• Sepertiga Jalan!

    Juni 2015, bulan saat 121 anak bangsa disatukan dalam satu angkatan penerima beasiswa LPDP. Angkatan kami bernama Jivakalpa dan merupakan angkatan ke-43 dari seluruh penerima beasiswa lainnya. Satu tugas pra PK kami ialah Menyapa Indonesia (MI), yang mewajibkan kami untuk mengembangkan masyarakat di Dukuh Sebatang dengan 3 angkatan lainnya. Pengabdian ini, yang akhirnya tidak lagi menjadi sebuah tugas , diawali dengan survei lokasi di awal Juli 2015. Survei inilah yang menjadi tonggak dimulainya pengabdian kami, yang berfokus di bidang Pendidikan dan Kebudayaan.

    Kala itu, angkatan kami baru terbentuk sekitar 2 minggu. Kenal? Tak terlalu. Akrab? Belum juga. Percaya? Ah apalagi. Pemilihan ketua MI pun sangat spontan. Ihsan, ketua angkatan pra PK-43, mewawancarai beberapa kandidat dan hanya Isma (panggil saja Juple) yang memberikan komitmennya tanpa ada embel apa-apa. Saat itu saya mengkritik cara pemilihan yang terkesan “sembrono”. Namun, saat ini saya bersyukur bahwa MI Jivakalpa memiliki Juple dan teman-teman inti MI di Jogja yang berdedikasi tinggi.

    Jivakalpa

    Agustus 2015 – Peluncuran Program Sapa Sebatang, tim PK-43

    Agustus 2015, kami masuk ke peluncuran program MI Sapa Sebatang (nama kegiatan gabungan dari PK-41 sampai PK-44). Diskusi, debat, dan perhatian dicurahkan selama dua bulan sebelum peluncuran demi formula kegiatan terbaik yang akan kami jalankan untuk mengembangkan masyarakat Sebatang. Kami sadar bahwa kami berinteraksi langsung dengan masyarakat sungguhan. Sejak awal, kami berupaya penuh agar pengabdian ini bukan sebatas obralan janji manis; kami tidak mau mejadi pemimpin masa depan dengan sifat tersebut. Maka, lahirlah Sebatang Asa (nama program pendidikan) dan Sebatang Sedaya (nama program kebudayaan) sebagai wujud pengabdian kami.

    Semester pertama kami berlangsung amat padat. Kegiatan berlangsung hampir di setiap minggu dan keluarga Jivakalpa datang silih berganti ke Sebatang untuk membantu kelancaran kegiatan. Hal ini sengaja kami lakukan, karena kami ingin ada gradasi agar warga sudah mandiri saat pengabdian kami resmi berakhir. Jadi, semester-semester selanjutnya tidak akan sepadat seperti di semester pertama. Konsekuensinya? Kami jadi “kurang piknik”. Efek samping kepadatan ini membuat kami dan warga terengah-engah. Meski bahagia dan mendukung kegiatan kami, warga juga butuh waktu untuk menjalani aktivitas rutin mingguan mereka.

    Desember 2015, terselenggaralah Pesta Rakyat Sebatang yang kami inisiasi dengan bantuan hangat dari warga. Pesta Rakyat tersebut menandai akhir semester pertama kami yang dimaknai dengan pelaporan kegiatan&progres pengabdian kami. Warga pun turut aksi dalam “pamer progres” mereka, dengan menyuguhkan pentas musik dan tari Jathilan. Diluar itu, kami turut pamit kepada warga Sebatang untuk berangkat kuliah. Pamitan ini kami rasa penting, agar warga terinformasi dan tidak merasa “diabaikan” oleh kami yang akan semakin sibuk dengan perkuliahan. Biar bagaimanapun, silaturahmi dan komunikasi dengan warga sangatlah kami jaga.

    Semester kedua pengabdian kami berlangsung lebih teratur dari semester pertama. Kegiatan rutin (pelatihan Bahasa Inggris, pelatihan Tari&Musik Jathilan) dijalankan dengan konsisten dengan beberapa kegiatan insidentil turut dilakukan bersama dengan warga. Gradasi yang kami harapkan mulai terwujud, kebergantungan warga terasa berkurang dan mereka dapat makin sadar dan mandiri dalam setiap pelaksanaan kegiatan. Pengalokasian tim inti MI pun lebih terarah, belajar dari pengalaman kami di semester pertama.

    Apakah ada tantangan dan kesulitan? Banyak sekali. Tantangan dari aspek eksternal kami muncul; antusiasme dan minat warga yang timbul-tenggelam, SDM profesional yang sibuk diluar kegiatan kami, atau kesibukan warga yang kadang tak terduga. Internal kami pun memiliki kesulitan yang timbul; kesibukan kuliah yang dimiliki tim inti Jogja, perhatian yang kurang tercurah dari anggota Jivakalpa non-Jogja, atau kejenuhan yang melanda masing-masing dari kami. Bagaimana mengatasinya? Kami selalu merefleksikan pengabdian kami yang sepenuhnya hanya untuk warga dan kesempatan emas yang kami peroleh lewat beasiswa LPDP untuk mengembangkan diri kami. Guyonan dan slogan “jangan lupa bahagia” sedikit membantu kami saat mengatasi masalah-masalah ini.

    Juni 2016, semester kedua pengabdian kami pun tuntas. Kami tutup semester ini dengan kegiatan Buka Puasa Bersama dengan warga yang terlibat langsung dengan kegiatan pengabdian kami di Sebatang. Selain silaturahmi, kami turut melaporkan kepada warga akan progres dan kendala kami, sehingga ekspektasi yang kami punya dan diberikan warga kepada kami dapat lebih tepat sasaran. Kali ini, warga “membalas” dengan memberi pertunjukkan tarian dari adik-adik program Kakak Adik Inspirasi yang kami laksanakan disana.

    Jivakalpa

    Juni 2016 – buka puasa bersama PK-43 dengan warga Dukuh Sebatang

    Satu dari tiga tahun sudah kami jalani. Tentu, kami tidak sendiri dalam proses pengabdian ini. Terutama, biarlah sembah syukur kami berikan hanya kepada Tuhan YME atas jalan-Nya sehingga kami berada di situasi ini. Lalu, selain kepada masyarakat Sebatang, ucapan terima kasih kami mengalir deras kepada tim LPDP, para donatur individual, dan sponsor-sponsor kegiatan kami. Pengabdian ini merupakan kolaborasi banyak pihak, yang bertujuan sama untuk membangun Indonesia. Dimulai dari satu dukuh di Kulonprogo, kami percaya bahwa semangat mengabdi dapat terus menular dan menjadi virus untuk kemajuan Indonesia.

    “Kami kumpulan anak negeri, menuntut ilmu di seluruh penjuru bumi, demi tegaknya Indonesia madani, dengan Tuhan penopang hidup kami.” (Jivakalpa Membangun Negeri, lagu angkatan PK-43)

    Jonathan Saputra (Matematika ITB)

    Ketua Angkatan PK-43

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: