• Sejarah dan Keberanian bersama Putra Hidayatullah

    Muhammad Hilmi (H) berbincang dengan kurator Putra Hidayatullah (P), awardee LPDP angkatan PK-43

    phidayatullah03-1024x683

    Foto : Putra Hidayatullah (whiteboardjournal Foto)

    Bermula dari ketertarikannya terhadap karya tulis dan sejarah, hasil kurasi Putra Hidayatullah sering berfokus pada relevansi masa lampau dengan masa kini. Contohnya bisa dilihat pada beberapa pameran hasil kurasinya, Puing Perang, yang mengangkat pelanggaran HAM dalam konfilk politik di Aceh, dan Peringatan 10 Tahun Tsunami Aceh. Kini Putra menjadi salah satu kurator Jakarta Bienalle, dan kami berbincang dengannya mengenai latar belakang, perspektif, dan konsep kuratorialnya.

     

    Dalam penjelasan kuratorial Jakarta Biennale 2015, disebutkan bahwa Anda merupakan aktivis sejarah, bagaimana awal mula ketertarikan Anda terhadap bidang ini?

    P :

    Saya sendiri sebenarnya tidak pernah menyebut diri saya sebagai aktivis sejarah. Latar belakang saya adalah bahasa, saya lulusan Sastra Inggris. Sedari dulu, saya suka sastra. Saya juga suka menulis, untuk menulis, saya perlu membaca. Awalnya saya justru tidak terlalu suka dengan sejarah, karena pengalaman ketika sekola, pelajaran sejarah sangat tidak menarik. Bagi saya, pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah rasanya hampir sama dengan qute dari Eduardo Galleano, “pelajaran sejarah adalah tumpukan tulang belulang yang tidak memiliki emosi”.

    Saya mulai mempelajari sejarah melalui buku Pramoedya Ananta Toer, “Bumi Manusia”, buku ini sangat berpengaruh bagi saya untuk membuka gerbong-gerbong sejarah yang sebelumnya belum saya ketahui. Saya memulai perjalanan mendedah sejarah ini dari apa yang terjadi di sekitar saya. Saya lahir dan tumbuh besar di Aceh, jadi langkah pertama saya adalah untuk membaca mengenai apa yang terjadi di Aceh di masa konflik. Terutama mengenai pelanggaran HAM dan kemanusiaan yang sayangnya banyak diantaranya tidak terdokumentasikan dengan baik. Dalam sebuah jurnal dari peneliti antropologi asal Italia yang sedang melakukan riset di Aceh diceritakan bahwa di Italia, anak-anak muda-nya memiliki pemahaman yang cukup komprehensif mengenai tragedi kemanusiaan di Italia yang melibatkan Benitto Mussolini, meski ada gap sejarah yang cukup besar. Peneliti tersebut terkejut ketika di Aceh, dia melihat anak-anak di sana paham tentang revolusi industri, hingga revolusi Perancis, hingga sejarah Amerika, tapi sama sekali tidak mengerti mengenai sejarah tempat kelahiran mereka. Meskipun saya rasa, ketidaktahuan anak-anak muda di Aceh ini sedikit banyak berhubungan dengan agenda pihak tertentu yang menutupi apa yang terjadi di Aceh masa lalu.

    Dalam pameran yang saya sempat gelar di Taman Ismail Marzuki beberapa waktu yang lalu, saya mencoba untuk memetakan apa yang hilang dari pengetahuan akan sejarah Aceh melalui medium seni. Pameran tersebut melibatkan Idrus bin Harun, seorang seniman Aceh yang cukup berani dalam menggambarkan sejarah Aceh dalam bentuk karya seni. Jadi, dulu di masa konflik Aceh, terjadi hal-hal tak manusiawi terhadap warga yang datang dari aparat negara. Termasuk juga pada masa konflik dengan Gerakan Aceh Merdeka. Dan hal tersebut tercermin pada karya-karya seni yang muncul dengan tema-tema seputar opressed-oppressor, dimana dalam konflik yang demikian, rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa hanya menjadi korban. Hal seperti ini, saya takutkan akan terus terjadi bila kita tak mampu belajar dari sejarah. Sekali lagi, saya akan mengutip Galleano disini, “History never really says goodbye. History says, ‘See you later.’”

    Yang saya sayangkan adalah generasi sekarang yang masih saja tidak memiliki pemahaman akan sejarah. Bahkan banyak pula di antaranya yang terkesan tidak peduli, ada pula keengganan dari generasi sebelumnya untuk mentransfer pengetahuan atau bahkan pengalaman sejarahnya. Ada ketakutan disitu. Bahkan kalangan penulis disana pun memilih untuk menghindari bahasan mengenai sejarah kemanusiaan di Aceh, isu ini terutamanya, masih cukup sensitif. Tapi keadaan yang demikian justru membuat saya tertarik untuk menggalinya lebih jauh.

    H :

    Jadi sisa-sisa konflik masih cukup terasa di kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh?

    P :

    Masih. Mayoritas masih cenderung untuk tertutup. Mereka enggan untuk berbicara tentang sejarah. Mungkin, mereka masih merasa trauma dengan apa yang terjadi dulu. Tapi belakangan, ada concern baru yang berkembang pada benak masyarakat Aceh. Kini, ada ketakutan bahwa dengan bercerita mengenai sejarah Aceh, mereka akan dieksploitasi. Karena banyak datang wartawan dari media maupun peneliti yang menyebarkan harapan-harapan palsu saat melakukan observasi di sana. Masyarakat dijanjikan untuk dibantu, dibangun lagi rumahnya, namun tidak ada perwujudannya ketika riset mereka selesai. Pola yang demikian membuat masyarakat Aceh kesal, dan ini membuat mereka tak mau untuk berbicara lagi.

    Sempat saya mewawancarai seorang penyair senior di Aceh, beliau yang biasanya dengan cepat dan tangkas ketika merespon sebuah isu, tiba-tiba terdiam ketika saya pancing untuk bersyair tentang sejarah Aceh. Beliau menolak bersyair tentang topik tersebut karena beliau melihat masa lalu Aceh sebagai luka lama yang akan menyakitkan jika dibuka kembali. Dari situ, saya melihat bahwa diperlukan pendekatan khusus untuk mendedah sejarah Aceh. Sebuah pendekatan yang arahnya tidak untuk membuka dendam, tapi lebih kepada kepentingan pengetahuan. Saya pikir, cukup menarik untuk menemukan sebuah cara yang bisa menjadikan pembahasan mengenai sejarah Aceh tak lagi dimaknai sebagai upaya untuk mengorek luka, juga bukan sebagai pemicu mengenai romantisme masa lalu, melainkan sebagai medium kritik yang mencegah kita untuk terjebak pada lubang yang sama.

    Saya melihat disini posisi seniman harusnya tidak menutup kemungkinan untuk berkarya dengan dasar sejarah Aceh, karena mereka memiliki potensi untuk membuka pembahasan tentang sejarah ini dengan pendekatan yang sifatnya damai. Ini saya rasa seirama dengan tema Jakarta Biennale 2015, “Maju Kena Mundur Kena”, supaya kita bisa fokus dengan apa yang terjadi sekarang, tak lagi terjebak dengan perangkap masa lalu, namun juga tidak terperangkap dalam cita-cita masa depan yang utopis.

    H :

    Secara sosiologis, trauma mengenai konflik kemanusiaan di Aceh sangat menghantui perkembangan masyarakat di sana?

    P :

    Bisa dibilang demikian. Beberapa kali ketika saya agak kritis menulis mengenai sejarah Aceh, Ibu saya merasa khawatir dan menyarankan saya untuk tidak menulis seperti itu lagi. Jatuhnya, ketakutan seperti ini membuat masyarakat Aceh tidak mau berpikir panjang dan cenderung abai terhadap isu-isu sensitif ini. Anak mudanya pun jadi apatis. Ketika ada sebuah kejadian yang melanggar kemanusiaan, cenderung dibiarkan begitu saja, jikapun ada yang ingin bertindak, mereka tidak tahu bisa berbuat apa-apa. Di sini mungkin ada masalah dengan keterbatan akses pengetahuan, masyarakat tidak dibekali dengan pengetahuan untuk berpikir kritis.

    Di Aceh – saya rasa hal yang sama juga terjadi di seluruh Indonesia – kebutuhan untuk memperkaya pengetahuan masih kalah dengan kebutuhan terhadap hal-hal yang cenderung tidak produktif, seperti untuk membeli rokok dan semacamnya. Ketika pun ada koran yang masuk, bentuknya adalah koran kuning yang kosakatanya melulu berkisar darah hingga sperma. Belum lagi mengenai tema-tema hate speech yang semakin marak menjadi tema pada khutbah Jum’at. Dengan exposure informasi yang seperti ini, timbul kebencian pada benak masyarakat Aceh terhadap hal-hal yang sebenarnya sifatnya artificial, tidak nyata, seperti konflik antar agama, ataupun antar sekte agama. Bagi saya, konflik semacam itu sebenarnya tidak berkualitas, tidak esensial. Sedangkan untuk masalah yang ada di sekitar mereka, justru sama sekali tak ada bahasan maupun penyelesaian kesana. Saya rasa, semua orang harus tahu, terutama para korban, mengenai dimana dan apa yang terjadi pada suami atau kakak mereka, sekali lagi bukan untuk mengoyak dendam, tetapi karena mereka berhak untuk itu, ada pula kewajiban negara untuk meminta maaf yang sampai sekarang belum dilakukan.

    Yang saya sayangkan lagi, adalah mengenai minimnya keberanian intelektual dari anak-anak mudanya. Bahkan mereka yang kuliah jauh-jauh ke luar negeri, ketika pulang hasilnya sama saja. Saya secara pribadi ingin mencoba berani

    Narasumber : Putra Hidayatullah

    Student of Lancaster University

    *

    Sumber : http://www.whiteboardjournal.com/interview/25333/sejarah-dan-keberanian-bersama-putra-hidayatullah/

     

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: