• Si Pendiam Zandy

    Setiap orang berbakat di bidang tertentu. Kita hanya harus menemukan apa bakatnya.

    (Evelyn Blose Holman)

     

    Kata mutiara di atas adalah pembuka yang mewakili apa yang telah kudapatkan selama pendekatan dengan adik inspirasiku, Zandy Gunawan. Pertama kali bertemu dengan Zandy adalah saat forum pembekalan Adik dan Wali Inspirasi tanggal 7 November 2015 di SD Muhammadiyah Menguri. Pertemuan itu menyisakan cerita yang tak akan pernah terlupakan untukku dan yang lainnya, Zandy menangis setelah sang Kakek menceritakan tentang Ibunya. Ya, mereka sudah terpisah selama 6 tahun lamanya karena sang Ibu harus bekerja sebagai TKW di Hongkong. Rasa rindu sudah tak bisa Zandy bendung lagi untuk segera bertemu dengan sang Ibu. Rasa penasaran pun menyeruak di benakku untuk mendalami latar belakang Zandy lebih jauh karena karakter Zandy yang kusadari memang sangat pendiam dan pemalu.

    Surat balasan dari Zandy

    Surat balasan dari Zandy

    Kesempatan kedua untuk mengenal Zandy lebih dekat pun datang, tim KIAI mengadakan outbound yang bertujuan untuk bonding antara kakak dan adik inspirasi, tetapi sebelum itu kami difasilitasi untuk melaksanakan home visit terlebih dahulu. Nah, ini kujadikan kesempatan untuk menjalankan misi pribadiku. Saat itu di rumah, seperti biasa hanya ada Mbah Kakung, Mbah Putri, Zandy,dan Hanafi (adik Zandy), aku bertamu dan tak lupa dengan tujuan awalku singgah di sana adalah untuk mengorek informasi sedalam-dalamnya. Tapi ada hal yang kusadari ketika berkomunikasi dengan Mbah Kakung dan Mbah Putri, beliau berdua mempunyai perbedaan dalam menyikapi Zandy. Mbah Kakung adalah sosok yang frontal, beliau secara terus terang akan membedakan Zandy dengan adiknya contohnya saat itu beliau membedakan nilai raport mereka di hadapanku, dan ketika sesaat kulihat, Zandy menunjukkan sikap yang memendam malu dan semakin minder. Entahlah apakah memang cara ini yang dipilih Mbah Kakung untuk merubah Zandy tapi yang jelas ini cara yang salah karena akan membuat Zandy semakin tidak percaya diri dengan kemampuannya. Berbeda dengan Mbah Putri, beliau lebih sabar dan beliau benar-benar memahami Zandy yang memang kurang kasih sayang seorang ibu sehingga menjadikannya menjadi seperti sekarang. Mbah Putri juga mengatakan bahwa ibunya Zandy akan kembali ke rumah saat lebaran tahun depan, semoga ini menjadi motivasi untuk Zandy bisa menunjukkan kemampuannya.

    Keesokan harinya adalah hari dimana aku mengetahui banyak hal tentang Zandy. Seni, olahraga,  dan kreatifitas adalah hal-hal yang mendominasi kemampuan Zandy. Awalnya aku hanya tahu dari hobinya membuat layangan sendiri dan hasil raport yang menunjukkan mata pelajaran SBK dan penjas menjadi nilai tertinggi, tetapi ketika outbound semua itu terbukti. Aku sengaja mengikuti apa yang dimau Zandy dalam pos-pos permainan yang memang dibutuhkan kerjasama antara kami berdua karena aku yakin Zandy mempunyai potensi yang belum dia tunjukkan. Saat itu di pos pertama adalah permainan mengambil bendera, aku langsung bertanya, “Zandy ada strategi apa?” dan dia mempunyai strategi untuk mengambil bendera terdekat dengan menyusun mana bendera pertama diambil dan seterusnya. Mungkin itu simple, tapi kami berhasil menjadi pemenang untuk pertama kalinya. Ada rasa bangga menyelimutiku saat melihat ekspresi Zandy membuka hadiah dengan senyumnya saat mengetahui isinya adalah kotak makan dan botol minum (jujur, itu adalah moment terbaikku bersama Zandy). Di pos berikutnya adalah permainan menyusun sedotan, dan aku tetap menggunakan cara yang sama yaitu menanyakan kepadanya, “Zandy ada ide ndak ini diapain biar bisa jadi tinggi?”. Aku hanya membantu di awal untuk membuat pondasi sedotan tersebut, selebihnya Zandy lah yang mempunyai ide untuk memplester antara satu sedotan dengan yang lainnya agar lebih kokoh. Inilah yang membuktikan bahwa Zandy mempunyai daya kreatifitas yang bisa membawa kami menjadi pemenang untuk kedua kalinya. Sebenarnya saat itu sudah kusiapkan kegiatan yang bisa membuat dia menggunakan kreatifitasnya yaitu membuat pigura dari pasir pantai saat sesi bebas, tapi ketika kulihat dia dan teman-temannya tertawa lepas menikmati deburan ombak Pantai Goa Cemara membuatku urung melakukannya. Aku melihat sisi Zandy yang lain saat itu, dia lepas bebas tanpa beban. Dari sini pula aku meyakini bahwa Zandy tak seperti apa yang terlihat, dia mempunyai bakat yang luar biasa seandainya dia menyadari itu.

    Hadiah pertama untuk Zandy yang memenangkan game

    Hadiah pertama untuk Zandy yang memenangkan game

    Sungguh, aku tak sabar menunggu lebaran tahun depan di saat Ibu dari Zandy kembali ke rumah dan bisa memotivasi Zandy untuk mengembangkan bakatnya dan juga membuatnya lebih percaya diri. Ketika saat itu tiba, ingin rasanya bisa singgah dan menginap di rumah Zandy sehingga aku bisa lebih dekat lagi dengan keluarganya dan juga menjadi saksi kebahagiaan Zandy menjalani kehidupannya bertemu kembali dengan orang terkasihnya. Semoga mimpi kecilku ini bisa kugoreskan menjadi ceritaku di tahun depan, aamiin.

    Foto perpisahan dengan Zandy

    Foto perpisahan dengan Zandy

    Penulis : Rizka Maulina

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: