi. Ayah Syafiq mengakui bahwa anaknya memang lebih senang bermain dibandingkan belajar. Terkadang, Syafiq malas untuk mengerjakan PR dan bahkan sulit untuk dibangunkan di pagi hari untuk pergi ke sekolah.

    Anak yang gemar bermain sepak bola ini tinggal bersama kedua orang tua, nenek, dan dua adik kecilnya di sebuah rumah yang sangat sederhana, yang mirip seperti gubuk dengan dinding kayu seadanya dan berlantaikan tanah. Syafiq dan keluarganya baru saja pindah dari Kalimantan beberapa bulan yang lalu. Ayah Syafiq bercerita bahwa ketika di Kalimantan dulu, Syafiq lebih sulit bergaul dan sering dikucilkan oleh teman-teman disekelilingnya. Oleh karena itu, ketika ditanya, Syafiq mengaku ia lebih senang tinggal di Sebatang dibandingkan saat di Kalimantan karena memiliki lebih banyak teman disini.

    Sejak pertama bertemu, saya sudah bisa menilai bahwa anak tersebut adalah anak yang sangat aktif dan lincah. Tidak hanya itu, sebagian besar teman-teman kelasnya menyatakan bahwa Syafiq adalah sosok yang nakal dan jail. Pertama kali bertemu, Syafiq yang sedang asyik bermain sepak bola di halaman luar dipanggil oleh ayahnya untuk masuk kerumah dan menyambut kakak inspirasi yang datang mengunjungi rumahnya. Ia kemudian datang sedikit terengah-engah sambil berlari dan tertawa, lalu duduk disamping ayahnya. Ketika diajak ngobrol dan ditanya oleh para kakak inspirasi, Syafiq terlihat malu-malu saat menjawab dan tidak memfokuskan diri pada orang yang bertanya, malah sering bergurau dan menjaili adik laki-laki yang duduk disampingnya. Dari situ, saya berpikir bahwa Syafiq adalah anak yang perhatiannya mudah dialihkan dan ia masih malu-malu kucing kalau baru kenal dengan orang yang baru.

    Foto kak.Sayu dan adik inspirasinya

    Foto kak.Sayu dan adik inspirasinya Syafiq

    Namun setelah mengenalnya lebih jauh, tidak bisa dipungkiri bahwa anak ini memang termasuk nakal dan jail, tetapi masih dalam batas yang wajar untuk anak seumurnya. Meskipun nakal, Syafiq masih sangat kooperatif dan mau mendengarkan kakak inspirasinya dengan baik. Kegiatan outbond pada tanggal 20 Desember 2015 yang melibatkan teamwork dari pasangan kakak dan adik sangat efektif untuk meningkatkan bonding antara adik dan kakak inspirasi, dan kebersamaan kakak dan adik dalam satu hari tersebut memberikan waktu yang signifikan untuk lebih mengenal satu sama lain.

    Syafiq jarang bertamasya dengan keluarga, sehingga ia sangat gembira ketika diajak outbond ke pantai. Sejak awal ia sangat ingin bermain dan mandi di pantai. Ternyata, adik Syafiq ini tidak hanya aktif, lincah, nakal, dan jail, tetapi juga sangat percaya diri dan memiliki mental yang kuat. Tidak hanya itu, ia juga mempunyai semangat yang luar biasa. Ia tidak takut untuk mengutarakan pendapatnya dan ketika bersama teman-teman ‘geng’nya, ia bertindak sebagai leader dari ‘geng’ tersebut. Saat outbond, kami tidak memenangkan satu perlombaan pun dan ia tidak pernah mendapatkan hadiah. Meskipun demikian, Syafiq tidak pernah merasa down dan tetap semangat sampai akhir kegiatan, yang ditutup dengan bermain di pantai dengan teman-teman dan kakak-kakak lainnya hingga basah kuyup. Hal yang paling penting adalah bahwa ia menikmati outbond pada hari itu.

    Pada akhirnya, tiba saatnya kami berpisah. Saya harap kegiatan outbond dapat menjadi kenang-kenangan bagi Syafiq. Menurut saya, Syafiq hanya memerlukan motivasi lebih untuk belajar dan bersekolah. Melalui kerjasama dan koordinasi kakak inspirasi dengan orang tuanya, diharapkan Syafiq bisa lebih semangat untuk belajar dan malasnya berkurang, sehingga prestasi akademiknya bisa meningkat. Semoga kedepannya semangat belajar Syafiq dapat menyeimbangi atau bahkan melebihi semangatnya untuk bermain. Semangat terus untuk Syafiq, semoga kami bisa bertemu lagi secepatnya.

     

    Penulis : Sayu Aryantari Putri Thanaya

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: