• Senyum Hijau dari Sebatang

    12195754_10206666485353592_7674742000634556146_n

    Apa ini yang kau sebut kasih sayang? Ketika jarak tak lagi jadi penghalang…

    Apa ini yang kau sebut persaudaraan? Ketika jauhmu mendekatkan, dekatmu mendamaikan…

    Bertemu, berkumpul, menghabiskan waktu bersama untuk kegiatan formal maupun non formal bukan hal baru lagi bagi angkatan PK 43 LPDP RI yang dikenal dengan sebutan Jivakalpa. Kegiatan kopi darat (kopdar) yang merupakan salah satu tugas pra PK (Persiapan Keberangkatan) menjadi agenda rutin yang mempertemukan para awardee beasiswa LPDP RI dari daerah yang sama. Dalam beberapa kesempatan, kopdar bahkan dilakukan bersama awardee dari luar daerah. Kopdar menjadi sarana yang paling efektif untuk menyatukan pemikiran, tujuan dan tentu saja hati. Para awardee  menjadi lebih dekat satu sama lain, bahkan ada yang “terlalu” dekat. Bagi beberapa orang kopdar menjadi momen yang pas untuk menghilangkan kepenatan di sela-sela aktivitas harian dan deadline tugas pra PK. Mungkin itu sebabnya kopdar menjadi salah satu aktifitas yang dirindukan, bahkan setelah PK berlangsung. Hal ini terjadi juga pada anggota Jivakalpa. Ikatan hati yang terjalin selama pra PK dan PK rupanya cukup kuat untuk menumbuhkan rindu yang menggerakkan kaki kami menuju kota gudeg, Jogja.

    Belum genap satu bulan sejak kegiatan PK berlangsung, kami kembali dipertemukan lewat kegiatan Sapa Sebatang yang bertempat di Dukuh Sebatang, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Pertemuan ini menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu setelah beberapa minggu tenggelam dalam permainan hati yang belum bisa move on  dari kenangan-kenangan saat PK. Selama tiga hari, terhitung sejak tanggal 30 Oktober hingga 1 November, lebih dari 20 anggota Jivakalpa menghabiskan hari-hari bersama di tengah harmoni alam Sebatang.

    Bercerita tentang Sebatang, bayangkan saja sebuah perkampungan di daerah perbukitan dengan jalannya yang naik turun terjal. Pohon-pohon tinggi menjulang memisahkan rumah-rumah yang berkelompok dua-tiga bangunan. Jalan-jalan beraspal meliuk panjang menghampiri dinding tebing, menyapa tepian Waduk Sermo yang berkilatan saat siang hari. Di pagi hari, sinar lembut mentari mengantarkan bapak-bapak pemanen nira kelapa, mengiringi ibu-ibu menyetorkan gula merah pada pengepul. Semua tentang Sebatang terasa indah. Dan keindahan itu semakin semarak dengan kedatangan para abdi bangsa.

    Selama tiga hari, kami menjalankan program pendidikan dan kebudayaan Menyapa Indonesia berupa pelatihan guru dan kader PAUD Sebatang, serta workshop kesenian jathilan. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari dari pagi hingga siang, dilanjutkan dengan evaluasi panitia dan penampilan kesenian jathilan di malam hari. Kebersamaan menjadi obat paling ampuh untuk melenyapkan rasa lelah. Ditambah dengan antusiasme peserta dalam mengikuti rangkaian kegiatan.

    Hari kedua di Sebatang, sebagian anggota berencana untuk mengunjungi wisata Kalibiru yang terletak tidak jauh dari Dusun Sebatang. Selepas Ashar, rombongan yang terdiri dari dua mobil dan beberapa motor melesat menuju puncak. Perjalanan terasa lebih panjang dan menegangkan karena harus melalui jalan-jalan sempit dengan belokan tajam dan berbatasan langsung dengan tebing curam. Belum selesai dengan itu semua, rombongan harus berjalan kaki beberapa meter lagi menaiki jalanan dengan sudut kemiringan yang cukup besar. Kaki terasa bertambah lemas setiap kali melangkah. Namun semua itu terbayar dengan indahnya pemandangan di puncak Kalibiru.

    Tidak seperti namanya, Kalibiru sama sekali tidak memiliki unsur air di dalamnya kecuali hamparan Waduk Sermo yang masih terlihat jelas dari kejauhan. Kalibiru menyajikan pemandangan alam yang luar biasa indah. Permadani hijau yang berbatasan langsung dengan langit biru. Spot pengambilan foto berupa panggung yang menggantung pada pohon di tepi tebing memberikan kesan di atas awan.

    Wajah-wajah khawatir, takut, dan lelah selama di perjalanan menguap begitu saja. Berganti senyuman lembut yang menyiratkan kebahagiaan dan kedamaian. Entah berapa puluh foto yang tercetak saat itu. Rasanya setiap sudut dan detik di Kalibiru sayang untuk tidak diabadikan. Kami menghabiskan waktu di sana hingga matahari tenggelam. Menyaksikan sunset bersama sahabat-sahabat terbaik menjadi momen yang teramat berharga bagi kami.

    Hari terakhir di Sebatang diisi dengan workshop kesenian jathilan yang diikuti oleh seniman lokal Dukuh Sebatang. Workshop dilanjutkan dengan latihan yang disaksikan langsung oleh anggota Jivakalpa yang hadir saat itu. Beberapa anggota bahkan ikut menari bersama para penari. Sekitar pukul 2 siang, acara ditutup dengan foto bersama para seniman jathilan. Saat itu juga menjadi akhir kisah di Dukuh Sebatang. Menyisakan kesan mendalam dan rasa rindu ingin kembali.

    Dalam perjalanan pulang, kami mampir ke sebuah rumah makan dan menuntaskan kebersamaan hari itu. Riuh canda tawa puluhan kepala mendominasi keramaian rumah makan. Makan bersama dalam satu atap, saling berbagi dan berebut. Penutup yang sempurna untuk deretan cerita selama tiga hari di Jogja. Tiga hari penuh makna, tiga hari bersama sahabat-sahabat tercinta.

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: