• TERSIMPUL SENYUM MANIS ITU

    Ini kali ketiga, 19 Desember 2015, aku berkunjung ke Sebatang. Desa di pelosok daerah Kulon Progo Kota Gudeg. Sinar mentari sudah nampak cukup terang menyapa pagi, ditemani oleh suara mesin mobil yang melaju cepat membawa aku dan teman-teman menuju bagian barat kota Gudeg. Perjalanan satu jam setengah ditempuh melewati medan yang cukup menantang. Kali ini, perjalanan sedikit berbeda karena sesampai di daerah Kulon Progo diriku disambut oleh hamparan pemandangan hijau pegunungan yang tidak aku temui ketika kali pertama berkunjung ke Sebatang. Nampak pepohonan nan hijau dengan batangnya yang kecoklatan tumbuh kokoh di atas tanah subur Kulon Progo. Mobil yang membawa kita melaju dengan gesit melewati setiap jalan yang menikung tajam dan naik turun.

    Akhirnya tepat pukul 11.00 siang kita tiba di desa Sebatang disambut oleh keramahan penduduk Sebatang. Rombongan langsung menuju salah satu rumah penduduk yang dijadikan base camp kegiatan. Disana sudah ada beberapa teman yang sudah sejak kemarin datang lebih dulu. Di depan rumah Pak Sugiman (pemilik rumah yang dijadikan base camp kita) sudah berdiri kokoh tenda untuk acara pagelaran budaya Jathilan nanti malam. Terlihat beberapa penduduk Sebatang yang mulai sibuk membantu untuk mempersiapkan acara nanti malam. Beberapa buah alat musik sudah terpasang di atas panggung kecil yang diletakkan di bagian timur tenda.

    Senja mulai terlihat di ufuk barat, pertanda gelap mulai menyelimuti desa Sebatang. Rumah- rumah penduduk sudah nampak terang dengan sinar lampion-lampion lampu yang menyebar ke setiap sudut ruangan. Udara dingin semakin mencekat tulang-tulang rusuk. Para penduduk mulai banyak berdatangan ke rumah Pak Sugiman. Aku dan teman-teman juga baru saja mengakhiri rapat koordinasi untuk acara kebudayaan nanti malam. Kita bergegas menyiapkan beberapa keperluan untuk acara nanti malam. Aku yang ditunjuk sebagai seksi konsumsi sudah mulai sibuk mendata beberapa tamu undangan yang akan hadir di acara nanti malam.

    Tepat setelah mendirikan shalat magrib, aku dan teman-teman sudah berkutat dengan job desk masing-masing. Rumah Pak Sugiman sudah dipenuhi dengan banyak orang yang ikut andil menyukseskan acara kebudayaan malam ini. Dapur rumah pak Sugiman sudah disulap menjadi tempat penataan kardus-kardus makanan sedangkan ruang tamu digunakan untuk menata tissue dan sendok sebagai pelengkap kardus-kardus makanan. Di ruangan bawah, tampak ibu-ibu yang sedang memasak kudapan untuk hidangan malam ini. Setiap orang sudah tampak sibuk melakukan tugas masing-masing. Sesekali terdengar suara canda tawa teman-teman yang terlihat menikmati sekali kebersamaan ini. Maklum, sejak pertengahan oktober kemarin kita sudah tidak bersua satu sama lain. Dengan adanya kegiatan Menyapa Indonesia ini akhirnya kita bisa menikmati kebersamaan ini lagi. Ini benar-benar momentum berharga bagi kita.

    Satu jam kemudian, setelah kumandang adzan isya terdengar, para tamu undangan berduyun-duyun datang ke rumah Pak Sugiman. Aku dan teman-teman yang sejak tadi berkutat di dapur dan ruang tamu, mulai menyambut tamu-tamu. Selang beberapa menit kemudian, acarapun dimulai. Acara dibuka dengan sambutan dari kepala desa Sebatang dilanjutkan dengan sambutan oleh ketua angkatan Jivakalpa dan koordinator program Menyapa Indonesia. Di luar tenda, warga Sebatang mulai berdatangan. Tak sedikit dari mereka yang rela berjalan kaki beberapa kilometer dengan medan yang naik turun , untuk menghadiri pagelaran kebudayaan ini. Tepat pukul 21.00 pagelaran kebudayaan Jathilan dimulai. Suara khas alat musik tradisional Jathilan terdengar menderu dengan iring-iringan para pemuda yang menyajikan Jathilan. Mereka mengenakan pakaian khas Jathilan, dengan celana pendek selutut ditambah balutan jarik yang melingkar di luarnya. Asesoris kuningan yang terpasang mengkilap di lengan dan leher mereka membuat penampilan mereka semakin unik.

    Di luar tenda, suara gerimis mengiringi alunan alat musik Jathilan yang dipukul dengan gempita. Ternyata, malam itu cuaca tidak begitu bersahabat. Beberapa menit kemudian, guyuran hujan lebat membasahi tanah Sebatang.Tapi itu tidak menyurutkan semangat para pemain Jathilan yang sudah sejak tadi menari dan beraksi. Pagelaran budaya Jathilan berlangsung hingga dini hari. Sekitar pukul 01.00 acara ini berakhir.

    Embun pagi berdecak membasahi ranting-ranting pohon ditambah bau khas tanah yang basah oleh hujan kemarin malam. Pagi itu, 20 Desember 2015, aku dan teman-teman akan mengadakan out bond dengan adik-adik inspirasi. Kita akan menghabiskan waktu bersama di pantai Goa Cemara. Pagi itu, suasana rumah Pak Sugiman sudah nampak ramai dengan keceriaan adik-adik inspirasi yang menunggu kedatangan bus yang akan membawa mereka ke pantai Goa Cemara. Tampak senyum lebar di wajah mereka yang menyiratkan kebahagiaan yang tulus. Ada delapan adik inspirasi yang akan mengikuti kegiatan out band pagi itu.Tepat pukul 07.00 pagi, kita berangkat menuju pantai Goa Cemara. Perjalanan ditempuh sekitar satu jam setengah dari desa Sebatang.

    Akhirnya, pukul 08.30 rombongan sampai di pantai Goa Cemara. Ratusan pohon cemara menjadi pemandangan khas tempat ini. Daun cemara yang rimbun dan tinggi menjulang menyajikan nuansa dingin dan teduh. Di beberapa spot area berdiri rumah-rumah bambu yang digunakan untuk melepas penat. Setelah melakukan koordinasi dengan tim pemandu out bond, aku dan teman-teman bergegas melakukan tugas masing-masing. Selama lebih dari dua jam, adik-adik inspirasi dan kakak-kakak inspirasi bermain out bond di bawah pohon cemara yang rindang. Tawa, canda, teriakan karena keseruan diantara mereka membuat suasana semakin akrab. Aku tergelitik untuk terus menatap wajah adik-adik inspirasi yang sejak tadi sibuk memberi instruksi ke kakak-kakak inspirasi dalam permainan finding flag. Guratan keceriaan tersirat di wajah polos dan lucu mereka. Sesekali senyum manis tersimpul di wajah mereka karena senang memperoleh hadiah.

    Ah, senangnya diriku melihat keceriaan mereka. Delapan anak-anak Sebatang yang notabenenya adalah anak-anak dari keluarga tidak mampu bisa menikmati momentum ini. Mungkin bagi sebagian dari mereka, berlibur ke tempat-tempat wisata dengan keluarga adalah hal yang langka dilakukan. Karena tidak semua dari mereka memiliki keluarga yang lengkap. Ada salah satu dari mereka yang sudah semenjak kecil hanya tinggal dengan ibu nya karena lama ditinggal merantau Bapaknya. Hidup dengan penuh kesederhanaan, cuma bisa mengandalkan penghasilan ibunya dari memanen pohon aren. Ada lagi dari mereka yang semenjak kecil sudah terpisah dari ibunya karena desakan ekonomi, yang mengharuskan ibunya merantau ke negeri orang. Berbagai macam background keluarga yang mereka miliki membuat aku semakin bersyukur bisa dipertemukan dengan mereka. Paling tidak, ada hal-hal yang bisa aku dan teman-temanku lakukan untuk melukis senyum di wajah mereka.

    Penulis: Ratna Sari, Master Program Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: