• Yogyakarta dan Keramahannya

    Jumat adalah hari yang sibuk bagi saya, seharian mengikuti kuliah dari pagi hingga petang, dan hari itu saya harus beranjak dari kampus secepat mungkin untuk mengejar waktu keberangkatan kereta pukul 20:00 WIB. Alhasil ternyata bukan cuma saya seorang yang lari terbirit-birit mengejar angkot ke ITB sebagai meeting point kami (Awardee PK-43) yang akan berangkat ke Dukuh Sebatang, Kecamatan Kulonprogo, Kab, Kokap, Yogyakarta. Ada mbak Dien dan Fauziah yang juga baru saja menyelesaikan urusan kampusnya pukul 18:00 WIB. Sementara Pak.Lurah ITB Mas. Wahyu dan Mas. Asis sudah greget menunggui kami yang tak kunjung datang. Untungnya kami bisa berkumpul sejam sebelum kereta bernagkat, lebih beruntungnya lagi saat kami menumpangi Grab ke stasiun kami mendapatkan driver yang berpengalaman yang menguasai lorong-lorong jalan, berusaha menghindari traffic jam malam itu, hingga tibalah kami di stasiun beberapa menit sebelum kereta berangkat. Huuu…. hampir saja balik lagi ke kosan.

    Anggota PK-43 yang berfoto di rumah warga, tempat pelatihan jathilan

    Perjalanan Bandung-Yogya membutuhkan waktu selama 7-8 jam dan kami tiba di Yogja ketika adzan subuh telah berkumandang. Kami beristirahat sejenak di kediaman mbak Tika, anak UGM yang pengalamannya tak pernah habis diceritakan ke masyarakat Sebantang. Menjelang siang kami berangkat ke Sebatang, dukuh yang menjadi tempat pengebdian kami dalam program Menyapa Indonesia (MI). Perjalanan ke sana membawa saya serasa pulang ke kampung Nenek, suasana yang hijau, dingin, perbukitan dan suara-suara burung bersahut-sahutan yang berasal dari hutan-hutan di sekeliling perkampungan. Sampainya di Sebatang, kami disambut oleh salah seorang warga, dan ternyata ada banyak warga yang sudah mengenali kami dan mengetahui tujuan kedatangan kami. Di Sebatang kami numpang di rumah pak Dukuh, rumah yang menjadi saksi anak-anak PK-43 yang berkunjung ke Sebatang. Pak.Dukuh begitu sumringah dan tersebyum lebar ketika ia melihat kami, apalagi saat melihat Mas.Asis beliau langsung memeluk seakan melihat anak sendiri yang baru pulang dari perantaunnya. Kami menghabiskan hari hingga tengah malam di rumah Pak.Dukuh. Sebenarnya agenda hari itu, kami ingin mengikuti pertemuan dengan anggota karang taruna Desa namun hujan yang begitu lebat tidak mengizinkan kami untuk beranjak dari rumah Pak.Dukuh. Hingga akhirnya kamilah yang didatangi oleh salah seorang warga ke rumah itu, latar belakang ilmu kami yang berbeda-beda dan pengalaman warga desa membuat perbincangan yang panjang malam itu, ada banyak hal yang kami perbincangkan mulai dari masalah hutan lindung dan hewan yang dilindungi, eksploitasi, pendidikan, ekonomi, politik, budaya sampai pada film pendek yang dibintangi oleh warga Dukuh Sebatang yang membuat kami tak bisa menahan tawa saat mendengarkan pengalamannya ketika pengambilan gambar.

    Saya belajar satu hal malam itu, bahwa dalam melakukan pengabdian bukan hanya program yang utama, tapi bagaimana kamu bisa berbaur dengan masyarakat dan masyarakat bisa menerima keberadaan kamu di sana, karena tanpa dukungan dari masyarakat, program yang superior pun tidak akan berarti apa-apa.

    Pemanasan sebelum latihan jathilan

    Keseokan harinya, kami mengunjungi sekolah PAUD meskipun hari minggu sekolah tetap buka karena tempat ini digunakan sebagai tempat kursus Bahasa Inggris anak-anak Sebatang, salah satu program pendidikan yang kami garap. Untuk program ini, para pengajarnya adalah volunteer yang datang jauh-jauh dari kota tiap 2 minggu sekali hanya untuk berbagi ilmu dengan anak-anak Sebatang, mereka kebanyakan masih berstatus Mahasiswa, sama seperti kami, namun keterbatasan anggota  PK-43 yang berdomisili di Jogja membuat kami harus memanggil pengajar sukarelawan. Selain itu, kami juga bergerak di bidang kebudayaan dan PK-43 fokus pada pengembangan kebudayaan jathilan. Hari itu juga adalah hari latihan jathilan untuk anak-anak. Awalnya yang mengikuti latihan adalah para pemuda-pemuda dukuh namun kami dan warga bersepakat agar anak-anak juga diberikan pelatihan jathilan agar tercipta generasi pelanjut pemain jathilan. Namun saya sedikit heran, setelah melihat beberapa anak yang tidak ingin mengikuti latihan dan memilih untuk pulang dan ada pula yang mengatakan kalau ia takut melihat pertunjukkan jathilan. Sebagai orang Sulawesi saya tidak memahami konflik apa yang terjadi di masyarakat tentang jathilan ini, ternyata setelah saya telusuri jathilan ini masih menjadi perdebatan antar warga sehingga ada yang mengizinkan anaknya ikut ada pula yang melarang anaknya untuk mengikuti latihan jathilan. Inilah salah satu tantangan kami dalam membangkitkan minta anak-anak untuk mengikuti kegiatan pelatihan kebudayaan.

    Jathilan adalah kesenian yang telah lama dikenal oleh Masyarakat Yogyakarta dan juga sebagian Jawa Tengah. Jathilan juga dikenal dengan nama kuda lumping, kuda kepang, ataupun jaran kepang. Kata kuda digunakan karena tarian jahitlan ini menggunakan properti kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu (kepang). Tarian ini dimulai dengan gerakan lemah-lembut dan seiring berjalannya waktu para penari akan menari dalam gerakan yang tidak beraturan ketika kesurupan. Hal inilah yang menjadi perdebatan, karena dianggap mistis oleh banyak orang. Namun ternyata menurut Mas.Asis, Koordinator program kebudayaan MI kami mengatakan bahwa hal ini bukanlah sesuatu yang mistis, gerakan-gerakan kesurupan yang ditampilkan oleh para penari hanyalah acting agar membuat tarian menjadi lebih menarik dan menghibur. Sesungguhnya tidak ada pelibatan makhluk asing di dalamnya, jadi hal inilah yang masih kurang dipahami oleh warga sekitar. Namun di luar dari itu anak-anak sebatang begitu antusias dalam mengikuti latihan, meskipun latihan dilakukan di bawah terik matahari di siang hari.

    Anak-anak Sebatang yang sedang latihan jathilan

    Satu hal yang membuat saya kagum dengan program MI dan program-program pengabdian lainnya di Indonesia, ternyata masih banyak anak negeri yang peduli dan ingin ambil bagian dalam pembangunan bangsa. Menjadi volunteer dalam berbagai pengabdian masyarakat, menyumbang buku, berdonasi untuk pendidikan, dan lainnya. Saya percaya jika Indonesia bisa lebih baik dengan semangat generasi mudanya.

     

    Penulis : Ary Utary Nur

    Comments

    comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: