• Tentang Edi (Jivakalpa Scholarship)

    Sabtu dan Minggu, 17 dan 18 Desember lalu, saya bersama volunteer kegiatan Jivakalpa Scholarship lainnya pergi ke Dukuh Sebatang. Saya hendak bertemu Edi, adik yang akan saya dampingi ke depannya. Sabtu sore, kami pergi ke rumahnya dan berpapasan dengan Edi di jalan. Namun, saat dia dipanggil oleh Kak Tika, dia malah lari dan bersembunyi dari kami berdua. Sejenak saya simpulkan di benak saya bahwa Edi merupakan anak yang pemalu. Akhirnya, kami langsung saja pergi ke rumahnya dan bertemu dengan ayah dan kakak Edi. Kami berbincang-bincang mengenai kondisi Edi dan keluarganya. Dari hasil perbincangan tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya orang tua Edi sangat mendukung program Jivakalpa Scholarship. Ayahnya sangat terbuka dan antusias ketika diperkenalkan dengan program ini. Ia sangat berharap bahwa saya sebagai kakak pandu Edi dapat membantu Edi ketika dia mendapatkan kesulitan, disamping bantuan yang juga diberikan oleh pihak keluarga.

    Keluarga Edi sebenarnya tidak memiliki kesulitan dalam masalah finansial. Keluarga ini merupakan keluarga yang berkecukupan dan memiliki kondisi yang sangat mendukung untuk perkembangan Edi di masa depan. Namun, salah satu masalah yang dapat saya deteksi dari hasil pengamatan saya adalah kedua orang tua dan kakaknya kurang mengawasi pergaulan Edi. Edi pun sangat tertutup kepada keluarganya sendiri. Selepas dari rumah Edi, saya beberapa kali menghubungi kakaknya untuk meminta Edi agar mengikuti kegiatan Menyapa Indonesia yang diadakan oleh PK-43 Jivakalpa, seperti pelatihan Jathilan (sabtu malam) dan pelatihan Bahasa Inggris (minggu pagi). Namun, sampai ketika saya melakukan cross check beberapa saat sebelum pelaksanaan pelatihan Jathilan, kakaknya selalu menjawab bahwa Edi telah pergi entah kemana yang kakaknya tak ketahui.

    Pada hari Minggu, saya kembali menghubungi kakaknya untuk meminta Edi agar mau mengikuti kegiatan pelatihan Bahasa Inggris. Namun, Edi kembali tidak hadir dan terpaksa saya harus mencarinya. Dari informasi yang saya dapat, dia sedang bermain COC (Clash of Clans) di SD. Ketika saya dan Kak Isma menghampirinya, dia langsung bersembunyi. Entah karena dia merupakan anak yang pemalu, atau memang dia tidak mau untuk bertemu dengan kami. Setelah beberapa saaat, akhirnya dia keluar dan bersedia untuk mengobrol dengan kami. Obrolan kami hanya seputar game yang sedang dia mainkan. Ketika kami singgung mengenai pelatihan Bahasa Inggris, dia berubah menjadi kurang simpatik. Kami pun terus membujuknya untuk mengikuti pelatihan Bahasa Inggris, namun dia sama sekali tidak mau dan malah menangis. Dia melimpahkan kemarahannya kepada kami saat itu. Setelah kami bujuk, akhirnya dia mau untuk mengikuti pelatihan Bahasa Inggris dengan catatan dia hanya duduk saja. Di kelas, ketika mengikuti pelatihan Bahasa Inggris, dia kembali mengamuk dan merobek kertas yang saya berikan kepadanya. Kali ini ia benar-benar marah. Mencoba mengalah, saya pun membiarkannya dahulu agar tenang hingga jam pelajaran usai.

    Setelah pelajaran usai, saya bertemu dengan guru Edi, yaitu Bu Asih. Menurut Bu Asih, Edi merupakan anak yang sangat pandai, terbukti dari peringkatnya di kelas yang selalu peringkat 1, hanya sekali peringkat 2 di kelas 5 ini. Namun, karena kepandaiannya ini dia memiliki motivasi belajar yang kurang, dan menjadi malas belajar. Selain itu, menurut saya Edi juga memiliki masalah psikologis. Dia merupakan anak yang sensitif dan temperamental, terbukti ketika dia langsung menangis dan mengamuk ketika diajak melakukan sesuatu yang tak berkenan di hatinya. Satu hal yang sangat menjadi perhatian saya adalah ketergantungannya dengan gadget. Setiap waktu, Edi selalu bermain game melalui gadgetnya. Minat dan hobinya pun hanya pada game yang selalu dia mainkan. Edi juga merupakan anak yang pemalu, dan kurang percaya diri. Entah apa yang mendasarinya, mungkin karena faktor keluarga, karena menurut Bu Asih kakaknya juga demikian.

    Deteksi awal yang dapat saya ambil dari hasil pemetaan selama dua hari ini adalah, Edi merupakan anak yang sangat pemalu, sensitif, dan temperamental. Tetapi di sisi lain Edi juga pandai, namun tidak memiliki motivasi belajar. Selain itu, ia memiliki ketergantungan gadget yang sangat mengkhawatirkan. Hasil-hasil ini cukup memberikan gambaran singkat bagi saya untuk mengetahui bagaimana cara saya, sebagai kakak pendamping, untuk meningkatkan kemampuan Edi.

     

    Dani Setyawan (kakak pendamping Edi)

    Universitas Gadjah Mada)

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: