• Sebatang dan Cerita Tentang Kerja Sukarela

    25 Desember 2015. Liburan panjang yang bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammand dan Natal tahun 2015 ditambah lagi dengan Sabtu dan Minggu.  Panang memang, Sepanjang macet di tol yang katanya ngalahin liburan lebaran tahun ini! Saya memutuskan untuk liburan di Jakarta saja. Mau nonton Starwars The Force Awakens dengan paman serta ponakan. Terlambat ya..Well, nonton terlambat  satu minggu setelah penayangan perdana tidak akan mengurangi esensi film itu sendiri. Paling hanya harus menjauh saja dari medsos karena banyak spoiler sialan di mana-mana. Please, untuk sebagian orang tiap bagian dari film dan buku sangat penting untuk ditonton atau dibaca tanpa dirusak oleh cerita kalian.

    Tapi tulisan ini bukan tentang saya dan rencana liburan saya. Pasti tidak banyak yang peduli. Yang saya ingin bagi adalah sesuatu yang lain.

    Dukuh sebatang 19 Desember 2015. Yep, PK43 kembali menjalankan program Menyapa Indonesia sebagai salah satu bentuk pertanggung jawaban kita sebagai Awardee LPDP dan aksi give back to society. Pulang dari kunjungan ini, saya coba mengingat kapan terakhir kali saya melihat ketulusan yang sebenar benarnya? Disana saya melihatnya. Tidak sadar pada awalnya, tapi benar-benar hal yang mudah untuk melihat dan merasakanya. Dalam diri PK 43, dalam diri masyarakat, santai saja dan kita bisa dengan mudah melihatnya. Saya coba tuliskan dari kaca mata saya sendiri ya..

    Cara hidup masyarakat desa sudah hampir hilang dari ingatan saya. Di sebatang sana, kenangan masa kecil saya kembali lagi. Masa kecil yang saya habiskan di desa, bermain di hutan bambu, sungai, sawah, ladang. Mengunjungi rumah tetangga hanya dengan “semlekoooom!!! Assalamualaikum.” lalu bincang-bincang sedikit, numpang cuci kaki, minum, kadang2 minta klethikan di warung milik keluarga teman, ato bahkan makan siang. Well, tidak sepenuhnya sama waktu di sebatang, tapi sedikit banyak begitu. Pemilik rumah, Keluarga Sugiman benar-benar mengingatkan saya dengan masa kecil saya. Anak-anak desa yang sangat bersemangat, hangat, dan ramah pada kami. Di Jakarta mau bertemu anak2 seperti itu? Susaaaah…di mall mereka main HP atau Ipad, di restoran mereka main Hp atau Ipad, orang tua ala kota selalu mengajarkan untuk tidak berbicara pada orang asing. Yaah, tidak bisa disalahkan, lha wong kejadian penculikan anak dan pedofil banyak sekali di Jakarta.

    Menurut saya masalah ini ya terintegrasi. Tidak ada orang yang terlahir angkuh dan menutup diri, selalu ada alasan di belakangnya ya kan? Kemudian, keramahan masyarakat di sana pun bukan main. Tiap orang yang berpapasan di jalan, mau itu saya sedang jalan kaki, mau naik motor, semua selalu saling sapa. Saya ingat waktu di SD, saya sering memperhatikan semut yang jalan beriringan di tembok kelas. Memandangi mereka beberapa lama, sampai disuruh masuk kelas sama si ibu guru. Lalu dia berkata, “lihat itu semut, tiap kali berpapasan mereka salaman. Lucu ya”. Naaah, masyarakat desa ini persis begitu.

    Selalu saling sapa saat berpapasan, saling senyum, dan bertanya kabar, sangat natural. Tidak heran mereka hampir kenal satu sama lain seluruh anggota di desa. Di Jakarta, yang sebagian besar warganya tinggal di apartement? Tak ada garam di dapur artinya dalam lima  menit “selamat datang, selamat berbelanja di alfamart!!!”. End of story! Hal itulah yang membuat desa lebih indah. Saya tidak perlu berdiskusi dengan pikiran yang mengatakan “memang di desa masyarakat semuanya tidak bermasalah dan tidak ada yang saling iri atau bagaimana?”. Hal seperti itu lumrah ada, tapi ya itu terjadi di mana- mana, lagi pula saya hanya ingin coba menceritakan kebaikan yang bisa saya ambil saja..

    PK 43. Minggu itu banyak anak PK 43 menyempatkan waktunya untuk mengunjungi sebatang, menjalankan program MI dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Salut! Mereka tentu punya kesibukan di luar program ini. Sebagian masih harus mengerjakan laporan di kereta (yang akhirnya memilih minta ijin untuk mengirimkan kerjaanya minggu depan saja, dasar orang ini keteguhan hatinya kurang, hahaha..canda boos ga sebut merk. Tapi pasti ketawan juga sih), sebagian mau ada ujian, sebagian harus menggunakan waktu senggangnya menikmati me-time nya menonton animefavorit dan sesekali mengoreksi hasil ujian mahasiswanya. Saya yakin sebagian lain punya hal-hal yang juga mereka kesampingkan sebentar demi MI. Okay, MI dimulai dari kewajiban yang diberikan LPDP bagi kita para awardee. Beban, dan cukup berat mengingat hal ini pada awalnya tidak keluar dari dalam hati kita. Saya sendiri merasakanya.

    Tapi..semua itu hanya masalah cara kita memandang sesuatu. Teman saya yang menghabiskan banyak waktunya melakukan kerja sosial di waktu senggang pernah bilang. “hahaha..kamu pikir aku ini jagoan bisa kasih ini itu buat ngelakuin kerja sosial gini Dam? Justru aku ngerasa aku dapat banyak hal dari ngelakuin hal ini. Kesanya memang kita ini orang yang memberi, tapi dalam yang kita dapat ternyata lebih banyak. Hal-hal enggak berwujud, tapi lebih meaningful”. Saya sering dengar hal ini dari rekan saya yang jadi guru dan dosen. Bahwa jadi guru atau dosen sebenarnya mereka belajar lebih banyak. Cara mudahnya yang mereka bilang adalah, “saya satu orang, berhadapan dengan 30an anak didik. Menurut kamu, siapa yang akan lebih banyak belajar. Dan ingat ini hanya satu semester. Kamu ambilah kesimpulan sendiri!”.

    Benar juga ya!!?? Ya, ini semua cuma masalah sudut pandang. Buktinya, saat sesi outbond keluarga PK43 kembali tidak ada bedanya dengan anak-anak sebatang saat ada di pantai. Semuanya tidak sanggup menahan monster kecil dalam jiwa mereka yang memang tidak pernah bertambah dewasa. Ya, semuanya secara tiba-tiba menjadi muda. Bukan, menjadi anak kecil kembali. Well, saya yakin hal akan makin sulit untuk menjaga semangat melaksanakan program MI, apa lagi setelah semakin banyak keluarga pk43 yang mulai melanjutkan kuliah. So, best of luck temen2 Angkringan! So long social life!! Hahaha..kidding gais! Tenang, saat kita perjuangin sesuatu yang berharga buat kita, apapun tidak sulit. Apa lagi, ada si ini dan si anu yang bisa bikin semangat bertambah tiap kali kita pergi dinas/jalan2 ke sebatang..xP. Semoga kita bisa memecahkan masalah ini secepatnya ya, aamiin.

    Gais, kenal dengan angkatan 43 itu sesuatu yang saya syukuri. Saya pernah baca satu bait ini.

    am jobs not jails..

    I am clean water..

    I am hands that heal all mankind..

    I am the light and the gift of vision..

    I am th\e heart that keeps a child alive..

    I am greening our industry

    You know what, PK 43 punya skuad untuk jadi semua yang disebut di atas.

    Selamat tahun baru pk43. Break a leg in 2016!

    Penulis : Adam Adiwinata

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: